Rabu, 09 November 2011

WACANA INTERPESONAL UNTUK MENINGKATKAN IMTAQ DAN MEMPERLANCAR TRANSFER IPTEK


WACANA INTERPESONAL UNTUK MENINGKATKAN IMTAQ
DAN
MEMPERLANCAR TRANSFER IPTEK

Oleh:
Bambang Purnomo
 
ABSTRAK

 Bambang Purnomo. 2006. Wacana Interpesonal untuk Meningkatkan Imtaq dan Memperlancar Tranfer Iptek..Makalah. Kebumen: SMP Negeri 2 Gombong.

            Era globalisasi sudah mulai terasa di negeri ini, Indonesia tercinta, kita sebagai bangsa Indonesia harus hati-hati dalam menyikapi perubahan yang sangat komprehensif dan tanpa batas. Kekuatan hati dalam bersikap merupakan hal yang harus dimilki oleh bangsa ini sehingga arus glogalisasi semaksimal mungkin kita ambil manfaatnya. Agar keputusan yang diambil itu berdampak positif tentu kita harus memiliki filter-filter dalam diri sehingga kita bisa memilih dan memilah mana yang baik, mana yang tidak baik , mana yang bermanfaat, mana yang tidak bermanfaat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat.
            Kenyataan masyarakat  yang ada sekarang ini juga begitu majemuk dan beragam baik dalam pola hidup, pandangan hidup maupun, tujuan hidup mereka. Semua hal yang beragam tersebut sedapat mungkin bisa menjadikan nilai positif dalam rangka menjadikan Negara Indonesia tercinta tetap berjaya dan diperhitungkan dalam kehidupan International. Hal mini memerlukan individu-individu yang tangguh, tanggap dan bertanggung jawab kepada apa yang harus atau tidak harus dilakukan sehingga langkah yang diambil dapat mebuahkan hasil seperti yang diinginkan yaitu terbentuknya masyarakat yang madani dan individu-individu yang memiliki akhlak mulia, sopan, santun, dan selalu melakukan hal yang bermanfaat dalam hubungannya dengan sesama makhluk diplanet bumi ini. Selain hal tersebut Iman dan Taqwa merupakan filter yang paling kuat untuk menangkal semua itu.
            Wacana Interpesonal adalah salah satu wacana yang dapat memperlancar seseorang dalam berhubungan dengan sesama makhluk sehingga seseorang dalam hubungan horisontal dengan manusia lain perlu untuk mengetahui ungkapan apa yang harus digunakan sehingga seseorang itu menjadi orang yang sopan, santun dan berterima. Semua bahasa memiliki wacana interpersonal tersebut hanya saja sebagian dari kita tidak mempedulikannya karena mereka menganggap bahwa hal itu hanya merupakan ungkapan sepele dan pendek. Tidak digunakannya wacana interpesonal dengan baik dan benar sesuai dengan konteks situasi dan budaya menjadikan seseorang dikatakan orang yang tidak sopan, tidak santun dan bahkan dapat menyebabkan malapetaka yang dapat kita lihat dalam berita-berita di layar televisi. Demikianpula Bahasa Inggris juga memiliki wacana tersebut dalam hubungannya dengan sesama manusia. Karena Bahasa Inggris merupakan bahasa International dan hampir kebanyakan ilmu pengetahuan disampaikan dalam bahasa Bahasa Inggris baik secara lisan maupun tertulis sehingga untuk memperlancar tranfer ilmu pengetahuan dan teknologi kita harus menguasai ungkapan-ungkapan tersebut sehingga tidak ada hambatan dalam berhubungan dengan sesama manusia dalam memperluas ibadah kita selama hidup di dunia. Dan semua ini dilakukan karena Allah SWT. semata. Amin.   
”Dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan?
                        Q.S. Surat Adz Dzariyat ( Angin yang menebarkan ) Ayat 21.

BAB I

PENDAHULLUAN


            Dalam dunia global yang sudah terasa hembusannya dinegara kita Indonesia tercinta, siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, tetap saja globalisasi akan mendera negeri ini. Kecerdasan menghadapi kehidupan sosial dalam berhubungan dengan masyarakat internasional harus bangsa miliki, kalau bangsa ini tidak mau jadi penonton. Untuk itu bagaimana kita menghadapai situasi tersebut, salah satu yang sangat penting adalah alat komunikasi. Media komunikasi yang paling bisa diterima adalah melalui bahasa. Bahasa Inggris adalah bahasa yang sudah diakui dunia internasional sebagai bahasa Internasional. Untuk itu keberadaan suatu bangsa juga dipengaruhi oleh sejauh mana bangsa ini menguasai bahasa Internasional untuk mengimbangi pertumbuhan dunia global ini.
            Kembali pada fitrah manusia yang oleh TuhanNya telah dikaruniai berbagai kecerdasan, antara lain: Kecerdasan Akal (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Kecerdasan Akal adalah kecerdasan yang sudah lama kita ketahui yang pada waktu itu diyakini bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh IQ tersebut. Muncul berikutnya Kecerdasan Emosional (EQ) dikatakan bahwa   keberhasilan tidaklah cukup hanya IQ yang tinggi tetapi dipengaruhi juga oleh EQ. Belakangan ini banyaklah orang yang tidak habis-habis dalam pencarian tentang diri sendiri. Dan munculah SQ yang diharapkan dapat digunakan oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya untuk mencari keseimbangn hidup selama di dunia dan di akhirat kelak.
            Sehubungan dengan bagaimana kita menyikapi tentang dunia yang global ini mau tidak mau, suka tidak suka, bangsa ini harus dapat menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulis. Kita lihat bahasa sebagaimana sisi baiknya, kegunannya, dan sebagai alat untuk memperlancar komunikasi antar manusia yang hidup diatas planet bumi ini sehingga kita bisa saling berhubungan, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa prasangka dan saling terbuka.
            ”Hai orang-orang yang beriman! Janganlah terlalu banyak sangka menyangka. Sungguh, sebagian persangkaan adalah dosa. Janganlah saling memata-matai, dan janganlah saling memfitnah...”
                                                - Q.S. 49 Surat Al Hujarat (Bilik-bilik) Ayat 12-
            Situasi yang seperti sekarang ini perlu dicermati dengan seksama dan hati-hati. Menguasai bahasa asing memang memiliki nilai tambah dan positif. Kita tahu tentang bahasa dan budaya asing memang perlu karena bahasa muncul karena hasil budaya dan adanya konteks situasi siapa, dimana dan jalur komunikasi apa yang digunakan. Tanpa mengetahui hal itu penguasaan terhadap bahasa tertentu kuranglah lengkap dan komprehensif. Untuk itu bangsa ini perlu mengetahui ungkapan-ungkapan dari bahasa yang akan kita gunakan agar kita tidak terasa asing dan berterima dalam menggunakan bahasa tersebut. Misalnya kita ingin berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, kita harus tahu wacana yang sesuai dengan situasi dan konteks bahasa itu digunakan .
Nabi Muhammad SAW mengingatkan:
               ”Janganlah kamu berdiri seperti orang-orang asing yang mau saling diagungkan.”

            Kedudukan manusia dihadapan Tuhan adalan sama, untuk menjadikan kita sama dalam hubungan international bangsa ini harus menguasai bahasa Internasional yaitu Bahasa Inggris. Tanpa menguasai bahasa tersebut niscaya bangsa ini sulit untuk mendapatkan kedudukan yang sama dimuka bumi ini karena akan terhambat dengan hubungan antar manusia. Dengan terhambatnya hubungan antar manusia menyebabkan bangsa ini terkucil dan tidak dianggap keberadaannya di muka bumi ini. Untuk itu bangsa ini perlu memperhatikan piranti-piranti apa yang dibutuhkan agar bangsa yang beradab ini bisa ambil bagian dikancah dunia internasional. Sekarangpun sudah banyak hal-hal yang dapat berbicara dalam tataran dunia internasional tetapi semakin banyak semakin baik untuk menjadikan bangsa Indonesia ini jaya.
            ”Dan juga dalam dirimu. Apakah tiada kamu perhatikan?
                        Q.S. Surat Adz Dzariyat ( Angin yang menebarkan ) Ayat 21.
Salah satu yang diperlukan dalam dunia Internasional dalam penggunaan Bahasa Inggris adalah Bagaimana Kita bisa menggunakan wacana interpesonal dalam Bahasa Inggris. Dengan semakin baik kita menggunakanya maka kesantunan kita dalam menggunakan bahasa tersebut semakin baik. Wacana interpesonal sebenanra tidak banyak tetapi intensitas pemakaianya sangatlah tinggi. Untuk itu penguasaan wacana tersebut dalam penggunaannya sangatlah penting karena dapat juga untuk mengetahui tingkat kesantunan pemakainya. Dengan kesantunan tersebut hambatan dalam berkomunikasi, bersilahturahmi sesama umat manusia sekecil mungkin dapat dihindari. Dengan lancarnya komunikasi dan silahturahmi manusia dimuka bumi ini insyaallah malapetaka dimuka bumi ini dapat dicegah atau dihindari.
”Hai sekalian manusia, takutlah kamu kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu dan menjadikan isteri dari padanya: dan darpada keduanya berkembang-biak laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan takutlah kepada Allah yang meminta kamu  dengan namaNya, dan (takutlah akan memutuskan) silaturahmi. Sesungguhnya Allah mengawasi kamu”.

                        Q.S. Surat An-Nisa (Perempuan-perempuan) Ayat 1

Dengan begitu pentingnya hubungan interpersonal antar umat manusia maka saya angkat dalam makalah ini pembelajaran wacana interpesonal Bahasa Inggris dengan tujuan agar bangsa ini dapat santun dalam hubungan antar bangsa untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.











BAB II
PEMBAHASAN

A. Materi
            Materi pembelajaran yang disampaikan adalah wacana interpersonal (wacana untuk berbasa-basi).  Wacana ini digunakan seseorang dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Wacara tersebut sangat penting karena dari penggunaan wacana interpesonal tersebut orang akan bisa menilai orang itu santun atau tidak. Sebelum masuk pada materi sesungguhnya saya mempunyai ilustrasi yang nantinya dapat sebagai pembanding karena pada hakekatnya setiap bahasa memiliki wacana interpersonal.
 ’Pada suatu sore dissebuah gang duduk-duduk beberapa oarng tua yang sedang berbincang-bincang tentang suatu hal. Pada saat itu lewat seorang  pemuda dengan gayannya yang urakan tanpa peduli terhadap apa yang sedang ia lewati. Tidak selang lima menit lewat seorang gadis dengan lemah gemulai dia berkata:” Permisi, selamat sore” diikuti dengan senyum manisnya’.

Dari ilustrasi tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda tersebut tidak sopan/santu sedangkan gadis itu karena dapat menggunakan wacana interpesonal dengan baik maka orang mengatakan gadis itu sopan/santun. Sebenarnya tidaklah banyak yang sudah gadis tersebut perbuat hanya beberapa kata saja tetapu dapat mengubah statusnya menjadi gadis yang sopan/santu.
Ada juga ilustrasi lain, hanya karena tidak menggunakan wacana intepersonal dengan baik terjadilah perkelahian antar warga. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:
’Pada suatu siang bergerombol beberapa pemuda dibawah pohon mangga yang besar dan rindang. Pohon tersebut kebetulan dipinggir jalan. Siang itu lewat pemuda dengan sepeda bututnya sebut saja namanya Z. Z adalah pemuda sebelah desa yang dari perangainya memang dikenal agak ugal-ugalan. Ketika dia melewati Gerombolan pemuda yang sedang bercanda, kebetulan Si Z melihat salah seorang pemuda itu tanpa senyum dengan mata melotot tajam. Akhirnya pemuda itu menunjukkan isyarat tinju dengan memukulkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri. Kemudian si Z juga tidak tinggal diam dia meludah persis didekat pemuda tersebut. Selanjutnya Pemuda itu menarik sepeda dan memukulnya si Z. Karena si Z sendiri maka dia tidak berani dan dia pulang lalu memberi tahu pada teman-temannya bahwa dia telah dipukul oleh pemuda sebelah desa. Maka selanjutnya terjadilah perkelahian antar kampung yang berakibat sangat fatal dan merenggut korbat jiwa’.   

            Kalau kita renungkan sebenarnya perkelahian tersebut dari masalah yang sepertinya sepele dan ringan tapi itulah dampaknya. Kalau saja si Z pada waktu lewat dengan muka sejuk, senyum dan menyapa denngan ”Hai ... atau Mari .... atau ungkapaan itepersonal lainya saya yakin perkelahian dapat dihindari. Dari sinilah Wacana yang tidak banyak dan seolah-olah sepale tetapi dapat menjadikan berhaganya seseorang jika mengguinakannya tetapi dapat menjadikan petaka jika seseorang tidak bijak menggunakannya.
            Tidak saja bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Titun maupun Bahasa Inggris serta bahasa-bahasa lainya pasti memiliki Wacana interpesonal dimana bahasa tersebut digunakan. Bahasa Inggris memiliki beberapa wacana interpersonal antara lain:
  1. Ungkapan seseorang pada waktu pertama kali bertemu.
  2. Ungkapan seseorang pernah kenal dan jumpa lagi
  3. Ungkapan-Ungkapan selamat
  4. Ungkapan-ungkapan memuji
  5. Ungkapan-ungkapan menaggapi pujian
  6. Ungkapan-ungkapan untuk menghaluskan perintah
  7. Ungkapan-ungkapan menghaluskan permohonan, dan lain-lain

B. Nilai Imtaq
            Wacana interpersonal yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalan hubungan dengan sesama makhluk di dunia dengan baik dan sesuai dengan konteks budaya yang ada dimasyarakat sosial pada hakekatnya dapat membentuk karakter seseorang untuk dapat dikatakan santun atau tidak santun, sopan atau tidak sopan seseorang dalam kehidupaan sehari-hari. Ukurannya adalah masyarakat sosial dilingkungan pengguna bahasa tersebut.  Ukuran Iman seseorang diantaranya diukur seberapa taqwa kepada Allah seseorang tersebut.  Adapun ukuran taqwa seseorang diantaranya seberapa banyak ibadah dan amalan yang telah diperbuat. Dan semua itu dilakukan karenaNya bukan karena yang lain. Dengan menggunakan wacana interpesonal yang tepat dan disertai senyum dan perbuatan yang baik merupakan salah satu ibadah yang tak ternilai harganya tetapi kalau sudah dibiasakan tidaklah sulit.
               ”Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai persediaan dihari esok. Bertakwalah kepada Allah . Sungguh, Allah tahu benar yang kamu lakukan.

                                                            Q.S. Surat Al Hasyr (Pengusiran) Ayat 18
            Karena manusia disamping punya kewajiban untuk berhubungan dengan Maha penciptannya yaitu Allah SWT tetapi juga berkewajiban untuk senantiyasa berhubungan yang baik dengan sesama umat manusia diplanet bumu ini baik sesama bangsa maupum bangsa lain. Dan semuanya diperintahkan untuk saling menghormati dan menghargai serta menjalin tali kasih dengan menggalakan silaturahmi. Salah satu alah bersilaturahmi adalah menggunakan bahasa tidak kecuali Bahasa Inggris sebagai Bahasa pergaulan internasional.
   ”Hai sekalian manusia, takutlah kamu kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu dan menjadikan isteri dari padanya: dan darpada keduanya berkembang-biak laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan takutlah kepada Allah yang ointa meminta kamu  dengan namaNya, dan (takutlah akan memutuskan) silaturahmi. Sesungguhnya Allah mengawasi kamu”.

                        Q.S. Surat An-Nisa (Perempuan-perempuan) Ayat 1
            Dengan perintah menjalin silaturahmi maka penting pulalah ungkapan penyerta yaitu wacara interpesonal itu untuk dipelajarai dan digunakan sesuai denan konteks budaya dan situasi yang sesuai.
Ada dua hal yang perlu dimiliki para siswa yaitu, siswa harus memiliki kompetensi sesuai dengan bahasa yang sedang dipelajari disini saya sampaikan model kompetensi dan model bahasa yang sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi dan model bahasa yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Model Kompetensi
      Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
      Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi erbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :



           Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence

















                                                                                                                                     Linguistic                               Actional
                                                                                                                                  Competence                         Competence


           Strategic
            Competence
           
Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.)
            Representasi skematik di Gambar 1 menunjukkan bahwa kompetensi utama     yang dituju oleh pendidikan bahasa adalah Discourse Competence atau omunikasi Wacana (KW). Artinya, jika seseorang berkomunikasi baik secara        isan maupun tertulis orang tersebut terlibat dalam suatu wacana. Yang dimaksud dengan wacana ialah sebuah peristiwa komunikasi yang dipengaruhi oleh topik yang dikomunikasikan, hubungan interpersonal pihak yang terlibat dalam komunikasi dan jalur komunikasi yang digunakan dalam satu konteks budaya. Makna apapun yang ia peroleh dan ia ciptakan dalam komunikasi selalu terkait dengan konteks budaya dan konteks situasi yang melingkupinya. Berpartisipasi dalam percakapan, membaca dan menulis secara otomatis mengaktifkan kompetensi wacana yang berarti menggunakan seperangkat atrategi atau prosedur untuk merealisasi nilai-nilai yang terdapat dalam unsur-unsur bahasa, isyarat-isyarat pragmatiknya dalam menafsirkan dan mengungkapkan makna (McCarthy dan Carter 2001:88).
            Kompetensi wacana hanya dapat diperoleh jika siswa memperoleh kompetensi pendukungnya seperti Kompetensi Linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi Tindak Tutur untuk bahasa lisan atau Kompetensi Retorika untuk bahasa tulis (keduanya tercakup dalam Actional Competence), Kompetensi Sosiokultural (Sociocultural Competence), dan Kompetensi Strategis (Strategic Competence).
            Implikasi pedagogisnya adalah bahwa perumusan kompetensi dan indikator-indikator bahasa Inggris perlu didasarkan kepada komponen-komponen tersebut di atas untuk menjamin bahwa kegiatan pendidikan yang dilakukan mengarah kepada tercapainya satu kompetensi utama, yakni kompetensi wacana. Oleh karenanya, indikator-indikator dalam kurikulum ini dirumuskan berdasarkan kelima komponen dalam model kompetensi ini. Selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran setiap indikator dijabarkan berdasarkan daftar sub-kompetensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang relevan.
            Penting untuk dicatat bahwa seperangkat komponen kompetensi yang berupa daftar tersebut bukan representasi kompetensi wacana karena kompetensi wacana lebih mengacu kepada strategi atau prosedur untuk ‘memobilisasi’ seluruh declarative knowledge dalam konteks komunikasi nyata untuk menciptakan makna yang sesuai konteks komunikasinya. Kemampuan ini lazim disebut procedural knowledge. Ini berarti bahwa pengajaran bahasa tidak dapat dipecah-pecah per kelompok kompetensi (linguistic, actional, sociocultural, strategic, discourse) melainkan diarahkan kepada pemerolehan kompetensi wacana dengan melihat kepada kelompok kompetensi sebagai alat monitor yang membantu penyadaran akan adanya komponen tersebut yang dapat dijabarkan dalam seperangkat indikator.
            Selain kelima komponen tersebut, aspek sikap juga dirumuskan sebagai hasil belajar yang dapat diamati berdasarkan apa yang dilakukan siswa selama menjalani proses pembelajaran. Perumusan ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi pengguna kurikulum ini untuk dapat mengeksplisitkan harapan-harapannya terhadap siswa yang pada gilirannya akan membuat pelajaran bahasa Inggris menyenangkan.

2. Model Bahasa
      Selain model kompetensi, sebuah model bahasa yang memandang bahasa sebagai komunikasi atau sebagai sistem semiotik sosial (Halliday 1978) juga digunakan dalam kurikulum ini. Menurut pandangan ini, ketika seseorang berpikir tentang bahasa, minimal ada tiga aspek penting yang harus diperhitungkan, yakni konteks, teks, dan sistem bahasa. Hubungan konteks, teks dapat digambarkan sebagai berikut :
CULTURE
Genre
(Purpose)
                         SITUATION
                           Who is involved?
                         (Tenor)
                                                 Subject matter                              Channel
      (Field)                                       (Mode)

                             REGISTER

TEXT
 


                        Gambar 2 : The Model of language (Derewianka, 1990)
a.       Konteks
Bahasa terjadi dan hidup dalam konteks yang dapat berupa apa saja yang mempengaruhi, menentukan dan terkait dengan pilihan-pilihan bahasa yang dibuat seseorang ketika menciptakan dan menafsirkan teks.
Dalam konteks apapun, orang menggunakan bahasa untuk melakukan tiga fungsi utama:

1)      Fungsi gagasan (ideational function), yakni fungsi bahasa untuk mengemukakan atau mengkonstruksi gagasan atau informasi.

2)      Fungsi interpersonal (interpersonal function), yakni fungsi bahasa untuk berinteraksi dengan sesama manusia yang mengungkapkan tindak tutur yang dilakukan, sikap, perasaan, dan sebagaimya.

3)       Fungsi tekstual (textual function), yakni fungsi yang mengatur bagaimana teks atau bahasa yang diciptakan ditata sehingga tercapai kohesi dan koherensinya, sehingga mudah dipahami orang yang mendengar atau membaca.


Implikasi pedagogisnya adalah bahwa sebuah pengembangan program bahasa sewajarnya mengarahkan siswa untuk mampu mengungkapkan nuansa-nuansa makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual. Dalam kurikulum ini, nuansa makna tercermin dalam rumusan kompetensi dasar tiap ketrampilan berbahasa dan indikator-indikatornya. Makna gagasan, misalnya, akan dominan mewarnai bahasa tulis, makna interpersonal akan dominan mewarnai bahasa lisan, dan makna tekstual mewarnai kedua ‘modes’ bahasa tersebut dalam hal penataan informasi yang terkandung di dalamnya.

            Dalam model ini terdapat dua macam konteks: konteks budaya (context of culture) dan konteks situasi (context of situation). Sebuah konteks budaya ‘melahirkan’ banyak macam teks yang dikenal dan diterima oleh anggota masyarakatnya sebab susunan dan bahasa yang digunakan menunjang tujuan komunikatif teks tersebut. Misalnya, orang mengenal dan menggunakan teks ‘resep masakan’ sebagaimana yang ditemukan di buku-buku resep. Maka ketika orang mendengar kata ‘resep’ ia akan membayangkan susunan teks dan bahasa yang lazim digunakan dalam budayanya. Begitu juga jika ia mendengar kata ‘cerita pendek’ yang berbeda dari resep. Jenis teks ini disebut genre. Singkatnya, sebuah konteks budaya melahirkan banyak genre.
            Ketika seseorang mempelajari bahasa asing, ia terlibat dalam penciptaan dan penafsiran berbagai jenis teks yang lahir dari budaya bahasa asing tersebut yang tidak selalu sama dengan jenis teks yang lahir dalam budaya yang dimilikinya. Oleh karenanya, jenis-jenis teks yang diwarnai oleh berbagai tujuan komunikatif, penataan bagian-bagian teks, dan fitur-fitur linguistik tertentu selayaknya menjadi perhatian setiap program pendidikan bahasa. Ini dimaksudkan agar siswa bukan hanya menggunakan kalimat bahasa Inggris, melainkan juga menata teksnya dengan cara yang lazim digunakan oleh penutur aslinya. Konsep genre ini mewarnai jenis teks yang disarankan oleh kurikulum ini.
            Konteks situasi juga mendapatkan perhatian dalam kurikulum ini. Terdapat tiga faktor konteks situasi yang mempengaruhi pilihan bahasa seseorang: topik yang dibicarakan (field), hubungan interpersonal antara pengguna bahasa (tenor) dan jalur komunikasi (lisan atau tulis) yang digunakan (mode). Ketiga faktor ini menentukan apakah seseorang memilih berbahasa formal/informal, akrab/tidak akrab dsb. Kurikulum ini juga diwarnai oleh konsep tersebut agar siswa mampu berkomunikasi sesuai dengan konteks yang dihadapinya.
            b.  Teks
            Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bisa berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis.

C. Pembelajaran yang Mengintegrasi Imtaq-Iptek:
1. Integrasi Imtaq-Iptek
        Dunia secara makro telah berkembang dengan pesat bahkan dunia globalpun sudah semakin tampak dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan ilmu dan teknologi juga tidak kalah pesatnya dalam meningkatnya kualitas hidup manusia didunia walaupun kualitas ini masih dipertanyakan sesuai dengan aqidah maupun akhlak yang dituju sesuai dengan tujuan hidup seseorang karena hal itu harus diukur dengan nilai-nilai dan norma-norma yang hidup dan berkembang dimasyarakat pada khususnya dan hubungan internasional pada umumnya. Belajar bahasa merupakan hal penting untuk dilakukan. Hal ini bisa dilakukan melalui sekolah formal maupun non-formal atau belajar mandiri melalui media masa, media elektronik yang sudah berkembang begitu pesat akhir-akhir ini.
        Bagaimana agar pembelajaran dapat dilakukan dengan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan perlu adanya sarana prasarana yang memadai dan variasi media agar tidak membosankan.
        Ilmu dan Teknologi yang berkembang kita optimalisasikan untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan yang diharapkan diatas. Dalam pembelajaran wacana interpersonal ini dapat menggunakan media audio-visual. Media tersebut sangat efektif dalam mengoptimalkan modalitas belajar yang mereka miliki. Dengan optimalmya alat/indera respon siswa diharapkan masukan yang diterima juga akan optimal dan bersifat lebih permanen. Keefektifan menggunakan media audio-visual kita bisa memberikan konteks pembelajaran tanpa harus mengajak siswa ke tempat dimana suatu kegiatan komunikasi dilakukan, misalnya; Kita tidak harus pergi ke Australia, Amerika atau ke Inggris jika ingin belajar Bahasa Inggris karena dengan teknologi yang berkembang sekarang ini kita biosa manfaatkan ilmu dan teknologi untk proses pembelajaran sehingga pencapaian tujuan pembelajaran dapat optimal dengan biaya yang relatif jauh lebih murah.  Memang belajar untuk berkomunikasi dengan suatu bahasa  yang paling optimal adalah kita datang dan belajar dimana bahasa itu digunakan dalam masyarakat tersebut sehingga baik bentuk maupun konteks bahasa akan dengan sendirinya terkuasai.
        Adapun  proses pembelajaran wacana interpesonal adalah sebagai berikut:
a.       Wacana interpesonal ini dibelajarkan dalam bentuk lisan.
b.      Media yang digunakan dengan menggunakan media audio visual.
c.       Proses pembelajarannya menggunakan metode BangMoGI.
d.      Wacana tersebut merupakan wacana yang harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga konteks bahasa digunakan lebih bisa dipahami dan diaplikasikan dan hidup sehari-hari.
2. Metode BangMoGI
            Tahapan metode pembelajaran BangMoGI yang disajikan dalam pembelajarannya adalah sebagai berikut:
a.       Tahapan Bang (membangun)
      Tahapan ini kita bangun moral, sikap, dan tindak tutur yang santun dalam berbahasa lisan sesuai dengan konteks situasi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat pengguna bahasa tersebut dalam hal ini Bahasa Inggris. Termasuk memberi motivasi bahwa dengan bahasa kita bisa menguasai ilmu dan teknologi apalagi hampir semua ilmu dan teknologi yang pesat berkembang didunia  adalah ditulis dalam bahasa Inggris. Bagaimana tranfer ilmu dan teknologi bisa sampai pada kita kalau kita tidak memahami bahasa tersebut baik lisa maupun tertulis. Bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan bangsa lain jika kita tidak memahami bahasa sebagai alat komunikasi tersebut tidak dikuasai. Untuk itu bahasa dalam hali ini Bahasa Inggris merupakan sarana untuk mendapatkan Ilmu dan Teknologi yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
      Tidak lepas dari ilmu dan teknologi adalah Iman dan taqwa yang harus dimilki oleh siswa sehingga mereka dapat seimbang dalam hidupnya selama di dunia. Kebutuhan hidup di dunia kita lakukan dengan ilmu dan teknologi sedangkan kebutuhan rohani dan akhirat kelak kita lakukan dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang aplikasinya berupa amalan-amalan yang baik dan benar dalam kehidupan manusia sesuai dengan ajaran agama yang dianut.           
”Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai persediaan dihari esok. Bertakwalah kepada Allah . Sungguh, Allah tahu benar yang kamu lakukan.

                                                            Q.S. Surat Al Hasyr (Pengusiran) Ayat 18
Kita jelaskan tujuan sosial, konteks dan situasi kapan, bagaimana, dan jalur komunikasi apa yang digunakan sehingga siswa dapat mengetahui dengan benar bagaimana ungkapanungkapan itu digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan nyata.

  1. Mo (model)
Tahapan ini diberikan beberapa percakapan melalui tayangan VCD pembelajaran yang memberikan contoh wacana interpesonal digunakan lengkap dengan situasi dan kondisi serta siapa dean jalur komunikasi apa yang digunakan, misalnya; Bagaimana untuk memberi salam dengan Bahasa Inggris sesuai dengan waktu dan dengan siapa lawar bicara;  Bagaimana ungkapan yang benar pada waktu kita baru pertama kali jumpa/kenal; Bagaimana untuk mengungkapan ungkapan yang benar untuk orang yang sudah kita kenal; Bagaimana menyela pembicaraan, dan lain sebagainya.
  1. G (grup)
Langkah ini langkah untuk melatih siswa untuk hidup bersama sehingga siswa dapat berinteraksi dengan teman sebaya bahkan dengan gurunya. Kita bagi siswa di kelas itu menjadi kelompok yang terdiri dari 4 orang atau berpesangan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Para siswa utnuk melakukan percakapan dengan mengacu pada model-model percakapan yang telah siswa lihat. Laatihan ini dilakukan berualang-ulang samp[ai siswa dapat memahami dan bisa menggunakan seandainya ungkapan tersebut suatu waktu digunakan. Untuk penguatan pemahaman dan penggunanya ungkapan ini seoptimal mungkin unutk bisa dibiasakan dalam preoses pembelajaran selanjutnya sehingga secara tidar sadar siswa sudah dapat berkomunikasi dengan Bahasa Inggris walaupun mungkin masih belum fasih dan lancar.

  1. I (individual)
Kita berikan beberapa contoh simulasi suatu wacana interpesonal itu digunakan dengan cara memberi tanggapan dengan cara memilih benar atau salah. Adapun simulasi yang dikerjakan siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap penggunaan wacana interpesonal dalam konteks dan situasi yang berbeda-beda dengan tujuan agar siswa dapat menggunakannya dengan benar. Dengan menggunakan dengan benar wacana tersebut dalam konteks situasi, bentuk dan siapa lawan bicara serta jalur komunikasi yang digunakan secara tidak langsung sedang menjadikan siswa kita santun dalam berkomunikasi yang sekaligus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.




3. Contoh Wacana Interpersonal
            Adapun contoh materi wacana interpersonal adalah sebagai berikut:
  1. Cara memperkenalkan diri.
      Jane     : Good morning, Sir. What’s your name, please?
      Sam     : My name’s Smith, Mr. Smith.
      Jane     : Thank you, Mr. Smith.
      Sam     : What’s your name?
      Jane     : My name’s Jane.
      Sam     : Ah, yes Jane. My name’s Sam.
      Jane     : Thank you, Mr. Smith.

  1. Cara mengenali orang.
      Mary    :  Good morning.
      Francis : Excuse me. Are you Mary Brown?
      Mary    : Yes, I’m Mary Brown. Are you Sam Smith?
      Francis : No. I’m not. I’m not Sam Smith. I’m Francis Matthews.
      Mary    : Oh I’m sorry Francis. Come in!

  1. Salam dan Perkenalan
      1) Salam dan perkenalan informal.
                  Francis : Hello, Jane. How are you?
                  Jane     : Hello. I’m fine, thanks, Francis.
                  Francis : Oh, Jane this is Bill.
                  Jane     : Hello, Bill.
                  Bill      : Hello, Jane
      2) Salam dan perkenalan formal.
                  Mr. Robinson: How do you do? I’m George Robinson.
                  Francis       : How do you do, Mr. Robinson. I’m Francis Matthews.
                  Mr. Robinson  : And this is my wife.
                  Francis             : How do you do, Mrs. Robinson?
                  Mrs. Robinson : How do you do?
4. Simulasi Situasi dan Konteks Bahasa Inggris

Down Arrow Callout: GURUDown Arrow Callout: SISWAa.





BENAR / SALAH
 



            Student: Hi, Mr. Burhan.                                              
                       





Down Arrow Callout: SISWA
Down Arrow Callout: GURU


b.




BENAR / SALAH

 




            Student: Hello, Mrs Tuti.

Down Arrow Callout: GURUDown Arrow Callout: SISWAc.



BENAR / SALAH

 



            Student: Good morning, Mr Budi.

Down Arrow Callout: GURUDown Arrow Callout: SISWAd.




BENAR / SALAH

 




            Student: Good morning, Mrs. Jeni.

Down Arrow Callout: SISWA 2Down Arrow Callout: SISWA 1e.




BENAR / SALAH

 




            Student 1: Hi. How do you do?         Student 2: Hi. How do you do?                                       My name is Amin.                                My name is Ahmad.
                             
Down Arrow Callout: SISWA 2Down Arrow Callout: SISWA 1f.




BENAR / SALAH

 




            Student 1: Nice to meet you.              Student 2: Nice to meet you too.       

Down Arrow Callout: SISWA 2Down Arrow Callout: SISWA 1g.




BENAR / SALAH

 




            Student 1: Hi. How do you do?         Student 2: I’m fine, thank you.

Down Arrow Callout: SISWA 2Down Arrow Callout: SISWA 1h.




BENAR / SALAH
 




            Student 1: Hi. How are you?              Student 2: I’m very well, thank you.
                              I’m fine too.                                       And you.


Down Arrow Callout: OFFICERDown Arrow Callout: MANAGERi.





BENAR / SALAH

 



            Officer: Hello, Sir.                                                   

Down Arrow Callout: MANAGERDown Arrow Callout: OFFICERj.


BENAR / SALAH

 


            Officer: Good afternoon, Sir

Down Arrow Callout: FATHERDown Arrow Callout: SONk.    
       

BENAR / SALAH

 
       

            Son: Good evening, Dad.

Down Arrow Callout: MOTHERDown Arrow Callout: DOUGHTHERl.




BENAR/SALAH
 






            Doughther: Good night, Mom.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
            Kehidupan berbangsa dan bernegara yang tangguh dan kokoh perlu diupayakan dalam dunia yang global ini. Untuk itu bangsa ini harus memiliki kecerdasan emosional yang tinggi agar bangsa ini bisa dianggap santun dalam hubungan antar bangsa. Salah satu yang mentukan kesantunan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain / bangsa lain yaitu dikuasainya alat komunikasi, dalam hal ini adalah bahasa. Setiap behasa tumbuh dari situasi dan kondisi dimana suatu budaya itu berkembang. Bahasa Inggris adalah salah satu alat komunikasi yang penting karena Bahasa Inggris diakui oleh dunia internasional sebagai bahasa internasioal. Agar dapat berhubungan dengan baik, lancar, santun dan berterima, kita perlu menguasai wacana-wacana yang ada dan tumbuh dalam budaya dimana Bahasa Inggris ada dan digunakan oleh masyarakatnya. Salah satu wacana yang ada adalah wacana interpersonal. Wacana ini harus dikuasai oleh seseorang jika dia ingin dikatakan santun. Walaupun tidak banyak dan panjang jika kita tidak tahu, tidak benar dan tidak sesuai dengan konteks situasi dan kondisi bahasa itu harus digunakan kadangkala bisa mendatangkan masalah dalam kita berhubungan interaksi antar sesama manusia, bahkan kita bisa-bisa dikatakan orang yang tidak sopan dan santun. Maka dari itu wacana interpersonal harus dikuasai dalam kita berbicara menggunakan Bahasa Inggris agar dalam hubungan intyerpersonal dengan mereka lancar dan berterima.

B. Saran
            Sudah waktunya kita untuk bangun dan sadarkandiri bahwa bangsa ini perlu belajar banyak tentang segala hal, agar kita tidak seperti katak dalam tempurung yang menganggap bahwa segalanya sudah dikuasai dan merasa sudah paling hebat. Yang pada kenyatanya kita masih harus belajar banyak, agar bangsa ini bisa berbicara, setara dengan bangsa lain dan tetap diperhitungkan dalam hubungan antar bangsa. Selamat berjuang demi Indonesia Raya dan Jaya!
DAFTAR PUSTAKA


Agustian, Ary Ginanjar.2005. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Penerbit Arga.

Agustin, Helena I.R, Dra., M.A., PhD. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Dirjendikdasmen.

Bambang Purnomo. 2006. Implementasi Kurikulum 2004 dan Contextual Teaching and Learning Approach (CTL) melalui Metode BangMoGI. (Makalah)

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan MTs. Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan Kontekstual. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

De Porter, Bobbi & Hernaki, Mike. 2005. Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Djawanto PS,S.E. 2000. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Skripsi. Yogyakata : Liberty Yogyakarta.

Junus, Mahmud, H., Prof. 1990. Tarjamah Al Quran Al Karim. Bandung: PT Al-Ma’rif.

Tomalin, Barry. Follow Me. (script VCD pembelajaran)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar