Rabu, 09 November 2011

INOVASI PEMBELAJARAN TEKS REPORT MENGGUNAKAN PROGRAM POWER POINT DENGAN METODE BANGMOGI

INOVASI PEMBELAJARAN TEKS REPORT
MENGGUNAKAN PROGRAM POWER POINT
DENGAN METODE BANGMOGI

oleh:
Bambang Purnomo
ABSTRAK

Purnomo, Bambang. 2006. Optimalisasi Pembelajaran Teks Report dengan Menggunakan Magic Whist melalui Metode BangMoGI


Writing adalah salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh siswa Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah  karena dalam SKL nya kompetensi writing ada didalamnya. Disamping itu bagaimana agar tulisan siswa dapat berterima di dunia internasional itu merupakan hal penting lainnya yang harus diupayakan dapat dipahamai dan dikuasai oleh para siswa agar mereka memiliki ketrampilan hidup (life skill) untuk bekal hidup masa depan mereka.
Kenyataannya bahwa sebagian besar siswa Sekolah Menengah Pertana / Madrasah Tsanawiyah, termasuk siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2006/2007  mengalami kesulitan untuk menulis teks-teks bahasa Inggris (genres). Pemahaman tentang tujuan sosial, struktur umum dan fitur-fitur kebahasaan sebuah teks adalah syarat penting bagi siswa agar hasil karya tulisnya dapat berterima di dunia internasional. Untuk itu perlu adanya metode pembelajaran dan media pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan aktif, kreatif, efektif, efisien sekaligus menyenangkan. Dengan kondisi pembelajaran tersebut diatas diharapkan hasil proses pembelajaran dapat optimal sehingga mutu pembelajaran dapat ditingkatkan .
Magic Whist adalah salah satu media yang saya gunakan melalui metode BangMoGI untuk menciptakan proses pembelajaran seperti tersebut diatas. Media ini telah saya cobakan pada siswa kelas 3a SMP Negeri 2 Gombong pada semester 1 tahun pelajaran 2006/2007 menunjukkan hasil yang baik. Berdasarkan pengamatan dan penilaian proses maupun hasil pembelajaran  dan analisisnya menunjukkan adanya keberhasilan  pada setiap siklus antara lain; Sebagian besar siswa dapat menghasilkan teks-teks bahasa Inggris dengan baik dan benar hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai writing rata-rata kelas 3a sebesar 78,68 (baik); Siswa begitu aktif dan antusias dalam pembelajarannya hal ini dapat dilihat dari data keaktifan siswa yang mencapai ….. tally yang terdiri dari questioningtally, aswering …. tally, expressing …. tally dan practicing …. tally; Daya serap siswa meningkat dari siklus pertama ke siklus kedua sebesar ……
Dengan demikian saya hentikan penelitian sampai dengan siklus kedua dan saya simpulkan bahwa media pembelajaran Magic Whist melalui metode BangMoGI telah dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dan media tersebut telah berhasil  mengoptimalkan proses  pembelajaran bahasa Inggris khususnya pembelajaran teks report.


Key words: Optimalisasi, Magic Whist, BangMoGI  




ABSTRACT

Purnomo, Bambang. 2006. Kontekstualisasi Pembelajaran Writing dengan Menggunakan Magic Whist melalui Metode BangMoGI. Classroom Action Research.

            Writing is one of the important competency which has to be mastered by students of Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah because the SKL contains the competency which the students of the junior high school must be able to product English texts well, especially students of SMP Negeri 2 Gombong in the third year on the first semester in 2006/2007.  Beside that, the product of student writing must be able to known by the people internationally so that the students has the competences in their life (life skill).
            In fact, most the students of the junior high school include the students of SMP Negeri 2 Gombong have some difficulties to product English texts (genres). The comprehension of the social function, generic structure, and lexicogrammatical of the genres are the important things in order to have the competencies in product the good texts so that their writing are able to known by the people internationally. So the active, creative, effective and enjoyable English learning must be created to improve the quality of the process and  result of  the English learning.
            Magic Whist is one of the learning media that is used by me through the BangMoGI metode. It had been implemented to my students of SMP Negeri 2 Gombong  class 3a on the first semester in 2006/2007. Based on the observing, analyzing of the process and result of the my English learning can reported e.g.;  Most the students are able to product English texts well, it is shown by the average of writing marks of class 3a is 78.68; The active learning process   can be shown  by the total of the tallies, that is … tallies which consist of questioning … tallies, answering … tallies, expressing … tallies and practicing … tallies; The average of the gaining score achievement of the first cycle  is …, the second cycle is ….
            Because of the English learning process using the Magic Whist through the BangMoGI metode had been success to create the learning process actively, creatively, effectively and enjoyably and the media had been success to optimize n the English learning process  so that they have been able to product the English text well. So I decided to finish my research until the second cycle.

Key words: Optimalisasi, Magic Whist, BangMoGI    


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
     Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapai tantangan sesuai  dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Oleh karena itu proses dan mutu pembelajaran perlu ditingkatkan agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga anak didik dapat menggembangkan potensi diri dan dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
     Kurikulum 2004 mengamanatkan bahwa setiap lulusan harus telah memiliki kompetensi yang diprasaratkan dalam standar kompetensi maupun kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam kurikulum tersebut. Model kompetensi ini dirumuskan sebagai kompetensi berkomunikasi yang mempunyai tujuan akhir pada pencapaian kompetensi wacana(discourse competence) Kompetensi wacana memprasaratkan bahwa peserta didik dalam menggunakan bahasa dalam komunikasi harus selalu secara tepat mempertimbangkan konteks budaya dan konteks situasi. Kompetensi wacana tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompetensi kebahasaan yang lain yang meliputi kompetensi tindak bahasa dan retorika (yang tercakup dalam actional competence), kompetensi linguistic (linguistic competence), kompetensi sosiokultural (sociocultural competence) dan kompetensi strategis (strategic competence). Selain kelima kompetensi tersebut, kurikulum 2004 juga melihat sikap sebagai hasil belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut perlu proses pembelajaran yang berkwalitas. Misalnya kreatifitas dan inovatif pembelajaran guru perlu ditingkatkan, hasil pembelajaran bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan  baik secara kwantitas
maupun kwalitasnya, keaktifan dan kreatifitas siswa perlu ditingkatkan, degradasi moral dalam masyarakat khususnya  siswa-siswa usia Sekolah Menengah Pertama kususnya dan usia remaja pada umumnya perlu dicegah dan ditangani dengan arif dan bijaksana, pemilihan dan atau pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan sekaligus dapat mengembangkan budaya nasional dan mengangkat potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia.
     Keberhasilan atau kegagalan suatu pendidikan pada dasarnya dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku atau dari prestasi hasil pembelajaran yang dicapai oleh orang yang telah mendapat proses pembelajaran . Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan selalu mendapatkan hasil yang optimal, kadang-kala juga menemui kegagalan.
     Mata pelajaran bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain untuk itu agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan informasi tentang karakteristik mata pelajaran bahasa Inngris. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagi alat komunikasi. Hal ini mengidikasikan bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai bahasa Inggris jika dia belum dapat menggunakan bahasa Inggris   untuk keperluan komunikasi.
     Kenyataan siswa belajar bahasa Inggris selama empat jam pelajaran setiap minggu di Sekolah Menengah Pertama, tetapi kemampuan berbahasa Inggris masih rendah. Ada tiga masalah yang mengemuka dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Kebumen pada khususnya . Persoalan pertama adalah masih rendahnya pencapaian hasil belajar bahasa Inggris siswa (real scholastic achievement). Indikator kasarnya dapat dilihat dari hasil ujian nasional tahun pelajaran 2005/2006 masih banyak anak yang tidak lulus.
     Permasalahan kedua adalah ketidakmampuan siswa dalam menggunakan ketrampilan berbahasa (language skill) yang mereka pelajari dalam komunikasi berbahasa Inggris. Hal tersebut berdasarkan pengamatan dan informasi gugu-guru bahasa Inggris di Kabupaten Kebumen. Keadaan tersebut pada umumnya disebabkan pembelajaran bahasa Inggris hanya mengacu pada soal-soal Ujian Nasional dalam hal ini hanya mencakup terutama ketrampilan membaca pemahaman (Reading comphrehension), sedangkan ketrampilan berbicara(speaking), mendengar(listening) dan menulis(writing) terabaikan.
     Kenyataan lain yang terjadi di lapangan adalah tidak optimalnya guru dalam memilih bahar ajar, media pembelajaran dan metode pembelajaran sehingga pembelajaran tidak dapat mencapai kompetensi sesuai apa yang diharapkan, selain itu dengan perubahan kurikulum 2004 belum semua guru mengetahui dam memahami isi dari apa yang dimaksud dalam kurikulum tersebut,  maka dari itu profesionalisme guru harus selalu ditingkatkan.
     Writing adalah salah satu dari empat kompetensi yang seharusnya dikuasai oleh siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Kenyataan yang ada bahwa banyak siswa yang belum memiliki kompetensi menulis tersebut. Kompetensi menulis merupakan kompetensi yang memerlukan pengetahuan yang komprehesif karena para siswa sebelum menulis suatu teks mereka harus mengetahui karakteristik dari sebuah teks tersebut agar hasil teks yang dihasilkan dapat berterima oleh dunia international.
     Writing merupakan  kompetensi penting bagi siswa Sekolah Menengah Pertama karena writing merupakan salah satu SKL (Standar Kompetensi Lulusan)  Ujian Nasional bagi Sekolah Menegah Pertama / Madrasah Tsanawiyah.
     Dari pengamatan yang saya lakukan bahwa sebagian besar siswa belum mengetahui tentang karakteristik dari teks-teks bahasa Inggris sehingga para siswa belum tahu untuk membuat suatu teks bahasa Inggris dengan baik, benar dan berterima. Pengetahuan tentang karakteristik teks bahasa Inggris para siswa harus tahu antara lain: tujuan sosial, struktur umum dan fitur-fitur kebahasaan yang muncul dalam suatu jenis teks bahasa Inggris. Dengan mengetahui karakteristik dari teks bahasa Inggris seperti tersebut diatas diharapkan para siswa dapat berkomunikasi secara tulis dengan baik, benar dan berterima.
     Dengan keadaan yang demikian kompetensi writing siswa menjadi hal yang sangat penting karena kompetensi tersebut merupakan salah satu SKL yang harus dikuasai siswa dan hal tersebut diuji praktekan dalam  Ujian Nasional.
     Sebagai salah satu alternatif meningkatkan kompetensi writing siswa adalah dengan mengoptimalkan pembelajaran menulis bahasa Inggris dengan menggunakan Magic Whist melalui Metode BangMoGI.
B. Perumusan Masalah
  1. Bagaimana mengoptimalkan proses pembelajaran menulis bahasa Inggris siswa, sehingga hasil karya mereka dapat berterima?
  2. Sejauh mana keefektifan media Magic Whist melalui metode BangMoGI dapat digunakan dalam proses pembelajaran menulis bahasa Inggris?
      Dua masalah tersebut akan diintegrasikan sehingga merupakan suatu pemecahan masalah untuk meningkatkan kompetensi writing. Sehingga masalah tersebut saya rumuskan”Dapatkah media pembelajaran Magic Whist memberikan koteks kepada para siswa  sehingga media tersebut dapat menimbulkan  kreatifitas para siswa untuk memproduk suatu teks dalam bahasa Inggris melalui metode BangMoGI?”

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
     Secara umum kegiatan ini untuk meningkatkan kompetensi writing siswa.
2. Tujuan Khusus
            Kegiatan ini memiliki tujuan khusus antara lain:
  1. Agar guru dapat menyajikan pembelajaran yang kreatif, efektif dan menyenangkan.
  2. Mengoptimalkan kreatifitas siswa dengan penciptaan konteks yang beragam.
  3. Mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan mengimplementasikan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Cotextual Teaching and Learning).
D. Manfaat Peneltitian
     a. Bagi Guru
               1) Meningkatkan mutu pembelajaran.
               2) Meningkatkan profesionalisme.
      b. Bagi Siswa
               1)  Meningkatkan kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran.
   2) Meningkatkan percaya diri siswa dalam berkomunikasi dalam bahasa Inggris khususnya ragam bahasa tulis.
   3) Memberi peluang siswa untuk berfikir tingkat tinggi..
     c. Bagi lembaga
                 Hasil karya tulis ilmiah ini sebagai bahan masukan dalam menyiapkan    program-program pembelajaran di awal tahun pelajaran.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori
     Bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
     Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum ini.
     Terdapat beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.
1. Kompetensi
     Kurikulum 2004 menyebutkan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsinten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

2. Model Kompetensi
     Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
     Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi berbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :
     




           Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence

















                                                                                                                                     Linguistic                               Actional
                                                                                                                                  Competence                         Competence


       Strategic
     Competence


                        Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.)
     Kompetensi utama yang dituju adalah kompetensi wacana (Discourse Competence) yang didukung oleh kompetensi linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi sosiokultural (Sociocultural Competence) dan Kompetensi Tindak Tutur (Actional Competence). Kompetensi writing ada di dalam Actional Competence.
3.  Teks
     Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bisa berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis. Oleh karena itu, target kegiatan writing dalam konteks situasi dan kondisi yang beragam akan membantu siswa dalam menghasilkan teks bentuk tulis.
4. Magic Whist
     Magic Whist adalah nama media yang saya berikan untuk sebuah media pembelajaran dengan menggunakan permainan kartu. Dalam hal ini kartu dibuat oleh para siswa sendiri dengan berisi gambar disisi yang satu dan sisi lainnya berisi informasi sesuai dengan jenis teks yang akan dibelajarakan. Ukuran kartu tersebut adalah 15 centimeter panjangnya dan 10 centimeter lebarnya. Contoh kartu dapat dilihat pada lampiran karya tulis ini. Media tersebut dibuat oleh para siswa sebelum pembelajaran suatu teks dilaksanakan. Siklus I menggunakan gambar benda mati dan dibaliknya siswa menuliskan informasi/bagian-bagian dari gambar yang ada. Siklus  II gambar tentang benda hidup dengan diberi bagian-bagiannya dan dibaliknya siswa menuliskan apa bagian-bagian tersebut dalam bahasa Inggris serta kebiasaan hidup atau hobby dari gambar yang ada..
5. Contextual Teaching and Learning Approach  (CTL)
     CTL merupakan pendekatan pembelajaran dimana proses pembelajaran seoptimal mungkin mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks yang ada di dunia nyata sehingga siswa dapat menerapkan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran untuk bisa survival dalam hidup yang sebenarnya kelak. Dan bekal yang sudah mereka miliki merupakan modalitas untuk ketrampilan hidup (life skill). Menurut Zahorik pengertiannya adalah sebagai berikut:
        “Knowledge is constructed by humans. Knowledge is not a set of facts, concept,          or laws waiting to be discovered. It is not something that exists independent of a    knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring                       meaning to their experience. Everything that we know, we have made”
        Zahorik : Contextual Teaching-Learning (2003:3)        
5. Metode BangMoGI
     Metode BangMoGI adalah nama metode pembelajaran yang saya berikan dengan tujuan mempermudah untuk diingat sehingga dengan menyebutkan satu kata guru akan mengetahui tahap-tahap pembelajaran yang harus dilalui. Metode ini merupakan suatu langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL). Ada empat tahapan dalam langkah-langkahnya yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving)

Mo (Model/Modeling)

G (Grup/Grouping)

I (Individual/Independent)
                        Gambar 2: Merupakan  langkah-langkah metode BangMoGI
         a.  Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving)
             Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving) suatu tahapan    dimana guru membangun/mengembangkan pengetahuan atau piranti atau hal-hal             yang berhubungandengan materi/bahan yang akan disampaikan/dipelajari       /didiskusikan pada tahap pembelajaran selanjutnya.Dalam hal ini dapat berupa         deskipsi, ilustrasi, inquiry, questioning  ataupun hal lain yang berhubungan      dengan dunia nyata yang dapat mendukung untuk pembelajaran selanjutnya.             Misalnya teks-teks yang akan dibelajarakan   report maka semua pembelajaran   juga saya arahkan untuk bagaimana siswa memahami tujuan sosial, memahami        sturktur umum dan memahami fitur-fitur kebahasaan dari teks report tersebut.

     b. Mo (Model/Modeling)
             Mo (Model/Modeling) suatu tahapan pemberian satu atau beberapa model dari materi yang telah diprogramkan. Kegiatan yang bisa dikembangkan     misalnya: questioning,             constructivism dan modeling. Contoh kegiatan yang             saya lakukan antara lain; Saya memberikan contoh-contoh teks melalui        worksheet atau program power point yang ditayangkan dengan LCD; Saya      tanyakan isi informasi teks-teks tersebut baik informasi tersurat maupun tersirat;     Saya juga menjelaskan tentang bagaimana retorika sebuah teks itu disusun.
      c. G (Grup/Grouping)
                       G (Grup/Grouping) adalah merupakan tahap melatih siswa untuk dapat bekerja secara kelompok. Kelompok dapat terdiri 4 siswa atau lebih tergantung situasi dan kondisi kelas dan materi yang akan dikerjakan. Kegiatan yang dapat dikembangkan misalnya: learning community, assessment, evaluation masih dalam grup. Adapun contoh aktivitasnya adalah sebagai berikut, mereka pertama-tama mendiskusikan gambar mana yang dipilh untuk dibuat sebuah teks untuk kelompok tersebut. Setelah terpilih gambar yang disukai siswa mendiskusikan secara kelompok untuk dibuatkan tek sesuai dengan gambar tersebut dan kreatifitas masing-masing kelompok tersebut. Hasilnya dipersiapkan untuk ditempel dipapan tempel, diketik dikomputer dan dipresentasikan. Saya membantu kelompok- kelompok yang memiliki permasalahan, kesukaran atau keraguan.
     d. I (Individual/Independent)
             I (Individual/Independent) Tahapan ini merupakan tahap untuk mengetahui            pencapaian dari langkah-langkah sebelumnya. Target yang dituju adalah semua          peserta didik tuntas. Sehingga prinsip-prinsip mastery learning ada didalamnya.       Kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini dapat berupa evaluasi maupun         reflection atau pengambilan nilai end product. Contoh kegiatannya adalah saya           memerintahkan masing-masing siswa untuk memproduk sebuah teks dikelas             maupun dirumah.

     Menurut Callaghan dan Rothery Pembelajaran bahasa Inggris memiliki 4 tahapan pembelajaran seperti yang terlihat dalam gambar dibawah ini.
             The four steps in the Teaching –Learning Cycle are:
            Step One         : Building the context or field of the topic or text-type
            Step Two         : Modeling the genre under focus
            Step Three       : Joint Construction of the genre
            Step Four        : Independent Construction of the genre
           















           
            Gambar 3 : The Teaching Learning Cycle. Source: Burns and Joyce: 1991 (Adapted from Collaghan and Rothery 1988)

6. Genre
     Yang dimaksud dengan Genre yaitu jenis-jenis teks. Kita mengenal istilah ini dari Kurikulum 2004. Ada 12 jenis teks yang dijelaskan dalam kurikulum 2004 tersebut antara lain: Recount, Report, Discussion, Explanation, Analytical Exposition, Hortatory Exposition, New Item, Anecdote, Narrative, Procedure, Descriptive dan Review. Namun untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)  kelas VII, VIII dan IX kompetensi yang harus dicapai hanya 6 jenis teks yaitu Descriptive, Recount, Narrative, Anecdote, Procedure dan Report.

B. Penelitian Yang Relevan
     Adapun jenis penelitian yang relevan dalam hal ini adalah Penelitian Tindakan Kelas / PTK (Classroom Action Research / CAR), karena permasalahan yang ada merupakan wilayah kerja guru sekaligus sebagai peneliti, berorientasi pada pemecahan masalah, berorientasi pada perbaikan, memerlukan barbagai macam data, memerlukan siklus, dan memerlukan kolaborasi.               
C. Kerangka Berfikir
     Berbicara tentang pencapaian hasil pembelajaran dapat dilihat dari berbagai hal yang mempengaruhi antara lain: in-put siswa, kecerdasan, ketekunan, motivasi siswa, motivasi guru dalam melaksanakan pembelajaran, kompetensi yang dimiliki guru kususnya kompetensi bahasa Inggris yang dimilikinya, kreatifitas guru dalam pembelajaran sehingga pembelajaran selalu mengalami inovasi sesuai dengan situasi kondisi yang ada dalam pembelajaranya, dan sarana prasarana agar pembelajaran dapat berlangsung secara optimal sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan aktif , efektif dan menyenagkan.
     Kuriklulum 2004 hanya menetapkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mendapat pembelajaran. Pemerintah melalui kurikulum hanya menetapkan kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh pesrta didik yang dinyatakan lulus. Dengan demikian kreatifitas guru sangat diperlukan untuk meningkatkan pembelajarannya. Dengan proses pembelajaran yang semakin meningkat secara kwalitas maupun kwantitas diharapkan hasil pembelajaran akan semakin meningkat pula. Melalui pembelajaran teks(genre) guru dapat mengemas pembelajarannya dalam rangka untuk mencapai beberapa aspek . Aspek kognitif dan psikomotor dapat dinilai dari penilaian tindak bahasa (actional competence) sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum, antara lain kompetensi mendengar, kompetensi berbicara, kompetensi membeca dan kompetensi menulis. Disamping kompetensi-kompetensi tindak bahasa yang diukur guru seyogyanya mampu untuk meningkatkan pembelajarannya misalnya meningkatkan kompetensi sikap. Yang dalam pengukurannya bisa dilakukan dengan pengamatan, angket dan wawancara yang dituangkan dalam bentuk deskripsi hasil penilaian.
     Implementasi Kurikulum 2004 dan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL) perlu diupayakan dalam rangka untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Disamping situasi pembelajaran seperti tersebut diatas pencapaian kompetensi merupakan prioritas utama dalam tujuan pembelajaran untuk itu perlu diupayakan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.
     Media pembelajaran Magic Whist dengan langkah metode BangMoGI merupakan salah satu alternatif model pembelajaran untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, khususnya pembelajaran teks report.
     Adapun pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas saya laksanakan pada kelas 3 SMP Negeri 2 Gombong semester 1 tahun pelajaran 2006/2007.

Berikut desain penelitian ini saya bagi dalam beberapa tahapan yakni:
1. Persipan (Preparing)            : Juni  2006
2. Perencanaan(planning)        : Juni-Juli minggu ke 2  2006
3. Pelaksanaan ( Acting)         : Siklus I  Juli minggu IV s/d Agustus minggu I 2006
                                                : Siklus II Agustus minggu II dan III
4. Pelaporan (Reporting)         :  Agustus minggu ke IV pengumpulan dan                                                                   analisis data-data yang ada.
                                                :  September minggu I penulisan, penjilidan                                                                  dan pelaporan penelitian

     Pada tahap pelaksanaan (acting)  saya bagi dalam siklus dan masing-masing siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.
     Optimalisasi pembelajaran teks report dengan menggunakan Magic Whist akan saya teliti melalui 2 siklus penelitian  yaitu pembelajaran teks report benda mati dan teks report benda hidup. Pembelajaran teks report benda mati merupakan siklus I , pembelajaran teks report benda hidup merupakan siklus II. Masing-masing pembelajaran jenis teks report ini saya alokasikan waktu dalam 8 pertemuan masing-masing selama  2 jam pelajaran. Untuk pengayaan dan peningkatan kwalitas maupun kwantitas hasil tulisan siswa, saya lakukan dalam bentuk penugasan di luar jam pelajaran dan dibuktikan dengan kumpulan portofolio siswa. Saya menggunakan media pembelajaran Magic Whist dengan langkah-langkah metode BangMoGI pada kedua siklus tersebut.

a. Siklus I : Pembelajaran menulis teks report benda mati
     Pembelajaran pada siklus I menggunakan media pembelajaran Magic Whist dengan langkah-langkah pembelajaran metode BangMoGI. Magic Whist pada siklus I ini menggunakan gambar-gambar barang atau benda mati. Pembelajaran yang dibelajarkan adalah menulis teks report benda mati. Langkah-langkah dalam siklus ini adalah sebagai berikut:
1)      Perencanaan(Planning), meliputi:
a)      Penyusunan  lesson plan.
b)      Menyiapkan materi berdasarkan Teacher’s notes.
c)      Menyiapkan media pembelajaran Magic Whist.
d)     Menyiapkan model-model teks report benda mati.
e)      Menyiapkan showing board.
f)       Menyiapkan instrumen penilaian.
g)      Menyiapkan blangko pengamatan.
2)      Pelaksanaan Tindakan(Acting)
Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan  Lesson Plan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Pre-activity meliputi: greeting, check the class, motivating activities.
b)      While-activity, meliputi:
1)) Bang (membangun/building)
Langkah pertama adalah membangun motivasi, pengetahuan baru dan menggali pengetahuan yang sudah siswa miliki, dengan cara tanya jawab, kuis, dan inqury. Dalam siklus I semua kegiatan untuk membangun pengetahuan hal-hal yang berhubungan dengan teks report benda mati.
2)) Mo (Model/modeling)
Langkah kedua adalah untuk memberikan model teks report benda mati ragam tulis yang memberikan informasi tentang tujuan sosial, struktur umum dam fitur-fitur kebahasaan.
3)) G (Grup/grouping)
Langkah ketiga adalah memberikan pembelajaran bagaimana kerja kelompok sehingga masing-masing siswa dalam kelompok itu bisa saling berkolaborasi. Dengan kerja kelompok siswa mendapatkan pengalaman yang sangat memberikan nilai positif dan memberikan pengetahuan bahwa manusia bukan makhluk individual tetapi makhluk sosial yang dalam kehidupan sehari-hari agar dapat saling memberi dan menerima (take and give).
4)) I (Individual/Independent)
Langkah keempat adalah untuk memberikan penugasan secara individual. Langkah ini memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran dikuasai siswa. Selaras dengan nafas mastery learning dikatakan bahwa setiap siswa dapat menguasai pembelajaran yang disajikan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dalam tahap inilah suatu kompetensi yang sesungguhnya dapat dilihat/diukur/dinilai. Hati-hatilah untuk masuk ke langkah kerja individual karena jumlah siswa yang banyak, akan banyak juga waktu untuk mengkoreksi hasil siswa. Untuk itu pada tahap kerja kelompok pengamatan  dilakukan untuk mengetahui apakah para siswa sudah menguasai apa belum, jika belum alangkah bijak jika pembelajaran diulang untuk memberikan pengetahuan yang cukup untuk menuju ke-kegiatan individual. Karena sedapat mungkin peran guru diminimalkan, bila perlu para siswa betul-betul sudah mampu untuk melakukan tugas tanpa bantuan orang lain. 
c)      Post-activity meliputi: refleksi, pemberian tugas untuk dikerjakan di luar jam pelajaran dan closing.
3)      Pengamatan (Observing)
Selama kegiatan dilakukan pengamatan hal-hal sebagai berikut:
a)      Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran seperti: berapa kali siswa bertanya, berapa kali siswa menjawab, berapa kali siswa berekspresi dan berapa kali siswa mempraktekkan.
b)      Seberapa jauh siswa mengerjakan tugas yang saya berikan.
c)      Seberapa cepat siswa melaksanakan tugas dengan waktu terbatas.
d)     Seberapa jauh siswa dapat berkolaborasi dengan teman kelompoknya.
4)      Refleksi (Reflecting)
Refleksi digunakan untuk mengetahui seberapa besar perolehan proses dan hasil pembelajaran yang saya lakukan. Sejauh mana pelaksanaan tindakan pada siklus I berjalan efektif dan berdampak positif bagi proses pembelajaran. Kekurangan dan kelebihan yang terjadi, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan tindakan pada siklus II.

a. Siklus II : Pembelajaran menulis teks report benda hidup
     Pembelajaran pada siklus II menggunakan media pembelajaran Magic Whist dengan langkah-langkah pembelajaran metode BangMoGI. Magic Whist pada siklus II ini menggunakan gambar-gambar benda hidup. Pembelajaran yang dibelajarkan adalah menulis teks report benda hidup. Langkah-langkah dalam siklus ini adalah sebagai berikut:
1)      Perencanaan(Planning), meliputi:
a.       Penyusunan  lesson plan.
b.      Menyiapkan materi berdasarkan Teacher’s notes.
c.       Menyiapkan media pembelajaran Magic Whist.
d.      Menyiapkan model-model teks report benda hidup.
e.       Menyiapkan showing board.
f.       Menyiapkan instrumen penilaian.
g.      Menyiapkan blangko pengamatan.

2)      Pelaksanaan Tindakan(Acting)
Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan  Lesson Plan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.      Pre-activity meliputi: greeting, check the class, motivating activities.
b.      While-activity, meliputi:
1)) Bang (membangun/building)
Langkah pertama adalah membangun motivasi, pengetahuan baru dan menggali pengetahuan yang sudah siswa miliki, dengan cara tanya jawab, kuis, dan inqury. Dalam siklus I semua kegiatan untuk membangun pengetahuan hal-hal yang berhubungan dengan teks report benda hidup.
2)) Mo (Model/modeling)
Langkah kedua adalah untuk memberikan model teks report benda hidup ragam tulis yang memberikan informasi tentang tujuan sosial, struktur umum dam fitur-fitur kebahasaan.

3)) G (Grup/grouping)
Langkah ketiga adalah memberikan pembelajaran bagaimana kerja kelompok sehingga masing-masing siswa dalam kelompok itu bisa saling berkolaborasi. Dengan kerja kelompok siswa mendapatkan pengalaman yang sangat memberikan nilai positif dan memberikan pengetahuan bahwa manusia bukan makhluk individual tetapi makhluk sosial yang dalam kehidupan sehari-hari agar dapat saling memberi dan menerima (take and give).
4)) I (Individual/Independent)
Langkah keempat adalah untuk memberikan penugasan secara individual. Langkah ini memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran dikuasai siswa. Selaras dengan nafas mastery learning dikatakan bahwa setiap siswa dapat menguasai pembelajaran yang disajikan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dalam tahap inilah suatu kompetensi yang sesungguhnya dapat dilihat/diukur/dinilai. Hati-hatilah untuk masuk ke langkah kerja individual karena jumlah siswa yang banyak, akan banyak juga waktu untuk mengkoreksi hasil siswa. Untuk itu pada tahap kerja kelompok pengamatan  dilakukan untuk mengetahui apakah para siswa sudah menguasai apa belum, jika belum alangkah bijak jika pembelajaran diulang untuk memberikan pengetahuan yang cukup untuk menuju ke-kegiatan individual. Karena sedapat mungkin peran guru diminimalkan, bila perlu para siswa betul-betul sudah mampu untuk melakukan tugas tanpa bantuan orang lain. 
c.       Post-activity, meliputi: refleksi, pemberian tugas untuk dikerjakan di luar jam pelajaran dan closing.
3)      Pengamatan (Observing)
Selama kegiatan dilakukan pengamatan hal-hal sebagai berikut:
a.       Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran seperti: berapa kali siswa bertanya, berapa kali siswa menjawab, berapa kali siswa berekspresi dan berapa kali siswa mempraktekkan.
b.      Seberapa jauh siswa mengerjakan tugas yang saya berikan.
c.       Seberapa cepat siswa melaksanakan tugas dengan waktu terbatas.
d.      Seberapa jauh siswa dapat berkolaborasi dengan teman kelompoknya.
4)      Refleksi (Reflecting)
Refleksi digunakan untuk mengetahui seberapa besar perolehan proses dan hasil pembelajaran yang saya lakukan. Sejauh mana pelaksanaan tindakan pada siklus II berjalan efektif dan berdampak positif bagi proses pembelajaran. Kekurangan dan kelebihan yang terjadi, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan/masukan untuk pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas selanjutnya.

     Berdasarkan hasil pengamatan, penilaian  dan hasil tulisan siswa dari siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa pencapaian hasil belajar dan kompetensi yang diharapkan sudah dapat diketahui dan keefektifan media pembelajaran Magic Whist telah dapat mengoptimalkan pembelajaran teks report pada siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Gombong semester 1 tahun pelajaran 2006/2007. Untuk itu penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran teks report menggunakan media pembelajaran Magic Whist dengan metode BangMoGI saya hentikan pada siklus II.

D. Hipotesis tindakan
     Atas dasar kajian teori diatas dapat ditarik hipotesis tindakan bahwa media pembelajaran Magic Whist dengan metode BangMoGI telah berhasil dalam mengoptimalkan proses pembelajaran teks report.






BAB III
METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
     Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Gombong Kabupaten Kebumen Propinsi Jawa Tengah. Sekolah tersebut merupakan sekolah negeri yang sejak tahun pelajaran 2004/2005 ditetapkan sebagai salah satu rintisan Sekolah Standar Nasional (SSN).
     Letak sekolah ada di kota kecamatan Gombong kearah barat kurang lebih 24 kilometer dari kota Kebumen yang beralamatkan di jalan Kartini 2 Gombong.
     SMP Negeri 2 Gombong memiliki fasilitas gedung yang terbagi menjadi beberapa ruang. Ruang-ruang tersebut adalah: limabelas ruang kelas terbagi 3 tingkatan masing-masing tingkat  terdiri dari 5 kelas paralel yaitu: kelas 7a, 7b, 7c, 7d, 7e, 8a, 8b, 8c, 8,d, 8e, 9a, 9b, 9c, 9d dan 9e; satu ruang perpustakaan; satu ruang laboratorium IPA; satu ruang computer; satu ruang multimedia; satu ruang kesenian; satu ruang penyimpanan peralatan drumband dan alat musik; satu ruang BP; satu ruang Kepala Sekolah; satu ruang guru; satu ruang TU; satu ruang UKS dan OSIS; satu ruang gudang; dua kamar mandi guru dan karyawan; dua belas kamar mandi/wc siswa; dua tempat parkir sepeda siswa; sebuah tempat parkir kendaraan guru dan karyawan; sebuah kantin siswa dan sebuah koperasi siswa.



2. Waktu Penelitian  
     Adapun pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2006/2007. Berikut jadwal waktu penelitian yang saya bagi dalam beberapa tahapan yakni:
            a. Persipan (Preparing)            : Juni  2006
            b. Perencanaan(planning)        : Juni-Juli minggu ke 2  2006
            c. Pelaksanaan ( Acting)         : Siklus I  Juli minggu IV s/d Agustus minggu I 2006
                                                            : Siklus II Agustus minggu II dan III
            d. Pelaporan (Reporting)         :  Agustus minggu ke IV pengumpulan dan                                                                  analisis data-data yang ada.
                                                             :   September minggu I penulisan, penjilidan                                                                   dan pelaporan penelitian

B.  Subyek Penelitian
     Subyek penelitian adalah guru dan siswa. Obyek penelitian adalah siswa, media Magic Whist, metode BangMoGI keaktifan siswa, performance, end product siswa dan portfolio siswa. Guru peneliti adalah saya, guru SMP Negeri 2 Gombong kelas 3 yang dalam hal ini sebagai subyek penelitian. Saya mulai mengajar di SMP sejak tahun 1989 sampai sekarang. Saya lulus D2 pendidikan Bahasa Iggris tahun 1987 IKIP Negeri Yogyakarta, dan pada tahun 2003 menyelesaikan S1-nya melalui Universitas terbuka. Saya pernah mengajar di SMP Negeri 3 Suai Kabupaten Covalima sejak tahun 1989 sampai dengan tahun 1999. Dan sejak Oktober 1999 saya mengajar di SMP Negeri 2 Gombong sebagai guru bahasa Inggris sampai dengan sekarang.
     Siswa yang dilibatkan dalam penelitian adalah siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2006/2007. Jumlah siswa pada setiap kelasnya ada 40 siswa. Kelas yang saya gunakan untuk penelitian adalah kelas 3a yang sebenarnya kondisi siswa masing-masing kelas relatif sama dalam hal kepandaiannya karena pembagian diatur sedemikian rupa agar kodisinya relatif sama. Siswa yang masuk di SMP Negeri 2 Gombong adalah siswa yang sebagian besar anak-anak yang berprestasi di SD asal karena SMP Negeri 2 Gombong diakui sebagai SMP tujuan utama bagi siswa SD yang berprestasi di Gombong. Dengan demikian tugas sekolah untuk meningkatkan semua potensi yang sudah dimiliki sebelum siswa tersebut menjadi murid SMP Negeri 2 Gombong .

C. Sumber data
     Sumber data yang akan saya teliti antara lain hasil isian blangko ’ Students self-assessment’ untuk mengetahui keaktifan siswa, nilai perfomance, authentic assessment baik proses maupun hasil dan data-data lain yang mendukung penelitian.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
      a. Analisis data keaktifan siswa.
      Observasi kelas dilakukan untuk memperoleh data tentang keaktifan  siswa selama proses pembelajaran maupun sikap dan tingkah laku sehari-hari melalui tabel aktivitas siswa yang diisi oleh siswa sendiri dengan memberi tally pada kolom aktivitas pada minngu ke berapa dan bulan apa.

b. Performance assessment.
      Melalui performance siswa saya lakukan authentic assessment. Performance siswa dapat individual, pasangan atau kelompok. Kegiatan ini dilakukan selama proses pembelajaran.

c. End-product assessment dan portfalio
      Data saya ambil dari hasil penilaian hasil tulisan siswa secara individual maupun hasil portfolio siswa.

2. Alat Pengumpulan Data
     Adapun alat pengumpulan data antara lain: blangko Student Self-Assessment, rubrik penilaian performace siswa, dan rubrik penilaian menulis siswa.

E. Validitas data
     Untuk memenuhi validitas data maka saya dan semua yang terlibat dalam penelitian tindakan ini menggunakan lima kriteria seperti yang dikemukakan oleh Burns (1999 :61) yaitu:

1. Valitiditas demokratik (Democratic validity).
     Kriteria ini memberi kesempatan yang luas pada saya untuk benar-benar kolaboratif dan menerima masukan dari berbagai pendapat. Semua yang berhubungan dengan penelitian tindakan dapat dijadikan bahan masukan data. Kriteria ini untuk mencegah terjadinya penelitian yang bias karena keterandalan penelitian merupakan hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan dari suatu penelitian.

2. Validitas hasil (Outcome validity)
     Kriteria ini berhubungan dengan hasil dalam hal ini dalam konteks penelitian. Hasil penelitian yang dimaksud bukan hanya pemecahan masalah tetapi juga munculnya pertanyaan baru yang semua ini juga tergantung pada validitas proses.

3. Validitas katalistik (Catalytic validity)
     Kriteria ini berhubungan dengan sejauh mana penelitian ini dapat memberi kesempatan pada peserta penelitian untuk merespon perubahan yang terjadi pada diri mereka kesiapan mereka dengan perubahan-perubahan tersebut.

4. Validitas dialogis (Dialogic validity)
     Kriteria ini dilaksanakan dengan cara dialog dengan praktisi sebaya, atau melalui kolaboratif inkuiri atau dialog reflektif dengan teman yang kritis atau dengan praktisi peneliti yang lain, yang dapat memberi ktitik dan saran.

F. Analisis Data
     Analisa data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kwantitatif berupa analisa hasil asseesmen
t baik lisan maupun tertulis, performance, end-product dan portfolio. Dalam hal ini saya lakukan analisa data yang ada. Hasil analisa untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut pada siklus-siklus berikutnya termasuk didalamnya untuk menyelenggarakan program perbaikan dan pengayaan serta penelitian tindakan kelas selanjutnya.

G. Indikator Kinerja
     Adapun indikator keberhasilan penelitian adalah jika kondisi siswa menunjukkan adanya keaktifan dalam proses pembelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan serta adanya hasil end-product teks report bentuk tulis yang berterima.

H. Prosedur Penelitian
     Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang berfokus pada keefektifan media pembelajaran Magic Whist melalui metode BangMoGI dalam mengoptimalkan pembelajaran teks report. Alur penelitian saya lakukan secara sirkulasi. Maksudnya tindakan I, II dan seterusnya merupakan lingkaran penelitian yang saling mendukung dan saling berhubungan.  Saya gambarkan seperti dalam diagram pada gambar 4.

Cycle Diagram                 













Up Arrow: Kegiatan  Awal






Gambar 4: Alur Sirkulasi Penelitian Tindakan

     Penelitian dilakukan secara kontinuitas dan siklik, yakni amusing (perenungan) untuk menentukan masalah, preparing (persiapan), planning (perencanaan) dilanjutkan dengan tindakan dalam siklus yang masing-masing siklus mangalami empat tahapan kegiatan yaitu: planning ( perencanaan), acting (tindakan), observing (pengamatan) dan reflecting (refleksi). Peningkatan validasi hasil juga dilakukan dengan melibatkan barbagai unsur yang terkait dalam penelitian tindakan kelas ini. Karena dalam pembelajaran pembelajaran teks report ada dua jenis teks yaitu teks report benda mati dan teks report benda hidup maka saya lakukan penelitian tindakan kelas ini dalam dua siklus dan saya hentikan pada  siklus ke dua karena keberhasilan sudah dapat dilihat.

DAFTAR PUSTAKA  

Agustin, Helena I.R, Dra., M.A., PhD. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Dirjendikdasmen.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan MTs. Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Panduan Materi Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006.. Jakarta : Balitbang Pusat Penilaian Nasional.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004.Pelajaran Bahasa Inggris kelas IX Sekolah Lanjutan Pertama Edisi 2Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan Kontekstual. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
DePorter,Bobbi,&Hernacki,Mike. 2005. Quantum Learning. Bandung: Mizan
Leonhardt, Mary. 2005. Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Priyono, Andreas, Drs. , Dipl,Art,M.Sc.Ed. dan Drs. H. Djunaedi. 2001. Petunjuk Praktis Classroom Based Action Reseach. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng.
Purnomo, Bambang. 2006. Implementasi Kurikulum 2004 dan Contextual Teaching and Learning Approach (CTL) melalui Metode BangMoGI. Kebumen: SMP Negeri 2 Gombong



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar