Rabu, 09 November 2011

Hasil Perolehan Proses Pembelajaran Guru yang Positif akan Meningkatkan Profesionalisme


Hasil Perolehan Proses
Pembelajaran Guru yang Positif
akan Meningkatkan
Profesionalisme
 
Oleh 
Bambang Purnomo

KATA PENGANTAR
Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa karya tulis ini bisa tersusun. Hal ini terdorong oleh keinginan penulis untuk meningkatkan ke-profesional-kan sebagai seorang guru yang dituntut untuk mampu menyusun karya ilmiah yang merupakan rangkaian tugas demi kewajiban bagi profesi guru.
Karya tulis ini diberi judul : “Hasil Perolehan Proses Pembelajaran Guru yang Positif akan Meningkatkan Profesionalisme”, yang bertujuan untuk memberikan gambaran dan fenomena baru untuk meningkatkan motivasi bagi pembaca dan termasuk penulis itu sendiri.
Penulisan tak akan tersusun tanpa bantuan berbagai pihak. Dan hal ini penulis mengucapkan terima kasih atas semua bantuannya tanpa menyebutkan satu persatu.
Penulis menyadari karya tulis ini tersusun masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran-saran dan kritik sangat diharapkan bagi penyempurnaan karya tulis ini.
Terima kasih semoga bermanfaat.
BAB I
PENDAHULUAN
            Guru merupakan suatu profesi yang memerlukan para pelaku yang profesional. Profesional dalam hal ini guru dituntut untuk mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisa, dan menindak lanjuti apa yang sudah diperoleh dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
            Motivasi sangat diperlukan dalam meningkatkan profesionalisme guru. Salah satunya adalah mengetahui berapa besar perolehan dalam proses pembelajaran yang para guru di sekolah  lakukan. Usaha yang mendatangkan hasil umumnya bisa menimbulkan motivasi dalam bekerja. Dan tak akan ada motivasi yang tanpa harapan. Usaha yang penuh harapan akan meningkatkan kinerja yang berdampak positif terhadap peningkatan mutu dan hasil.
            Semakin guru tahu berapa besar perolehan proses pembelajarannya akan menimbulkan motivasi khusus bagi peningkatan profesionalisme guru tersebut.
            Belum banyak guru yang mengetahui berapa besar tingkat profesionalisme mereka. Dan bahkan untuk mengetahui dari sisi mana guru sudah dianggap profesional atau belum profesional. Memang sekarang sudah ada sertifikasi guru profesional tetapi sangatlah perlu untuk tetap dikembangkan profesionalisme guru-guru tersebut secara terus menerus sehingga dampat sertifikasi guru benar-benar dapat menunjukkan adanya perubahan ke hal yang lebih baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah pada khususnya dan kualitas pendidikan nasional cecara umum.
            Dari analisa kuisioner yang pernah penulis lakukan pada rekan sejawat  hasilnya sebagai berikut :
50% menyatakan tidak tahu data awal (N0) dan data perolehan  siswa setelah proses pembelajaran dilakukan.
15% menyatakan tidak tahu berapa prediksi nilai perolehan yang akan dicapai selama pembelajaran.
5% menyatakan tidak tahu untuk apa data pre-test activity (N0) itu diketahui..
20% menyatakan setuju bahwa tugas guru selain mengajar juga mendidik.
10% menyatakan tidak pernah merasa berhasil.
20% tahu bagaimana cara meningkatkan pendidikan di sekolah yang antara lain :
1.      Dengan giat melaksanakan proses kegiatan belajar dan mengajar.
2.      Melibatkan banyak faktor pendukung untuk meningkatkan mutu dan hasil.
3.      Melaksanakan visi dan misi sekolah serta meningkatkan profesionalisme (leader, guru dan karyawan di lingkungan sekolah).
4.      Meningkatkan motivasi dalam proses pembelajaran.
5.      Mengetahui berapa besar perolehan yang didapat dalam proses pembelajaran.





BAB II
PROFESIONALISME GURU

            Dari beberapa diskusi dengan guru-guru teman sejawat baik yang bermasa kerja kurang dari 5 tahun, 5 tahun, atau lebih dari 5 tahun bahkan ada yang lebih dari 10 tahun, 20 tahun bahkan 30 tahun. Dari guru tidak tetap (GTT), guru kontrak dan guru-guru yang sudah tetap ( pegawai negeri) ternyata bisa diambil kesimpulan bahwa sebagian besar guru-guru itu tidak mengetahui berapa besar nila awal (nilai pre-test activity/ N0) dan perolehan setelah mendapat pembelajaran (nilai post-test activity N1, N2, N3, dan seterusnya. Dengan kata lain berapa besar perolehan hasil pembelajaran yang sudah guru capai selama proses pembelajaran selama sampai dengan tengah semester 1 , sampai dengan satu semester, sampai dengan tengah semester 2, sampai dengan semester 2, sampai dengan 1 tahun , sampai dengan 2 tahun atau  sampai dengan 3 tahun.
            Sebelum melangkah hal-hal yang lebih lanjut mari kita bandingkan dengan ilustrasi sebagai berikut :
Sebuah pabrik yang melayani kebutuhan masyarakat. Pengelola pabrik itu pasti akan merencanakan berapa banyak hasil yang akan diproduksi, ke mana produksi itu akan didistribusikan, berapa hasil keuntungan yang akan diperoleh dalam satu tahun, setengah tahun atau satu tahun, bagaimana untuk meningkatkan hasil produksi baik kuantitas maupun kualitas, bagaimana untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju dan menambahkan jumlah keuntungan yang berdampak pada kebonafitan perusahaan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan semua karyawannya. Semua itu tidak lepas dari pengelolaan yang professional, yang didalamnya terdapat unsur merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, mengalisa dan menindak lanjuti hal-hal demi kemajuan perusahaan.
            Kembali kepada topik pokok permasalahan kita sebagai guru dan atau kepala sekolah, sudahkan kita melaksanakan seperti apa yang suatu pabrik laksanakan walaupun tidak dapat disamakan secara keseluruhan. Kalau belum artinya kita belum melaksanakan profesi guru dengan professional. Sebenarnya kita sudah melaksanakan banyak hal dalam melaksanakan profesi keguruan seperti yang sudah kita lakukan diatas anatara lain : merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisa dan bahkan menindak lanjuti proses pembelajaran kita, hanya saja selama ini banyak yang belum mengetahui berapa besar perolrhan yang kita peroleh dalam proses pembelajaran itu. Keprofesionalan kita terkurangi karena perolehan kita tidak bisa kita ketahui sehingga prediksi perolehan kita tidak bisa diperkirakan. Untuk itu masih banyak hal yang perlu kita kerjakan untuk melengkapi tingkat profesionalisme kita sebagai guru.
            Memang sudah banyak yang meneliti tentang data input-output 5 mata pelajaran yaitu PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS. Mareka  mengambil input dari  Danem SD yang pada waktu itu masih ada Ebtanas bagi SD dan nilai UASBN yang baru tahun 2007 dilaksanakan oleh pemerintah dengan melibatkan BSNP, tetapi hasil penelitian itu sangat kecil pengaruhnya bagi peningkatan motivasi guru dalam proses pembelajaran dalam menuju guru yang professional. Hal ini disebabkan karena hampir semua penelitian tentang hal ini sedikit sekali peneliti yang menyatakan bahwa output SLTP lebih tinggi dari input SD bahkan hasilnya cenderung negatif. Dan juga ada beberapa mapel  yang di Sekolah Menengah Pertama ada tetapi di Sekolah Dasar belum ada. Proses pembelajaran yang hasilnya negatif bisa dikatakan gagal, padahal proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan selama kurun waktu kurang lebih 3 tahun nyatanya paserta didik sudah mengalami proses pembelajaran antara lain :peserta didik yang belum bisa menjadi bias, peserta didik yang belum tahu menjadi tahu, peserta didik yang belum terampil menjadi terampil, peserta didik yang belum dewasa menjadi dewasa. Dan pada dasarnya mereka selama pembelajaran sudah mengalami perubahan-perubahan dibandingkan dengan sebelum adanya pembelajaran. Dengan hasil yang selalu negatif dan prediksinya hanya prediksi untuk memperkecil nilai minus. Dari hasil ini sedikit sekali guru yang berani menyatakan bahwa proses belajar-mengajar yang dilakukan mereka sudah berhasil. Dengan tidak berani menyatakan bahwa proses pembelajaran itu berhasil apalagi untuk menyatakan dirinya itu sudah profesional ini perlu dipertanyakan, karena menurut ketentuan  keberhasilan atau kegagalan dinyatakan sebagai sebagai berikut :
  1. jika hasil perolehan proses pembelajaran < 0, berarti proses pembelajaran dianggap gagal.
  2. jika hasil perolehan proses pembelajaran = 0, berarti proses pembelajaran dianggap belum memberikan adanya perubahan.
  3. jika hasil perolehan proses pembelajaran > 0, berarti proses pembelajaran dianggap berhasil.
            Jika proses pembelajaran selalu hasilnya minus bahkan prediksipun hasilnya tidak pernah > dari pada 0, maka akan dan sudah menimbulkan beban psikologis yang berdampak pada keputusasaan dan tidak dapat membangkitkan  motivasi dalam meningkatan guru yang profesional. Guru yang profesional itu guru yang mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, mengalisa, menindak lanjuti hasil analisa, evaluasi dan  mengetahui berapa besar perolehan pembelajaran yang telah dilaksanakan minimalnya dalam 1 semester  atau 1 tahun pembelajaran. Dengan mengetahui berapa besar hasil pembelajaran itu baik negatif, 0 atau positif akan meningkatkan motivasi khususnya bagi guru untuk meningktakan profesionalisme , yang berdampak pada meningkanya keprofesionalan dari guru tersebut, karena proses pembelajaran mereka ternyata berhasil. Walaupun, tingkat keberhasilannya sangat bervariasi, semakin nilai positifnya semakin besar berkorelasi positif terhadap meningkatnya motivasi.










BAB III
PEROLEHAN HASIL PROSES PEMBELAJARAN

            Danem SD pernah ada, pernah tidak ada dan sekarang ada daftar nilai UASBN, artinya nilau input bagi peserta didik di tingkat SLTP bisa kita dapatkan dari nilai SD tetapi tidak semua mapel di SMP dapat mengambil data dari nilai UASBN. Hal ini merupakan hal yang perlu diupayakan agar mata pelajaraan yang belum ada di UASBN data nilai awal siswa dapat diketahui. Untuk mencari bagaimana mendapatkan nilai pre-test activity (N0) bagi peserta didik yang nantinya bisa dijadikan sebagai nilai awal bagi peserta didik sebelum memperoleh pembelajaran. Dan selanjutnya digunakan untuk mengetahui  perolehan hasil pembelajaran selama kurun waktu setengah semester, satu semester atau satu tahun bahkan tiga tahun pembelajaran caranya sebagai berikut :
  1. mengetahui data pre-test activity (N0)
  2. mengetahui data perolahan hasil pembelajaran/ post-test activity (N1)
  3. memilih alat test
  4. menentukan kapan test dilaksanakan
  5. mengalisa hasil test

1. Mengetahui Data Pre-Test Activity (N0)
            Data pre-test activity (N0) dapat diperoleh dari pre-test pada awal sebelum suatu proses pembelajaran dilaksanakan dengan berapa banyak pembelajaran yang diinginkan. Tentang berapa jumlah yang di pre-test kan terganutng komponen apa saja yang akan atau ingin diketahui, kurun waktu, input individual, klasikal atau sekolah. Kalau kita akan mengetahui input individual dan klasikal cukup mengadakan pre-test untuk masing-masing kelas atau kelas paralel, tetapi jika kita ingin memperoleh data input sekolah kita perlu waktu minimal 3 tahun untuk siswa SMP yaitu proses peserta didik awal duduk di kelas 7 sebelum ada proses pembelajaran.

2. Mengetahui Data Post-Test Activity (N1)
            Data post-test activity (N1) diperoleh dari post-test setelah dilakukan pembelajaran. Soal tes yang digunakan sebaiknya  sama atau sejenis dengan soal waktu pre-test untuk orang yang sama, hanya saja waktunya yang berbeda, tergantung pada kurun waktu yang ingin diketahui dan berapa banyak cakupan materi yang akan diberikan selama kurun waktu ini. Misalnya :
a. Materi untuk satu KD atau beberapa KD untuk mengetahui perolehan berupa hasil ulangan harian.
b. Materi selama setengah semester untuk memperoleh hasil pembelajaran dalam waktu setengah semester.
c. Kurun waktu satu semester dan materi satu semester akan diperoleh hasil pembelajaran selama satu semester bagi mata pelajaran dan guru tersebut.
d. Kurun waktu satu tahun dan materi satu tahun akan diperolah hasil pembelajaran selama satu tahun bagi mata pelajaran dan guru tersebut.
e. Kurun waktu tiga tahun dari materi tiga tahun akan diperoleh hasil pembelajaran selama tiga tahun bagi mata pelajaran dari satu orang guru atau beberapa guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Untuk memperoleh hasil pembelajaran dalam satu semester atau satu tahun untuk mata pelaran tertentu bisa diperoleh oleh seorang guru secara individu tetapi untuk memperoleh hasil pembelajaran sekolah untuk mata pembelajaran tertentu perlu kerjasama dengan guru lain yang sama mata pelajarannya, misalnya pre-test activity dilakukan oleh guru kelas 7 dengan materi yang mencangkup bahan kelas 7, 8 dan 9 dan akan di-post-test activity-kan pada akhir tahun ke tiga pada saat siswa tersebut sudah duduk di kelas 9 semester 2.

3. Memilih Alat Test
            Pembuatan atau pemilihan  alan tes sebaiknya memperhatikan antara lain: cakupan materi harus diketahui dengan pasti. Materi untuk 1 semester, 1 tahun, atau 3 tahun, penyusunan alat tes perlu menggunakan prosedur yang benar sehingga cakupan materi, waktu dan tujuan pembelajaran bisa terukur dan memenuhi kriteria alat tes yang baik. Alat tes yang baik alat tes yang valid dan reliabel.

a. Reliabilitas
            Pengertian reliabilitas adalah suatu alat ukur untuk mengukur yang seharusnya diukur. Suatu alat dikatakan realibel jika alat tersebut menghasilakan suatu gambaran atau hasil pengukuran yang benar-benar dapat dipercaya. Dengan demikian alat pengukur itu dapat diandalkan untuk membuat hasil pengukuran atau alat tes reliabel, maka pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dengan melalui alat yang sama tentang obyek dan subyek yang sama hasilnya akan tetap atau relatif sama jika subyek tersebut belum mendapat proses pembelajaran.
Ada tiga cara untuk menghitung reliabilitas suatu test yaitu: pengulangan pengukuran dengan alat yang sama, pengujian dengan alat ukur atau alat tes yang sama.dan dengan membagi suatu alat ukur menjadi dua bagian yang seimbang.

      1. Reliabilitas Pengukuran Ulang
      Dari hasil langkah ini akan didapat hasil pengukuran yang dapat diandalkan karena mengulangi pengukuran tersebut dengan tes yang sama sehingga hasil korelasi pengukuran yang pertama dan kedua hasilnya akan menunjukkan reliabel. Jenis ini hanya saja proses pengukuran kedua harus benar-benar tetap sama.

      2. Reliabilitas Pengukuran Setara
      Jika tes alat ukur yang setara dimiliki, maka kedua tes tersebut dapat diberikan terhadap subyek yang sama. Pengukuran ini dapat diberikan pada waktu yang berurutan atau pada waktu pengukuran tersebut subyek harus dalam keadaan dan kesiapan yang relatif sama, selanjutnya korelasi antara hasil kedua tes itu akan memberikan keadaan reliabilitas jenis ini.


      3. Reliabilitas Belah Dua
      Prosedur perhitungan yang paling sering digunakan adalah dengan penyelenggaraan sekali tes yang hasilnya untuk memperkirakan reliabilitas tes Caranya adalah dengan membagi tes yang digunakan menjadi dua dan hasil pada masing-masing bagian dikorelasikan satu sama lain.
      Pemecahan tes itu dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan nomor ganjil pada bagian pertama dan nomor genap pada bagian yang kedua. Pemecahan soal-soal seperti ini hanya dilaksanakan pada waktu pemeriksaan dan tidak pada waktu penyajian pada peserta test. Melaui cara ini dengan sekali test diperoleh hasil test ini akan menunjukkan reliabilitas test tersebut. (Ditjen Pendidikan Tinggi Departemen P dan K, 1983, Evaluasi Belajar, 34-35).


b. Validitas
      Pengertian validitas adalah suatu alat tes dapat dikatakan valid jika alat tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya untuk mengukur suhu tubuh manusia dipakai termometer badan, untuk mengukur panjang suatu benda kita menggunakan meteran, untuk mengukur kecepatan kendaraan kita gunakan speedometer dan untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris baik teori maupun praktek digunakan tes bahasa Inggris yang setingkat dengan kemampuan subyek yang hendak diukur. Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu tes untuk mata pelajaran tertentu dikatakan valid jika tes tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan untuk dicapai dengan pengujian mata pelajaran tersebut.
      Ada dua hal  timbul sewaktu kita akan mengetahui ke-validitas-an suatu tes, yaitu (1) Apakah yang secara tepat diukur oleh tes tersebut? Dan (2) Bagaimana baiknya tes tersebut mengukur hal itu?. Jika tes tersebut berdasarkan analisis yang tepat mengenai skill yang hendak diukur, dan jika ada bukti yang cukup bahwa skor tes berkorelasi cukup tinggi dengan kemampuan yang sebenarnya dalam bidang skill yang hendak diukur, maka dengan lega dapatlah dinyatakan bahwa tes tersebut valid. 
Ada 3 Jenis Validitas yang umum :
1. Validitas isi
      Jika suatu tes dirancang untuk mengukur penguasaan suatu skill khusus atau isi suatu mata pelajaran, maka tes tersebut seharusnya didasarkan pada analisis yang cermat mengenai skill tersebut atau pada ringkasan mata pelajaran yang dimaksud, dari butir-butir tes itu harus mewakili dengan baik masing-masing bagian analisis atau ringkasan tersebut. Misalnya, jika suatu tes dimaksudkan untuk mengukur penguasaan siswa mengenai tes tertulis bahasa Inggris khususnya kemampuan membaca (reading comprehension) bukan membaca keras (reading loudly), maka mula-mula harus diadakan analisis mengenai berbagai macam kemampuan membaca, penyebaran jenis teks, thema dengan kosakata yang berkesesuaian dengan kelompok belajar peserta didik, ranah kognitif dan tingkat kesukaran yang berimbang, serta jumlah soal yang bersesuaian denagn waktu yang tersedia. Bila tes yang disusun telah mencerminkan analisis dalam ketentuan-ketentuan tersebut, maka tes itu telah memiliki validitas isi. Janganlah memilih tes hanya memperhatikan judul yang disajikan oleh pembuat tes, sebab seringlah judul tersebut tidak sesuai dengan isinya.

2. Validitas Konsep atau Kontruksi
      Validitas konsep atau kontruksi bisa dijelaskan dengan suatu contoh : misalnya untuk kelas 9 SMP disusun tes tentang reading  comprehensions. Dalam hal ini pembuat tes harus memahami benar pengertian mengenai Reading Comprehension yang dimaksud. Selanjutnya pembuat tes itu harus mengetahui perilaku-perilaku siswa yang diharapkan dalam hubungannya dengan kemampuan dalam Reading Comprehension.
      Bila tes tersebut dapat mengukur dengan baik perilaku siswa yang menunjukkan bahwa siswa itu mempunyai kemampuan yang mantap dalam Reading Comprehension, maka dapatlah dinyatakan bahwa tes tersebut memiliki validitas konsep atau kontruksi. Perilaku siswa menunjukkan bahwa dia mempunyai kemampuan dalam Reading Comprehension itu, antara lain, adalah memahami dan mengetahui semua fakta yang tersurat dan memahami dan mengetahui segala fakta baik yang tersurat maupun yang tersirat.

3. Validitas Muka
      Disamping memiliki isi dan konsep, tes harus memiliki validas muka. Misalnya jika tes tersebut mempunyai bentuk dan muka atau penampilan yang meyakinkan bagi orang lain  yang berkepentingan dengan penggunaan ter tersebut. Validitas ini merupakan ciri suatu tes yang cukup penting, namun kedua validitas tersebut tidak boleh diabaikan karena ketiganya sering dipentingkan.

c. Kepraktisan tes
      Kepraktisan tes adalah hal penting lain yang harus dimiliki oleh suatu tes yang baik. Apalah artinya suatu tes yang mungkin sekali sangat andal dan sangat sahih, tetapi tes itu diluar jangkauan dari kemampuan siswa. Oleh sebab itu dalam menyiapkan suatu tes baru atau pemilihan dari tes yang tersedia, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.)    Penghematan
      Kita ketahui bersama bahwa pengetesan kemampuan berbahasa umumnya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagai contoh, ketika suatu tes standar digunakan tentu biayanya tidak murah, sehingga hal itu sangat memberatkan lembaga pendidikan yang bersangkutan juga penentuan orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan tes sangat mempengaruhi biaya tes.
      Misalnya semua ketrampilan berbahasa Inggris baik tertulis maupun lisan (praktek) dilaksanakan seluruhnya kita menghadpai banyak hal yang perlu disiapkan dengan tes untuk masing-masing ketrampilan bebahasa anatara lain :
a.) Reading Skill (Ketrampilan Membaca)
      Mencakup tes tertulis dan tes lisan (Praktek). Tes tertulis sudah dilaksanakan seperti, ujian semester, ujian nasional (tertulis). Tes lisan atu praktek perlu adanya alat tes mengukur misalnya membaca keras, sekaligus mengetes yang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Berapa lama, berapa waktu dan berapa biaya. Berdasarkan kurikulum berbasis Kompetensi mau tidak mau, mampu tidak mampu semua komponen pembelajaran berbahasa Inggris harus mengarah ke sana.

b.) Speaking Skill (Kemampuan berbicara)
      Dalam hal ini kita  memerlukan alat atau pengetes yang memilki kemampuan dalam hal tersebut. Kegiatan ini melibatkan berapa banyak pengetes, berapa banyak waktu yang diperlukan, dan juga tentu berapa besar biayanya.

c.) Listening Skill( Kemampuan mendengar)
      Belum banyak tes listening di teskan di SMP. Hal ini dikarenakan belum banyak dan tersedianya alat tes listening yang sesuai dengan jenjang tersebut. Dalam pembuatannya memerlukan proses yang panjang dan melibatkan banyak orang serta sarana prasarana yang harus dipersiapkan. Misalnya, untuk pembuatan alat tes listening kita memerlukan materi isi soal yang hampir sama dengan soal reading tertulis. Hanya saja teks listening disajikan dalam bentuk audio sedangkan tes reading tertulis dalam bentuk tulisan yang menjadi satu kesatuan yang tak terpisah antara soal, pertanyaan dan jawaban. Misal : soal listening dalam bnetuk pilihan ganda, pembuat tes harus memisahkan antara teks dan pertanyaan dengan jawaban yang disediakan. Untuk membuat option jawaban mungkin tidak terlalu menyiapkan soal dalam menyimak melibatkan banyak unsur antara lain : pembaca teks, pemeran dialogue, pembaca pertanyaan yang dikemas dalam suatu pita tape recorder atau keping CD dalam bentuk lisan. Itu baru dalam pembuatannya, untuk pelaksanaannya kita memerlukan sarana-prasarana anatara lain, tape recorder beserta kaset sebanyak kelas paralel yang ada. Agar pelaksanaan tes bisa bersamaan dan menghindari kebocoran, memerlukan tenaga listrik pengawas yang sekaligus dapat mengoperasikan alat tersebut, dan juga mempersiapkan tegangan untuk mengoperasikan alat tersebut.

            d. Writing Skill (Kemampuan Menulis)
                  Agaknya kemampuan menulis ini memiliki peringkat ke-2 setelah keterampilan membaca (tertulis) dalam segi kemudahan, efisien serta efektivitas dalam pelaksanaan pengetesannya. Karena kegiatan ini bisa dilaksanakan secara klasial, alat tesnya cenderung lebih pendek dibanding alat tes membaca di atas. Hanya saja memang harus jelas kriteria kompetensi yang diharapkan dari keterampilan menulis harus jelas sehingga tingkat obyektivitasnya bisa dipertanggung jawabkan walaupun tes menulis itu merupakan tes yang bersifat subyektif.



2.      Kemudahan dalam Pengadministrasian
      Ada beberapa faktor untuk mempermudah dalam pengadministrasian suatu tes adalah :
a) Petunjuk-petunjuk yang mudah dan lengkap
b) Alokasi waktu yang tepat
c) Penyusunan dan penulisan tes

      3.   Kemudahan dalam Penginterprestasian
                  Angka yang diperoleh suatu tes dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Untuk itu angka itu harus diinterprestasikan sehingga memiliki makna. Tes buatan guru, guru yang membuat tes itu diharapakan telah mampu menyediakan perhitungan-perhitungan statistik yang diperlukan untuk mengolah angka-angka yang didapat dengan tes baku, biasanya penyusun tes telah menyediakan berbagai keterangan dan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menginterprestasikan angka-angka yang diperoleh dari tes tersebut.

4.      Menentukan Kapan Pelaksanaan Tes dilaksanakan
            Karena dalam hak ini ingin memperoleh data input dan output maka, pre-test activity dilaksanakan pada awal kapan pembelajaran akan dilaksanakan. Hasil tes tersebut kita jadikan nilai input bagi kita sedangkan output / nilai post-test activity dilaksanakan kapan suatu pembelajaran itu telah selesai dilaksanakan. Hal ini tergantung keperluan keperluan, tergantung berapa banyak dan berapa lama pembelajaran itu terjadi misalnya : pada tengah semester 1 dan 2, akhir semester 1, akhir semester 2 (masing-masing kelas paralel) atau akhir semester 2 kelas 9 untuk keperluan hasil proses pembelajaran selama tiga tahun. Untuk jelasnya disampaikan dalam tabel di bawah ini:



No
Pre-test act
Post-test act
Keterangan
1
Awal semester 1
Tengah
Semster 1
Untuk mengetahui proses pembelajaran selama setengah semester
2
Awal semester 1
Akhir sem. 1
Untuk mengetahui proses pembelajaran semester 1
3
Awal semester 1
Akhir sem. 2
Untuk mengetahui proses pembelajaran semester 2
4
Awal semester 1
Akhir sem.2
Untuk mengetahui proses pembelajaran selama 1 tahun
5
Awal semester  1 kelas 1
Akhir sem. 2 kelas 3
Untuk mengetahui proses pembelajaran selama 3 tahun

            Hasil pre-test activity (N0) digunakan sebagai angka input bagi peserta didik, sedangkan angka post-test activity (TT) digunakan untuk mengetahui perolehan proses pembelajaran yang akan dicapai. Hasil (T1-T1) merupakan volume besarnya proses pembelajaran yang didapat dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan perolehan pembelajaran yang sesungguhnya adalah hasil tes sesungguhnya (N1) dikurangi dengan pre-test activity (N0) perolehan proses pembelajaran yang sesungguhnya adalah (N1-N0) = Hasil perolehan proses pembelajaran. Dari proses pembelajaran yang dimaksud menurut keperluan proses pembelajaran yang mana yang akan kita ukur.

  1. Menganalisa hasil test
            Langkah ini sangat diperlukan untuk memperoleh data yang akurat dan riil sehingga hasilnya diharapkan akan menunjukkan besarnya hasil perolehan proses pembelajaran. Disini diberikan beberapa data input serta output (prediksi) nilai bahasa Inggris tertulis dari 3 macam alat test. Pada 5 kelas paralel dari kelas IIIA, IIIB, IIIC, IIID dan IIIE semester 2 sebuah Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten kebumen tahun pelajaran 2002/2003. Alat tes ini diambil dari soal-soal EBTANAS DAN UANNAS Bahasa Inggris tertulis sebagai berikut :

No
Kode soal
Tahun
Kls
Waktu
Ket.
Pretest
Postest
1

2

3

4

5
P1

P2

P3

P4

P5
2001/2002

2000/2001

2000/2001

2001/2002

1999/2000
IIIA

IIIB

IIIC

IIID

IIIE
11/11/2002

12/11/2002

12/11/2002

11/12/2002

13/11/2002
23/04/2003

02/05/2003

07/05/2003

05/05/2003

22/04/2003
Untuk mengetahui pembelajaran selama semester 2 tahun 2002/2003

Sda
Sda
Sda


      Prediksi Hasil Pembelajaran Selama Semester 2 Kelas III SLTPN 2 Gombong Tahun Pelajaran 2002/2003.
a.) Individual        :Lihat hasil T2-T1 pada lampiaran ka a tulis ini.
b.) Klasial              :
      III A                : 1,39
      III B                : 0,37
      III C                :1,84
      III D                :1,35
      III E                :0,49
c.)  Sekolah
BAB IV
PENUTUP

            Hasil analisa data yang ada merupakan sumber / pedoman untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Dan hasil tersebut merupakan umpan balik bagi guru untuk melaksanakan kegiatan ke arah yang lebih. Dari hasil yang ada dapat juga untuk memotivasi bagi guru itu sendiri baik keberhasilan maupun kegagalan, karena perolehan dari pembelajaran yang mereka peroleh dari pembelajaran yang mereka lakukan bisa diketahui dengan jelas sehingga apapun hasilnya itulah hasil yang kita peroleh. Sebaiknya kita sebagai guru lebih baik menerima kegagalan itu dan tidak mencari kegagalan karena pihak lain. Misalnya unsur siswa, unsur keadaan, ekonomi, unsur lokasi dan lain sebagainya yang kadang dijadikan kambing hitam atas kegagalan kita. Dari kegagalan ini dijadikan motivasi untuk melangkah ke proses pembelajaran yang lebih baik. Dan pada akhirnya dapat berhasil dan selalu meningkatkan angka keberhasilannya. Semakin besar angka perolehan dalam pembelajaran semakin besar tingkat keberhasilan kita. Dengan kata lain kita menjadi guru yang profesional. Karena kita sudah memenuhi langkah-langkah profesional yaitu merencanakan, program, melaksanakan program, mengevaluasi program, menganalisa program dan menindak lanjuti analisis dengan tahu persis berapa angka perolehan atau hasil pembelajaran yang telah kita kerjakan.


           

 
DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Depdikbud, Jakarta:Balai Pustaka, 1995.
Djarwanto PS, S.E. Pokok-Pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Skripsi. Yogyakarta:Liberti Yogyakarta, 2000.
Drs. Andreas Priyono, Dipl, Arts,M.Sc.Ed. dan Dras. H. Djunaedi. Petunjuk Praktis!Classroom Based Action Reseach. Semarang:Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng, 2001.
DR. Soekemi, M.A. Kedudukan Evaluasi Dalam Pengajaran Bahasa Inggris dan Sifat-Sifat tes yang digunakan, Jakarta:Universitas Terbuka, 1999.
Tim Instruktur Propinsi Jawa Tengah. Pedoman Penyusunan Karya Tulis ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru, Semarang:Proyek Perluasan SLTP, Propinsi Jawa Tengah, 1995.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar