Rabu, 09 November 2011

PENGARUH PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA


 PROPORSAL TESIS
PENGARUH PENGGUNAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP
 HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS
 DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA 
Oleh:
Bambang Purnomo

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
     Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapai tantangan sesuai  dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Oleh karena itu proses dan mutu pembelajaran perlu ditingkatkan agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga anak didik dapat menggembangkan potensi diri dan dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
     Kurikulum 2004,  yang merupakan embrio dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang selanjutnya dikembangkan lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengamanatkan bahwa setiap lulusan harus telah memiliki kompetensi yang diprasaratkan dalam standar kompetens maupun kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam kurikulum tersebut. Model kompetensi ini dirumuskan sebagai kompetensi berkomunikasi yang mempunyai tujuan akhir pada pencapaian kompetensi wacana (discourse competence).
      Kompetensi wacana memprasaratkan bahwa peserta didik dalam menggunakan bahasa dalam komunikasi harus selalu secara tepat mempertimbangkan konteks budaya dan konteks situasi. Kompetensi wacana tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompetensi kebahasaan yang lain yang meliputi kompetensi tindak bahasa dan retorika (yang tercakup dalam actional competence), kompetensi linguistic (linguistic competence), kompetensi sosiokultural (sociocultural competence) dan kompetensi strategis (strategic competence). Selain kelima kompetensi tersebut, kurikulum 2004, KBK, KTSP juga melihat sikap sebagai hasil belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut perlu proses pembelajaran yang berkwalitas. Misalnya kreatifitas dan inovatif pembelajaran guru perlu ditingkatkan, hasil pembelajaran bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan  baik secara kwantitas maupun kwalitasnya, keaktifan dan kreatifitas siswa perlu ditingkatkan, degradasi moral dalam masyarakat khususnya  siswa-siswa usia Sekolah Menengah Pertama Negeri kususnya dan usia remaja pada umumnya perlu dicegah dan ditangani dengan arif dan bijaksana, pemilihan dan atau pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan sekaligus dapat mengembangkan budaya nasional dan mengangkat potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia.
     Keberhasilan atau kegagalan suatu pendidikan pada dasarnya dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku atau dari prestasi hasil pembelajaran yang dicapai oleh orang yang telah mendapat proses pembelajaran . Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan selalu mendapatkan hasil yang optimal, kadang-kala juga menemui kegagalan.
     Mata pelajaran bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain untuk itu agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan informasi tentang karakteristik mata pelajaran bahasa Inngris. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagi alat komunikasi. Hal ini mengidikasikan bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai bahasa Inggris jika dia belum dapat menggunakan bahasa Inggris   untuk keperluan komunikasi.
     Kenyataan siswa belajar bahasa Inggris selama empat jam pelajaran setiap minggu di Sekolah Menengah Pertama Negeri, tetapi kemampuan berbahasa Inggris masih rendah. Ada tiga masalah yang mengemuka dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya dan di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen pada khususnya . Persoalan pertama adalah masih rendahnya pencapaian hasil belajar bahasa Inggris siswa (real scholastic achievement). Indikator kasarnya dapat dilihat dari hasil ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 masih banyak anak yang tidak lulus.
     Permasalahan kedua adalah ketidakmampuan siswa dalam menggunakan ketrampilan berbahasa (language skill) yang mereka pelajari dalam komunikasi berbahasa Inggris. Hal tersebut berdasarkan pengamatan dan informasi gugu-guru bahasa Inggris di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen. Keadaan tersebut pada umumnya disebabkan pembelajaran bahasa Inggris hanya mengacu pada soal-soal Ujian Nasional dalam hal ini hanya mencakup terutama ketrampilan membaca pemahaman (Reading comphrehension), sedangkan ketrampilan berbicara (speaking), mendengar (listening) dan menulis (writing) terabaikan.
     Kenyataan lain yang terjadi di lapangan adalah belum optimalnya guru dalam memilih bahar ajar, media pembelajaran dan metode pembelajaran sehingga pembelajaran tidak dapat mencapai kompetensi sesuai apa yang diharapkan, selain itu dengan perubahan kurikulum 2004, KBK, KTSP belum semua guru mengetahui dam memahami isi dari apa yang dimaksud dalam kurikulum tersebut,  maka dari itu profesionalisme guru harus selalu ditingkatkan.
            Ketidak optimalan tersebut diatas dikarenakan pembelajaran selama ini dilakukan sacara konvensional, misalanya; pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah tidak bervariasi, ceramah tanpa menggunakan media, ceramah dengan hanya tanya jawab, dan sebagainya. Sehingga pembelajaran belum mengoptimalkan alat perespon yang dimiliki peserta didik secara optimal karena masing-masing memiliki gaya belajar sendiri-sendiri. Ada yang bergaya belajar audio, yaitu peserta didik akan optimal dengan metode caramah, gaya belajar visual, peserta didik akan optimal dalam belajarnya jika disertai tayangan atau media yang bisa direspon lewat alat indera pengihatannya dan ada juga peserta didik yang bergaya belajar kinestetik, dalam hal ini peserta didik akan optimal jika pembelajaran mengaktifkan fisik atao otot mereka untuk melakukan dan merespon stimulus yang diberikan.
            Gaya belajar setiap individu biasanya memiliki gaya belajar tidak hanya satu tetapi mungkin ada yang memiliki gaya belajar  dua atau tiga macam. Bagi peserta didik yang demikian biasanya akan lebih mudah merespon stimulus yang disampaiakan oleh pendidik dibandingkan pembelajar yang hanya memiliki hanya stu gaya belajar, dan mereka yang, memiliki gaya belajar yang lebih dari satu mereka umumnya mudah menyesuaikan terhadap stimulus yang ada.
            Untuk itu untuk mengoptimalkan keaktifan siswa perlu adanya pendekatan pembelajaran yang sesuai sehingga dapat meningkatkanhasil belajar yang peserta didik lakukan. Hasil belajar dalam hal ini meliputi dua hal yaitu: hasil proses pembelajaran dan hasil pestasi belajar atau disebut hasil belajar saja.
     Dari pengamatan yang peneliti lakukan bahwa sebagian besar siswa belum optimal dalam memeperoleh hasil pembelajarannya. Hal ini terjadi karena para pendidik belum menggunakan pendekatan pembelajaran yang dapat mengaktifkan proses pembelajaran sehingga semua kompetensi yang harus dimiliki peserta didik dapat dibelajarkan secara optimal. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut diatas adalah pendekatan pembelajaran kontesktual (Contextual Teaching and Learning Approach) yang selanjutnya disebut dengan pendekatan kontekstual.

B. Identifikasi Masalah
      Masalah-masalah yang dapat peneliti identifikasi dintaranya adalah sebagai berikut:
1.      Pengaruh  metode pembelajaran yang bervariatif terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
2.      Pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual/Cotextual Teaching and Learning terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
3.      Pengaruh pembelajaran paikem terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
4.      Pengaruh model pembelajaran integrated terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
5.      Pengaruh aktifitas siswa  terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
6.      Pengaruh kreatifitas terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
7.      Pengaruh motivasi siswa terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
8.      Pengaruh kedisiplinan siswa terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
9.      Pengaruh tingkat kecerdasan siswa terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
10.  Pengaruh rasa senang siswa terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen

C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan dengan tujuan menghomogenkan data populasi, Dengan teknik random sampling yang digunakan untuk mendapatkan  30-40 responden tersebut minimal akan terkait dengan empat hal kerena populasi tidak homogen. Pertama melilih sekolah yang akan digunakan sampel, kerena ada 4 kategori sekolah tetapi masing-masing jumlahnya tidak proporsional maka peneliti menggunakan disproporsional stratified random sampling. Dari teknik ini peneliti akan menentukan dua kategori sekolah yang akan digunakan sebagai sekolah sampel. Dalam hal ini diambil 1 sekolah RSSN dan 1 SSN.  Kedua, karena wilayahnya mencakup sekabupaten peneliti perlu melanjutkan teknik random sampling untuk efisiensi dengan menggunakan cluster random sampling (area random sampling) yaitu untuk menentukan wilayah yang memiliki SSN atau RSSN. Dengan teknik tersebut peneliti mendapatkan Kecamatan Gombong sebagai tempat penelitian dan sekolah yang digunakan untuk tempat penelitian dengan teknik random sampling yaitu Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong sebagai sekolah kontrol dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong sebagai sekolah ekperimen. Ketiga menentukan kelas sampel, dengan teknik random sampling peneliti mendapatkan siswa kelas 9a Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong sebagai kelas ekperimen (untuk pembelajaran pembelajaran kontekstual ) dan siswa kelas 9b Sekolah  Menengah Pertama Negeri 3 Gombong sebagai  kelas kontrol (untuk pembelajaran konvensional.
      Dari identifikasi masalah yang ada, penelitian dibatasi pada masalah sebagai berikut:
1.      Pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.
2.      Pengaruh keaktifan siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.
3.      Interaksi penggunaan pembelajaran kontekstual  dan keaktifan siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.

D. Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah penelitian diatas, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
a.       Apakah ada pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
b.      Apakah ada pengaruh aktifitas siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
c.       Apakah ada interaksi penggunaan pembelajaran kontekstual dan keaktifan siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?

E. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum
     Secara umum peneltitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kontekstual  dan aktifitas siswa  terhadap hasil belajar.

2. Tujuan Khusus
            Selain tujuan umum penelitian ini juga memiliki tujuan khusus, adapun tujuan khusu  dari penelitian ini adalah ebagai berikut:
            Kegiatan ini memiliki tujuan khusus antara lain sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
b.      Untuk mengetahui pengaruh aktifitas siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
c.       Untuk mengetahui interaksi penggunaan pembelajaran kontekstual dan keaktifan siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?

Secara umum penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual dan aktifitas siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen

F. Manfaat Peneltitian

     a. Bagi Pendidik
                         Memberikan informasi faktual tentang pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual  dan aktifitas siswa terhadap hasil belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.
b. Bagi lembaga/instansi.
                 Hasil penelitian ekperimen tentang pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual dan aktifitas siswa terhadap hasil belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen sebagai bahan masukan dalam menyiapkan program-program pengembangan peningkatan kualitas pendidikan  pada program tahun berikutnya.

d.      Bagi Peneliti Lain
Semoga hasil penelitian ekperimen tentang pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual  dan aktifitas siswa terhadap hasil belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen dapat dikembangkan untuk penelitian pada mata pelajaran yang lain.


BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

            Deskripsi teori yang dibahas dalam penelitian ini adalah teori-teori yang berhubungan dengan variabel-variabel yang akan diteliti antara lain adalah sebagau berikut:

1. Contextual Teaching and Learning (Pembelajaran Kontekstual)
        Contextual Teaching and Learning Approach  (pembelajaran kontekstual approach) merupakan pendekatan pembelajaran dimana proses pembelajaran seoptimal mungkin mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks yang ada di dunia nyata sehingga siswa dapat menerapkan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran untuk bisa survival dalam hidup yang sebenarnya kelak. Dan bekal yang sudah mereka miliki merupakan modalitas untuk ketrampilan hidup (life skill). Menurut Zahorik pengertiannya adalah sebagai berikut:
        “Knowledge is constructed by humans. Knowledge is not a set of facts, concept,          or laws waiting to be discovered. It is not something that exists independent of a    knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring                       meaning to their experience. Everything that we know, we have made”
        Zahorik : Contextual Teaching-Learning (2003:3)

        Menurut Elaine B. Johnson ada tujuh strategi penting dalam berupaya melaksanakan pembelajaran dengan mengggunakan pendekatan pembelajaran kotekstual antara lain sebagai berikut: pengajaran berbasis masalah, menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian autentik dan mengejar standard tinggi. (Elaine B. Johnson, 2010:21-23)
        Disamping itu ada tujuh prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
1.      Kontruktivisme (Constructivism)
Constructivsm (Konstruktivisme) merupakan landasan filosofis pendekatan pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui koteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konnyong. Pengetahuan bukan seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata. (Depdiknas 2002:10-11)
2.      Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. (Depdiknas 2002: 12)  Lima siklus inkuiri adalah:
a.       Observasi (Observing)
b.      Bertanya (Quetioning)
c.       Mengajukan dugaan (Hipotesis)
d.      Pengumpulan data (Data gathering)
e.       Penyimpulan (Conclussion)
3.      Bertanya (Questioning)
4.      Pemodelan (Modeling)
5.      Belajar Berkelompok (Learning Community)
6.      Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
7.      Refleksi (Reflection)
        Dengan didasari teori belajar kontruktivistik bahwa belajar adalah proses mengkontruksi sesuatu pada seorang individu yang sedang melkukan pembelajaran, bukan peoses transfer ilmu. Pembelajaran akan lebih bermakna jika daya pikir pembelajar dapat mencapai pada tingkat menkontruksi suatu yang mereka dapatkan.
        Pembelajaran kontekstual adalah sebuah system yang tidak berdiri sendiri. Pembelajaran kontekstual mengandung bagian-bagian yang salin terkait dan berhubungan. Dari bagian-bagian yang ada memiliki hal yang unik dan meberi dampak yang tersendiri. Untuk itu agar proses pembelajaran dapat lebih memberi makna bagian-bagian yang terpisah itu dapat saling terkait dan dapat member kontribusi masing-masing sehingga dapat membantu siswa dalam memahami makna dari pembelajaran termasuk materi-materi yang bersifat akademik.
Ada 8 komponen yang terkait dengan pembelajaran kontekstual antara lain sebagai berikut:
1.      Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna
2.      Melakukan pekerjaan yang berarti
3.      Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4.      Bekerjasama
5.      Berfikir kritis dan kreatif
6.      Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7.      Mencapai standar tinggi
8.      Menggunakan penilaian autentik

Menurut Johnson dalam (Elaine B. Johnson, 2010:19) bahwa hakekat pembelajaran kontekstual adalah makna, bermakna, dan dibermaknakan seperti yang tertera dalam kutipan sebagai berikut:
        ... an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with contect of their personal, social, and cultural circumtance. To achieve this aim, the system encompasses the following eight component: making meaningful connections, doing significant work, selt-regulated learning, collaborating, critical an creative thinking, nurturing the individual, reaching high standard, using authentic assessment.(Johnson,2002:25)

2. Pembelajaran Konvensional
        Pembelajaran konvesional yang dimaksud adalah pembelajaran yang dilakukan dengan metode ceramah dengan tanya jawab tanpa menggunakan media pembelajaran. Sehingga pembelajaran belum mengoptimalkan semua kelompok pembelajar dengan gaya audio, visual maupun kinestetik sehingga pembelajaran sangat didominasi oleh peran guru.

3. Hasil Belajar
        Dalam kurikulum tingkat satuan pelajaran dinyatakan bahwa hasil belajar terdiri dari 2 yaitu: hasil belajar berdasarkan penilaian hasil dan penilaian berdasarkan proses. Sehingga penilaian hasil dapat dilakukan dengan tes tertulis sedangkan, penilain proses dapat dilakukan dengan cara pengamatan, dokumentasi foto maupun movie, kuesioner, angket dan cara lain yang dapat memberikan gambaran tentang perose yang terjadi baik dari segi aktivitas siswa, managemen kelas, metode/model/teknik pembelajaran itu berlangsung.
        Menurut caranya dibagi menjadi 2 cara yaitu: dengan cara tes dan non-tes.
Dengan tes itu dilakukan untuk memperoleh hasil pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan pada setiap KD atau beberapa KD, dalam hal ini dikenal dengan ulangan harian, ulangan blok, tes formatif dan tes sumatif, ulangan tengah semester, ulangan semester dan ulangan kenaikan kelas, evaluasi tahap akhir dan atau ujian sekolah maupun ujian nasional.
        Dari data yang diperoleh dapat berupa data nilai kuantitatif maupun kualitatif.
Data nilai kuantitatif semua penilaian yang dilakukan dengan satuan angka misalnya: nilai 0 – 10 atau nilai 0 – 100. Sedangkan data nilai kualitatif dapat berupa penilaian non-angka/data verbal misalnya: amat baik, baik, cukup, kurang, dan kurang sekali atau misalnya sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
        Untuk mengetahui hasil belajar dapat dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis dikelompokan dalam tes yang sifatnya subyektif dan tes yang sifatnya obyektif. Tes subyektif biasanya tes yang berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes untuk mengetahui perolehan hasil belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-cirinya pertanyannya didahului dengan kata-kata seperti; uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Tes obyektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif karena hasil tes dapat dilakukan oleh pihak lain yang tidak harus oleh pengajarnya atau yang membidangi materi yang diteskan. Macamnya adalah seperti; tes benar-salah (true-false), Tes pilihan ganda (Multiple choise test), Menjodohkan (matching test) dan Tes isian tertutup (Completion test). Macam-macam tes diatas biasanya untuk mengukur hasil belajar pada ranah kognitif, sedangkan ranah afektif tidak semudah ranah kognitifuntuk melakukan pengukuran. Pengukuran ranah afektif dalam hal ini misalnya sikap tidak dapat diukur sewaktu-waktu ( dalam arti pengukuran secara formal) karena perubahan tingkah laku tidak dapat berubah sewktu-waktu. Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama termasuk pengembangan minat, penghargaan, serta nilai-nilai. Untuk itu perangkat pengukuran yang digunakan dapat mengunakan catatan-catatan pengamaten, kuesioner atau cara lain yang memungkin dapat dilakukan dan paling cocok dengan kondisi dari yang dinilai atau diukur.
        Ranah yang lain adalah ranah psikomotor. Pengukuran ranah ini untuk mengetahui terhadap hasil-hasil belajaryang berupa penampilan atau ketrampilan. Untuk mengukur hal ini dapat digunakan rubrik penilaian atau pengukuran dengan instrumen menurut skala Likert dengan skor dari kecil ke angka yang lebih besar jika memerlukan data kuantitatif atau data kualitatif dari paling rendah ke paling tinggi, atau dari sangat jelek ke sangat baik dan atau sebaliknnya.
        Hasil belajar adalah sesuatu pencapaian dari suatu kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar dapat diketahui dengan dua cara yaitu; dengan cara pengukuran (kegiatan menentukan kuantitas suatu obyek) dan dengan cara penilaian (kegiatan menentukan kualitas suatu obyek). Karena keduannya ada perbedaan yang prisipiil, kedua kegiatan dapat dikatakan ’dua’ atau dwi, Tetapi kedua kegiatan itu saling berhubungan maka kegiatan itu kadang disebut dengan sebutan’dwitunggal’.Dari pembahasan pengertian pengukuran dan penialain sifat suatu obyek seperti telah disebutkan diatas, bagaimanapun kegiatan tersebut harus dapat benar-benar mewakili sifat suatu obyek. Dengan kata lain skor atau nilai prestasi belajar dapat mewakili prestasi belajar yang sesunggguhnya.
        Kegiatan mengukur sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuantitas sifat suatu obyek melalui aturan-aturan tertentu sehingga kuantitas yang diperoleh benar-benar mewakili sifat suatu obyek yang dimaksud. Kuantitas yang diperoleh dari suatu pengukuran sifat suatu obyek adalah skor, misalnya: 60, 57, 68, 89,75 59,76,75,75,90 dan sebagainya. Kuatitas pengukuran sifat suatu obyek dibedakan menjadi dua yaitu; kuantitas kontinu dan kuantitas niminal. Yang dimaksud skor kontinu adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya mengalami perubahan secara berangsur-angsur, misalnya dari 60 menjadi 60,5 atau menjadi 59,5 dan seterusnya.
Adapun yang dimaksud dengan kuantitas nominal atau deskrit adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya tidak dapat berubah-ubah dari 15 menjadi 15,5 siswa atau 14,5 siswa dan seterusnya. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dalam pengukuran  hasil belajar hanya mengenal kuantitas kontinu. Kuantitas kontinu diatur dalam dua skala yaitu; skala interval dan skala ordinal. Skala interval suatu skala yang tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya sama, sedangkan skala ordinal adalah skala yang tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya tidak sama. Suatu skala tidak mengenal titik nol mutlak maksudnya adanya suatu kuantitas dari sifat suatu obyek dalam skala tersebut tidak terukur oleh suatu alat pengukur, maka diberi angka nol. Tetapi bukan berarti tidak ada kuantitas sama sekali.
        Kegiatan menilai sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuanlitas sifat suatu obyek. Kagiatan tersebut tidak lepas dari skor-skor sifat suatu obyek. Agar skor-skor itu bermakna maka perlu dibandingkan dengan suatu acuan-acuan yang relevan, yang sesuai dengan sifat suatu obyek, misalnya prestasi belajar siswa dalam penguasaan mata pelajaran tertentu. Kegiatan membandingkan harus dilakukan secara obyektif sehingga hasil perbandingan yang berupa makna atau kualitas benar-benar mewakili kualitas hasil belajar yang sesungguhnya. Misalnya; kualifikasinya amat baik, baik, cukup, kurang atau meragukan, amat kurang, atau gagal. 
        Kualitas atau nilai sifat suatu obyek akan ada apabila kuantitas dari sifat suatu obyek tersebut. Demikian pula, kuantitas suatu obyek tidak akan berarti jika kuantitas itu tidak diubah menjadi kualitas.
4. Keaktifan
        Keaktifan berasal dari kata dasar aktif mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga dari kata sifat menjadi kata benda yaitu proses kegiatan aktif. Aktif dimaksud bukan saja aktif jasmani saja dalam hal ini mencakup aktif otak dan perasaan. Sehingga keaktifan tersebut meliputi aktif jasmani, rohani, dan daya pikir manusia. Dengan kata lain, manusia dikatakan aktif jika satu atau lebih dari indera kita berfungsi untuk merespon dari stimulus yang ada, oleh karena itu keaktifan tidak hanya dirtikan aktif karena adanya gerakan badan, kepindahan badan seseorang tetapi orang dapat dikatakan aktif jika fungsi indera seseorang mampu merespon stimulus yang ada sehingga dapat mengaktifkan fungsi otak yang dimiliki individu tersebut. Jadi seseorng kelihatannya diam secara fisik tetapi dapat dikatakan aktif karena mereka sedang melakukan kegiatan mendengar dan berfikir. Dalam hal ini yang aktif bukan fisik secara keseluruhan tetapi fungsi otak yang sedang berfungsi dan tingkat keaktifan otak manusia tidak tidak sama antara individu yang satu dengan lainnya. Pada usia anak-anak (12 – kebawah) sering kali yang lebih dominan adalah keaktifan fisik tetapi setelah melewati usia anak banyak sekali keaktifan yang tadinya fisik bergeser ke-keaktifan non fisik. Karena kebutuhan dari fungsi otak dalam berfikir semakin meningkat.
        Konfusius lebih dari 2000 tahun silam telah menyatakan:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya lihat, saya ingat,
Yang saya kerjakan, saya pahami.
Tiga pernyataan diatas memberikan isyarat bahwa keaktifan dalam belajar adalah perlu. Dengan kata lain belajar aktif sangat diperlukan dalam proses pembelajaran setiap individu. Dan kata bijak itu dimodifikasi dan dikembangkan oleh Melvin L Siberman dengan sebutan Paham Belajar Aktif.
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau didiskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami.
Dari yang dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan ketrampilan.
Yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai. 
        Dari pernyataan-pernyataan diatas sangatlah jelas tingkat keaktifan manusia dalam belajar akan mempengaruhi perolehan hasil belajar yang didapat. Semakin aktif semakin banyak yang diperoleh dalam kegiatan belajar.
Pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut.
Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
·      Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas,
·      Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi kuliah,
·      Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi kuliah,
·      Mahasiswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,
·      Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
Di samping karakteristik tersebut di atas, secara umum suatu proses pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap mahasiswa sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.
Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materi juga meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah 10 menit kuliah, mahasiswa cenderung akan kehilangan konsentrasinya untuk mendengar kuliah yang diberikan oleh pengajar secara pasif. Hal ini tentu saja akan makin membuat pembelajaran tidak efektif jika kuliah terus dilanjutkan tanpa upaya-upaya untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif hal tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada mahasiswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada mahasiswa. Pada akhirnya hal ini akan membuat proses pembelajaran mencapai learning outcomes yang diinginkan.

5. Hasil Belajar Bahasa Inggris
                 Bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
     Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum ini.
     Terdapat beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.

a. Kompetensi
     Kurikulum 2004, yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  menyebutkan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsinten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pada mata pelajaran bahasa Inggris kompetensi dasar yang dikuasi adalah kompetensi mendengar (listening), kompetensi berbicara (speaking), kompetensi membaca (reading) dan kompetensi menulis (writing). Keempat kompetensi dasar tersebut menjadi satu kompetensi berbahasa Inggris.

b. Model Kompetensi
     Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
     Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi berbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :
     




           Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence

















                                                                                                                                     Linguistic                               Actional
                                                                                                                                  Competence                         Competence


       Strategic
     Competence

            Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.)
     Kompetensi utama yang dituju adalah kompetensi wacana (Discourse Competence) yang didukung oleh kompetensi linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi sosiokultural (Sociocultural Competence) dan Kompetensi Tindak Tutur (Actional Competence). Kompetensi writing ada di dalam Actional Competence.

c. Teks
     Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bisa berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis. Oleh karena itu, target kegiatan writing dalam konteks situasi dan kondisi yang beragam akan membantu siswa dalam menghasilkan teks bentuk tulis.
d. Jenis Teks (Genre)
     Yang dimaksud dengan Genre yaitu jenis-jenis teks. Kita mengenal istilah ini dari Kurikulum 2004 yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ada 12 jenis teks yang dijelaskan dalam kurikulum tersebut antara lain: Recount, Report, Discussion, Explanation, Analytical Exposition, Hortatory Exposition, New Item, Anecdote, Narrative, Procedure, Descriptive dan Review. Namun untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)  kelas VII, VIII dan IX kompetensi yang harus dicapai hanya 6 jenis teks yaitu Descriptive, Recount, Narrative, Anecdote, Procedure dan Report.

B. Penelitian Yang Relevan
            Adapun penelitian yang relevan terhadap penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut dibawah ini:
  1. Penelitian oleh Ahmad Sopyan yang berjudul Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran terhadap Hasil Belajar Siswa SMP yang menyimpulkan bahwa: (1) Teknik pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar IPA di SLTP N 9 Tasikmalaya pada penelitian ini, mempengaruhi hasil belajar yang berupa penguasaan keterampilan proses. Penerapan teknik pembelajaran kreatif-divergen memberikan hasil belajar IPA lebih tinggi, dibandingkan dengan penerapan teknik pembelajaran aktif-konvergen.  (2) Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran  siswa yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar IPA berupa keterampilan proses. (3) Hasil analisis data menunjukkan bahwa, bagi siswa berpenalaran operasi formal, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar IPA yang sama dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen. (4) Bagi siswa Bagi siswa berpenalaran operasi konkrit, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar yang lebih baik daripada teknik pembelajaran aktif.
  1. Penelitian tesis oleh Martiyono program pasca sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2009 yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) terhadap Kepribadian Siswa SMP Kelas VII di Kabupaten Kebumen Ditijau dari Kecerdasan Emosional dan Spiritual menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar mata pelajaran PKn aspek kepribadian siswa SMP Kelas VII di Kabupaten Kebumen.
  2. Penelitian tesis Sri Sumaryati di Program Pascasarjana UNS tahun 2008 dengan judul Pengaruh Model Quantum Learning terhadap Prestasi Belajar Mata Kuliah Dasar-Dasar Akuntansi dengan Memperhatikan Motivasi Berprestasi dan Kecerdasan Emosional, yang menyimpulkan bahwa interaksi model pembelajaran, motivasi berprestasi dan kecerdasan emosi dapat mempengaruhi secara signifikan prestasi belajar mata kuliah Dasar-Dasar Akutansi.

C. Kerangka Berfikir
            Adapun kerangka berfikir yang ada adalah seperti terlihat pada diagram 1 pada Bab II  dibawah ini:


Up Arrow Callout: KEAKTIFAN SISWA














Gambar 1: Diagram kerangka berfikir dengan tiga variabel
            Penggunaan Pendekatan Pembelajaran kontekstual/ Contextual Teaching and Learning Approach (Pembelajaran Kontekstual Approach) yang selanjutnya disebut pembelajaran kontekstual saja adalah merupakan variable bebas (X2), variabel stimulus, prediktor, antecedent (independent variable) atau variabel yang mempengaruhi sehingga variabel ini yang menyebabkan adanya perubahan. Pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris siswa karena dalam pembelajaran memiliki prinsip-prinsip yang meliputi metode contructivism, inquiry, questioning, modeling, learning community, authentic assessment dan reflecting. Constructivsm (Konstruktivisme) dalam pendekatan pembelajaran kontekstual dapat membangun pengetahuan manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui koteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konnyong. Pengetahuan bukan seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan demikian peningkatan terhadap hasil belajar dapat ditingkatkan. Karena metode inquiry dalam pembelajaran kontekstual yang menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran maka pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan demikian metode inquiry dengan pendekatan kontekstual tersebut dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris.
            Pembelajaran konvensional adalah merupakan variabel kontrol yang akan dibandingkan dengan  pembelajaran kontekstual  sebagai variabel bebas. Dalam hal ini pembelajaran konvensional hanya mengunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Dalam interaksi pembelajarannya sangat terpusat pada guru (teacher’s centered oriented), sehingga belum bisa mengoptimalkan pembelajara, belum bisa mengkatifkan siswa dan belum dapat pula mengotimalkan hasil pembelaharan khususnya hasil belajar bahasa Inggris
Keaktifan siswa sebagai variabel bebas (X2) yang akan mempengaruhi terhadap penggunaan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar dipengaruhi oleh tingkat keaktifan siswa, semakin aktif semakin tinggi hasil belajar. Dengan kata lain jika, suatu kelas dimanipulasi dengan penggunaan pembelajaran kontekstual dalam pembelajarannya maka hasil belajar maupun proses belajar akan tinggi, dengan catatan tingkat keaktifan siswa juga tinggi. Keaktifan yang diciptakan tidak hanya keaktifan fisik, keaktifan otak dan keaktifan indera perespon lainnya jika ada stimulus. Dalam hal ini misalnya: dengan gerakan badan, kepindahan badan seseorang, berfungsi indera seseorang untuk merespon stimulus yang ada sehingga dapat mengaktifkan fungsi otak yang dimiliki individu tersebut dengan keaktifan yang dioptimalkan akan meningkatkan hasil belajar khususnya hasil belajar bahasa Inggris.
Pembelajaran kontekstual yang didukung oleh tujuh prinsip pembelajaran kontekstual akan dapat meningkatkan keaktifan siswa, dengan keaktifan yang diciptakan itu,  akan mengoptimalkan proses pembelajaran, dengan pembelajaran yang optimal akan meningkatkan hasil belajar khususnya bahasa Inggris. 
Hasil Belajar Bahasa Inggris adalah variable terikat (Y), variabel output, kriteria, konsekuen (dependent variable) atau variabel yang dipengaruhi. Variable ini mencakup hasil pembelajaran bahasa Inggris yang sudah mencakup hasil pembelajaran membaca (reading),menulis (writing), berbicara (speaking) dan mendengar (listening).

D. Hipotesis Penelitian
            Berdasarkan kerangka berfikir diatas dapat ditetapkan hipotesi sebagai berikut:
1.      Ada pengaruh yang signifikan penggunaan pembelajaran kontekstual  dibandingkan metode konvensional terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
2.      Ada pengaruh yang signifikan keaktifan siswa yang tinggi terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
3.      Ada interaksi yang signifikan penggunaan pembelajaran kontekstual dan aktifitas siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
            Tempat penelitian dilakukan pada sekolah standar nasional di kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen. Untuk kelas pembelajaran konvensional yaitu kelas 9b Sekolah Menegah Pertama Negeri 3 Gombong Kabupaten Kebumen dan untuk kelas eksperimen adalah siswa kelas 9a Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong Kabupaten Kebumen.

2. Waktu Penelitian
            Waktu penelitian direncanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 selama bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2011. Kegiatan meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan ekperimen, dan pasca eksperimen. Waktudan kegiatan secara terperinci seperti pada tabel 1 pada bab III di bawah ini:

Tabel 1
NO
KEGIATAN
TAHUN 2011
KET
Jn
Fb
Mr
Ap
Me
Ju
1
Persiapan







a. Observasi awal di lokasi penelitian
Y






b. Penyusunan proporsal penelitian
Y
Y
Y




c. Penyusunan RPP

Y
Y




d. Penyusunan instrumen penelitian

Y
Y




e. Ijin penelitian


Y




f. Uji coba instrumen penelitian


Y




g. Analisis validitas dan reliaabilitas instrumen


Y




2
Pelaksanaan Eksperimen







a. Pre-tes



Y



b. Kegiatan eksperimen pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan berpedoman pada RPP



Y
Y


c. Post-tes




Y


3
Pasca Eksperimen







a. Analisis data penelitian





Y

b. Penulisan laporan penelitian





Y


B. Desain penelitian
Oval: HASIL
BELAJAR
BAHASA
INGGRIS            Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dalam bentuk penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah ”penelitian yang variabel akan diteliti (variabel terikat) kehadirannya sengaja ditimbulkan dengan memanipulasi menggunakan perlakuan”  (Purwanto, 2008: 180). Adapun desain penelitiannya dapat digambarkan dalam diagram 1 pada bab III di bawah ini:
 

           


 




Gambar 1: Diagram desain penelitian

            Dari gambar 1 pada bab III di atas penelitian melibatkan dua variabel bebas dan satu variabel terikat: Uraian ketiga variabel diatas adalah sebagai berikut:
1. Variabel pertama penelitian ini sebagai variabel terikat adalah hasil belajar bahasa Inggris. Hasil belajar bahasa Inggris merupakan data ordinal dari rekapitulasi hasil pre-tes dan post-tes.
2. Variabel kedua penelitian ini adalah penggunaan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai variabel bebas. Penggunaan pembelajaran kontekstual yang diimplementasikan pada kelas 9 SMP merupakan model pembelajaran yang dimanipulasi. Rancangan pembelajaran tersusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3. Variabel ketiga penelitian ini adalah keaktifan yang mempengaruhi hasil belajar bahasa Inggris hal ini dapat dilihat dari interaksi dari pembelajaran kontekstual yang dimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Pedoman keaktifan siswa tinggi dan rendah dapat dilihat dari pedoman skoring dari angket keaktifan yang berupa data ordinal.


C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
            Populasi yang terkait dengan penelitian tersebut adalah semua Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen dalam pembelajaran bahasa Inggris. Ada empat Sekolah Menengah Pertama Negeri  di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen antara lain:  Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Gombong, Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Gombong, Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Gombong dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Gombong.

2. Sampel
      Teknik random sampling dilakukan dengan tujuan untuk menghomogenkan data populasi,  Dengan teknik random sampling yang digunakan untuk mendapatkan  30-40 responden tersebut minimal akan terkait dengan empat hal kerena populasi tidak homogen. Pertama melilih sekolah yang akan digunakan sampel, kerena ada 4 kategori sekolah tetapi masing-masing jumlahnya tidak proporsional maka peneliti menggunakan disproporsional stratified random sampling. Dari teknik ini peneliti akan menentukan dua kategori sekolah yang akan digunakan sebagai sekolah sampel. Dalam hal ini diambil 1 sekolah RSSN dan 1 SSN.  Kedua, karena wilayahnya mencakup sekabupaten peneliti perlu melanjutkan teknik random sampling untuk efisiensi dengan menggunakan cluster random sampling (area random sampling) yaitu untuk menentukan wilayah yang memiliki SSN atau RSSN. Dengan teknik tersebut peneliti mendapatkan Kecamatan Gombong sebagai tempat penelitian dan sekolah yang digunakan untuk tempat penelitian dengan teknik random sampling yaitu Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong sebagai sekolah kontrol dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong sebagai sekolah ekperimen. Ketiga menentukan kelas sampel, dengan teknik random sampling peneliti mendapatkan siswa kelas 9a Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong sebagai kelas ekperimen (untuk pembelajaran pembelajaran kontekstual ) dan siswa kelas 9b Sekolah  Menengah Pertama Negeri 3 Gombong sebagai  kelas kontrol (untuk pembelajaran konvensional.


D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
1. Instrumen penelitian
            Adapun instrumen yang disiapkan untuk melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Instrumen untuk memperoleh Hasil Belajar Bahasa Inggris yaitu berupa soal-soal atau tes bahasa Inggris sesuai dengan tingat kelas yang diteliti. Intrumen tes tersebut digunakan untuk kelas konvensional maupun kelas.
  2. Instrumen untuk memperoleh tingkat keaktifan siswa adalah dengan angket
  3. Instumen untuk mendapatkan informasi tentang metode pembelajaran yaitu dengan angket.

2. Teknik pengumpulan data
            Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan tes pada kelas yang pembelajarannya dengan pembelajaran kontekstual dan kelas yang pembelajarannya dengan cara konvensional. Setelah itu hasilnya dikumpulkan sebagai data hasil belajar. Data keaktifan siswa didapat diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh siswa pada kelas sampel yang pembelajarannya dengan pembelajaran kontekstual. Sedangkan keberlangsungan kelas dengan pembelajaran pembelajaran kontekstual. diberikan pada guru pengajar kelas sampel pada kelas eksperimen. Data-data diperoleh dari angket yang diisi oleh kelompok sampel. Data-data dikumpulkan, diberi skor, di jumlah dan kemudian dianalisis. Adapun angket yang akan dikembangkan adalah seperti angket keaktifan di bawah ini:



Angket Keaktifan Siswa
Petunjuk :
1.      Berikut ini akan disajikan beberapa pertanyaan mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. Anda diharapkan menyatakan sikap anda terhadap pernyataan-pernyataan tersebut dengan memilih :
SS        = bila anda sangat setuju dengan pernyataan tersebut.
S          = bila anda setuju dengan pernyataan tersebut.
R         = bila anda ragu-ragu dengan pernyataan tersebut.
TS       = bila anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
STS     = bila anda sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
2.      Berikan tanda check (v) pada kolom-kolom di sebelah kanan pernyataan tersebut sesuai dengan sikap anda dengan sejujur-jujurnya.

I. Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Inggris (KSPBI)
No.
P e r n y a t a a n
SS
S
R
TS
STS
1
Saya melakukan kegiatan bertanya hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris





2
Saya melakukan kegiatan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris





3
Saya melakukan kegiatan diskusi kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas





4
Saya melakukan kegiatan presentasi hasil kerja kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris





5
Saya melakukan aktifitas kerja otak dan aktifitas fisik dalam pembelajaran bahasa Inggris





6
Saya hanya berdiam diri dalam pembelajaran bahasa Inggris





7
Saya melakukan tidak memberi respon terhadap stimulus dalam pembelajaran bahasa Inggris





8
Saya hanya bekerja secara individual dalam pembelajaran bahasa Inggris






Saya tidak mempresentasikan hasil kerja saya dalam pembelajaran bahasa Inggris





10
Saya hanya melakukan aktifitas menyimak saja dalam pembelajaran bahasa Inggris





 Jumlah Skor





Nilai



Angket Kektifan Guru dalam Pembelajaran Kontekstual
II. Aktifitas Pembelajaran Kontekstual
No.
P e r n y a t a a n
SS
S
R
TS
STS
1
Guru  membangun motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris





2
Guru memberi pertanyaan-pertanyaan dalam pembelajaran bahasa Inggris





3
Guru memberi respon terhadap jawaban-jawaban siswa





4
Guru membagi dalam kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris





5
Guru melakukan penilaian secara autentik (authentic assessment)





6
Guru melakukan pembelajaran bahasa Inggris dengan memfasilitasi siswa belajar dengan melakukan (inquiry)





7
Guru memfasilitasi agar siswa dapat menkonstruksi pengetahuan yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa Inggris.





8
Guru memberikan pemodelan dalam pembelajaran bahasa Inggris.





9
Guru merefleksi kegiatan pembelajaran bahasa Inggris





10
Guru melakukan aktifitas semua alat indera dan fisik dalam pembelajaran bahasa Inggris





Jumlah Skor





Nilai





Angket Keaktifan Guru dalam Pembelajaran Konvensional
III. Aktifitas Pembelajaran Konvensional
No.
P e r n y a t a a n
SS
S
R
TS
STS
1
Guru  melakukan kegiatan ceramah dalam pembelajaran bahasa Inggris





2
Guru memberi pertanyaan-pertanyaan dalam pembelajaran bahasa Inggris





3
Guru memberi respon terhadap jawaban-jawaban siswa





4
Guru tidak membagi dalam kelompok dalam pembelajaran bahasa Inggris





5
Guru tidak melakukan penilaian secara autentik (authentic assessment)





6
Guru tidak melakukan pembelajaran bahasa Inggris dengan melakukan (inquiry)





7
Guru tidak menkonstruksi pengetahuan yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa Inggris.





8
Guru tidak memberikan pemodelan dalam pembelajaran bahasa Inggris.





9
Guru tidak merefleksi kegiatan pembelajaran bahasa Inggris





10
Guru melakukan aktifitas berbicara dengan minim gerakan fisik dalam pembelajaran bahasa Inggris





Jumlah Skor





Nilai




E. Uji Validitas dan Reliabilitas Angket
            Untuk memperoleh angket yang valid dan reliabel dilakukan uji coba angket, kemudian hasilnya diuji validitas dan reliabilitas


F. Teknik Analisis Data
            Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau untuk menguji hipotesis yang dirumuskan dalam proposal. Adapun analisisnya antara lain sebagai berikut:
  1. Uji kesetaraan , Uji t antara kelas eksperimen dan pembelajaran sebelum adanya perlakuan.
  2. Uji Prasarat analisis
a.       Uji Normalitas
b.      Uji Homogenitas
c.       Uji hipotesis mengggunakan anava 2 jalur

Adapun rancangan analisis anava dua jalur seperti pada tabel berikut di bawah ini:

Metode Pembelajaran
Keaktifan Siswa
Tinggi (B1)
Rendah (B2)
Pemb. Kontekstual (A1)
A1 B1
A1 B2
Pemb. Konvensional (A2)
A2 B1
A2 B2

Keterangan:
  1. A1 B1 : Kelompok siswa dengan keaktifan tinggi diberi perlakuan pembelajaran kontekstual.
  2. A2 B1 : Kelompok siswa dengan keaktifan tinggi diberi perlakuan pembelajaran konvensional
  3. A1 B2 : Kelompok siswa dengan keaktifan rendah diberi perlakuan pembelajaran kontekstual
  4. A2 B2 : Kelompok siswa dengan keaktifan rendah diberi perlakuan pembelajaran konvensional


















DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta. Penerbit: Pustaka Pelajar
Ary,Donald, dkk. Introduction to Resarch in Education. Surabaya. Usaha Nasional (Karya terjemahan Arif Furchan).
David W.Johnson, dkk. 2010. Collaborative Learning Strategi Pembelajaran untuk Sukses Bersama. Bandung. Penerbit: Nusa Media.
Depdiknas, 2002. Pendekatan Kontekstual (Cotextual Teaching and Learning (PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL)
Elaine B. Johson,2010. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL       Contextual Teaching and Learning. Bandung. Penerbit: Kaifa.
Masidjo,1995, Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta.Penerbit: Kanisius.
Melvin L. Silbermen, 2010. Active Learning. Bandung. Penerbit: Nusamedia dan Penerbit: Nuansa.
Mico Pardosi. 2004. Belajar Sendiri Internet. Surabaya. Penerbit: Indah.
Nasution,S. 2008. Metode Reearch. Jakarta. PT Bumi Aksara
Robert L. Slavin.2010. Cooperative Learning  Teori, Riset dan Praktik. Bandung. Penerbit: Nusa Media
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Sugiyono, 2007. Statistik untuk Penelitian. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Suharsismi Arikunto,2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar