Rabu, 09 November 2011

PENCAPAIAN KOMPETENSI MELALUI PEMBELAJARAN TEKS (GENRE)

PENCAPAIAN KOMPETENSI
MELALUI PEMBELAJARAN TEKS (GENRE)
OLEH :
BAMBANG PURNOMO

ABSTRAK

BAMBANG PURNOMO. Pencapaian Kompetensi melalui Pembelajaran Jeni-jenis Teks. Penelitian, Kebumen, 2005.

            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperoleh informasi faktual tentang kelas 7a Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Gombong Tahun Pelajaran 2004/2005, mengetahui faktor-faktor yang menghambat keberhasilan siswa dalam pencapaian kompetensi siswa maka penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi guru bahasa Inggris khususnya dan guru lain pada umumnya dalam melaksanakan proses pembelajaran. Penelitian ini juga memberikan informasi bahwa fungsi guru sebagai pengajar sekaligus pendidik dapat dilaksanakan dalam bahan ajar yang terintegrasi.
            Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Gombong, Kabupaten Kebumen. Jumlah siswa kelas 7a yang diteliti sebanyak 40 orang siswa. Penelitian dilaksanakan selama tahun pelajaran 2004/2005 dengan 3 tahapan pembelajaran yakni: Tahap Pembelajaran I (Pembelajaran Teks Deskriptif), Tahap Pembelajaran II (Pembelajaran Teks Recount), dan Tahap Pembelajaran III (Pembelajaran Teks Naratif). Penelitian dilaksanakan dengan 3 langkah yaitu: Planing, Acting , dan Reporting Adapun instrumen-instrumen yang digunakan antara lain: soal-soal, blangko penilaian sikap, blangko penilaian komptensi dasar berupa rubrik-rubrik, blangko self student’s assessment, analisis hasil belajar, program perbaikan dan tindak lanjut, dan blangko kuesioner.  
            Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa Pembelajaran Jenis-jenis Teks telah dapat mencapai kompetensi siswa proses pembelajaran dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari data-data hasil kegiatan pada Bab III.
                                   
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapai tantangan sesuai  dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Oleh karena itu proses dan mutu pembelajaran perlu ditingkatkan agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga anak didik dapat menggembangkan potensi diri dan dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
            Kurikulum 2004 mengamanatkan bahwa setiap lulusan harus telah memiliki kompetensi yang diprasaratkan dalam standar kompetensi maupun kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam kurikulum tersebut. Model kompetensi ini dirumuskan sebagai Kompetensi Berkomunikasi yang mempunyai tujuan akhir pada pencapaian kompetensi Wacana(discourse competence) Kompetensi wacana memprasaratkan bahwa peserta didik dalam menggunakan bahasa dalam komonikasi harus selalu secara tepat mempertimbangkang konteks budaya dan konteks situasi. Kompetensi wacana tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompetensi kebahasaan yang lain yang meliputi kompetensi tindak bahasa dan retorika (yang tercakup dalam actional competence), kompetensi linguistic (linguistic competence), kompetensi sosiokultural (sociocultural competence) dan kompetensi strategis (strategic competence) Selain kelima kompetensi tersebut, kurikulum 2004 juga melihat sikap sebagai hasil belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut perlu proses pembelajaran yang berkwalitas. Misalnya kreatifitas dan inovatif pembelajaran guru perlu ditingkatkan, hasil pembelajaran bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan  baik secara kwantitas
maupun kwalitasnya, keaktifan dan kreatifitas siswa perlu ditingkatkan, degradasi moral dalam masyarakat khususnya  siswa-siswa usia Sekolah Menengah Pertama kususnya dan usia remaja pada umumnya perlu dicegah dan ditangani dengan arif dan bijaksana, pemilihan dan atau pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan sekaligus dapat mengembangkan budaya nasional dan mengangkat potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia.
            Keberhasilan atau kegagalan suatu pendidikan pada dasarnya dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku atau dari prestasi hasil pembelajaran yang dicapai oleh orang yang telah mendapat proses pembelajaran . Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan selalu mendapatkan hasil yang optimal, kadang-kala juga menemui kegagalan.
            Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain untuk itu agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan informasi tentang karakteristik mata pelajaran Bahasa Inngris. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagi alat komunikasi. Hal ini mengidikasikan bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai Bahasa Inggris jika dia belum dapat menggunakan Bahasa Inggris   untuk keperluan komunikasi.
            Kenyataan siswa belajar Bahasa Inggris selama empat jam pelajaran setiap minggu di Sekolah Menengah Pertama, tetapi kemampuan berbahasa Inggris masih rendah. Ada tiga masalah yang mengemuka dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Kebumen pada khususnya . Persoalan pertama adalah masih rendahnya pencapaian hasil belajar Bahasa Inggris siswa (real scholastic achievement). Indikator kasarnya dapat dlihat dari hasil ujian nasional yang hanya memprasaratkan kelulusan hanya 3,01 pada tahun pelajaran 2003/2004 dan 4,26 pada tahun 2004/2005 dan masih banyak anak-anak yang tidak lulus.
            Permasalahan kedua adalah perolehan dari hasil pembelajaran belum sampai pada tingkat kompetensi berbahasa Inggris. Hal tersebut berdasarkan pengamatan dan informasi gugu-guru Bahasa Inggris di Kabupaten Kebumen. Keadaan tersebut pada umumnya disebabkan pembelajaran Bahasa Inggris hanya mengacu pada soal-soal Ujian Nasional dalam hal ini hanya mencakup terutama ketrampilan Membaca pemahaman (reading comphrehension), sedangkan ketrampilan berbicara(speaking), mendengar(listening) dan menulis(writing) terabaikan..
            Kenyataan lain yang terjadi di lapangan adalah tidak optimalnya guru dalam mengemas dan melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sesuai apa yang diharapkan, selain itu dengan perubahan kurikulum 2004 belum semua guru mengetahui dam memahami isi dari apa yang dimaksud dalam kurikulum tersebut, maka dari itu profesioanalisme guru harus selalu ditingkatkan.

B. Ruang Lingkup Masalah
            Mengajar dan mendidik adalah merupakan dua hal yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dalam hal ini guru dan belajar bukan hal yang sederhana tetapi merupakan proses yang sangat komplek, sehingga banyak factor yang mempengaruhi terhadap proses maupun hasil dari pemebelajharan tersebut. “Learning a second language is long and complex undertaking. … Many variable are involved in the acquisition process” (Brown, 2000: 1).
            Diagram dibawah ini dapat dilihat bahwa faktor yang mempengaruhi belajar dapat berasal dari luar maupun dari dalam individu. Faktor dari luar meliputi faktor faktor lingkungan baik lingkungan alami maupun lingkungan sosial serta faktor instrumental yang mencakup kurikulum, program, sarana/prasarana dan guru. Sedangkan faktor dari dalam masih dibedakan lagi menjadi dua, yaitu faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis misalnya kondisi fisik umum dan pancaindera, sedangkan faktor psikologis meliputi minat, bakat, kecerdasan motivasi dan kemampuan kognitif (Sukirin,1993:65) dan (Suryabrata, 1984: 249).
            Pengelompokan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut sebagai berikut:
                                                            lingkungan                  alami
                                                                                                sosial
                        luar
                                                                                                kurikulum
                                                            instrumental                program
                                                                                                sarana prasarana
                                                                                                guru
faktor
                                                                                                kondisi fisik umum
                                                            fisiologis                      pancaindera
                        dalam                                                              minat
                                                                                                kecerdasan
                                                            psikologis                    bakat
                                                                                                motivasi
                                                                                                kemampuan
                                                                                                kognitif
            Dalam pembicaraan yang lebih rinci, pembelajaran bahasa kedua baik dalam proses maupun hasil dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Jokobovits, ada tiga faktor utama dalam pembelajaran bahasa asing yang perlu diperhatikan guru untuk menjadi guru efktif. Tiga faktor tersebut adalah faktor siswa, instruksional dan sosiokultural yang masing-masing dibagi menjadi beberapa sub. Faktor siswa mencakup kemampuan memahami instruksi, bakat, ketekunan, strategi belajar dan konsekuensinya. Faktor instruksional meliputi faktor kualitas instruksi, kesempatan belajar, efek transfer dan criteria evaluasi. Sosiokultural dibedakan   menjadi keajekan bahasa, komposisi linguistic, bikulturalisme dan konsekuensinya (Jakobovits, 1970: 104).
            Menurut Squires dkk, prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh dua hal yaitu pertama sikap siswa yang meliputi peran serta, cakupan dan kesuksesan. Kedua yaitu sikap guru yang meliputi perencanaan(planning), pengelolaan (management), dan pembelajaran(instruction) (Squires dkk, 1981 : 4).
            Untuk meningkatkan prestasi, kualitas pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting karena proses pembelajaran merupakan proses pendidikan yang mempengaruhi dan mensyaratkan input pendidikan ke dalam proses pendidikan yang pada akhirnya menghasilkan output yang baik. Hal yang sama diungkapkan oleh slamet PH, bahwa proses pembelajaran adalah proses pemberdayaan siswa yang mencakup perilaku gugu dan siswa dalam mengelola input pembelajaran yang meliputi tujuan, alat evaluasi, mater, pengajar, siswa, metode, media, waktu dan lingkungan yang pada akhirnya menghasilkan output berupa hasil belajar (peningkatan daya pikir,daya kalbu dan daya fisik) (Slamet, 2000: 326).
            Masalah-masalah yang dihadapi oleh guru-guru bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Gombong diantaranya: kurang optimalnya motivasi, peran orang tua yang perlu digalakkan, lingkungan sekolah yang masih perlu dibenahi, fasilitas pembelajaran yang perlu dilengkapi, materi pembelajaran yang masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan kehidupan sehari-hari siswa, variasi guru dalam mengajar perlu ditingkatkan dan alat serta media pembelajaran yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan dalam penggunaannya.
            Hal lain adalah kurang optimalnya dalam menangani hasil kerja siswa, kurang diperhatikan pentingnya hadiah dan hukuman di kelas, penanganan tingkah laku  dan budi pekerti yang masih perlu ditingkatkan, perlu ditingkatkanya mutu pembelajaran, perlu ditingkatkanya kompetensi guru.  

C. Pembatasan masalah
            Dengan berbagai permasalahan yang muncul diatas saya akan mengangkat Pembelajaran Teks (Genre) untuk pencapaian kompetensi siswa kelas 7a SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 20004/2005. Dan pembelajaran jenis teksnyya saya batasi pada 3 macam yaitu : Pembelajaran Teks Deskriptif, Pembelajaran Teks Recount, dan Pembelajaran Teks Naratif.

D. Perumusan Masalah
              Mengacu pada Latar belakang masalah, Ruang Lingkup Masalah dan Pembatasan masalah dapat dirumuskan  masalah penelitiaan tindakan kelas tersebut adalah sebagai berikut:
Apakah Pembelajaran Jenis-Jenis Teks(Genres) dapat mencapai kompetensi siswa setelah siklus-siklus dan tahapan-tahapan proses pembelajaran itu dilaksanakan?

E. Tujuan penelitian
            Sejalan dengan rumusan diatas tujuan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
      a. untuk meningkatkan mutu  proses pembelajaran.
      b. untuk meningkatkan profesionalisme
2. Tujuan Khusus
      a. Untuk mendapatkan informasi faktual tentang proses dan hasil suatu             proses pembelajaran jenis-jenis teks di kelas 7a SMP Negeri 2 Gombong             tahun   pelajaran 2004/2005.
      b. Untuk mengetahui sejauhmana kompetensi dapat dicapai oleh siswa kelas 7a            SMP    Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2004/2005 setelah proses             pembelajaran teks dilaksanakan.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
            Hasil karya ilmiah ini sebagai bahan masukan agar siswa dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris sekaligus memperoleh kompetensi bahasa Inggris.

2. Bagi Guru
            Hasil karya ilmiah ini sebagai bahan masukan bagi guru lain dalam meningkatkan profesionalisme.

3. Bagi lembaga
            Hasil karya ilmiah ini sebagai bahan masukan dalam menyiapkan program-program pembelajaran di awal tahun pelajaran.

G. Kajian Teori
            Bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
            Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum ini.
            Terdapat beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.
1. Model Kompetensi
      Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
      Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi erbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :
                                               
     




           Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence

















                                                                                                                                     Linguistic                               Actional
                                                                                                                                  Competence                         Competence


               Strategic
                Competence


                        Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.
            Representasi skematik di Gambar 1 menunjukkan bahwa kompetensi utama     yang dituju oleh pendidikan bahasa adalah Discourse Competence atau omunikasi Wacana (KW). Artinya, jika seseorang berkomunikasi baik secara        isan maupun tertulis orang tersebut terlibat dalam suatu wacana. Yang dimaksud dengan wacana ialah sebuah peristiwa komunikasi yang dipengaruhi oleh topik yang dikomunikasikan, hubungan interpersonal pihak yang terlibat dalam komunikasi dan jalur komunikasi yang digunakan dalam satu konteks budaya. Makna apapun yang ia peroleh dan ia ciptakan dalam komunikasi selalu terkait dengan konteks budaya dan konteks situasi yang melingkupinya. Berpartisipasi dalam percakapan, membaca dan menulis secara otomatis mengaktifkan kompetensi wacana yang berarti menggunakan seperangkat atrategi atau prosedur untuk merealisasi nilai-nilai yang terdapat dalam unsur-unsur bahasa, isyarat-isyarat pragmatiknya dalam menafsirkan dan mengungkapkan makna (McCarthy dan Carter 2001:88).
            Kompetensi wacana hanya dapat diperoleh jika siswa memperoleh kompetensi pendukungnya seperti Kompetensi Linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi Tindak Tutur untuk bahasa lisan atau Kompetensi Retorika untuk bahasa tulis (keduanya tercakup dalam Actional Competence), Kompetensi Sosiokultural (Sociocultural Competence), dan Kompetensi Strategis (Strategic Competence).
            Implikasi pedagogisnya adalah bahwa perumusan kompetensi dan indikator-indikator bahasa Inggris perlu didasarkan kepada komponen-komponen tersebut di atas untuk menjamin bahwa kegiatan pendidikan yang dilakukan mengarah kepada tercapainya satu kompetensi utama, yakni kompetensi wacana. Oleh karenanya, indikator-indikator dalam kurikulum ini dirumuskan berdasarkan kelima komponen dalam model kompetensi ini. Selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran setiap indikator dijabarkan berdasarkan daftar sub-kompetensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang relevan.
            Penting untuk dicatat bahwa seperangkat komponen kompetensi yang berupa daftar tersebut bukan representasi kompetensi wacana karena kompetensi wacana lebih mengacu kepada strategi atau prosedur untuk ‘memobilisasi’ seluruh declarative knowledge dalam konteks komunikasi nyata untuk menciptakan makna yang sesuai konteks komunikasinya. Kemampuan ini lazim disebut procedural knowledge. Ini berarti bahwa pengajaran bahasa tidak dapat dipecah-pecah per kelompok kompetensi (linguistic, actional, sociocultural, strategic, discourse) melainkan diarahkan kepada pemerolehan kompetensi wacana dengan melihat kepada kelompok kompetensi sebagai alat monitor yang membantu penyadaran akan adanya komponen tersebut yang dapat dijabarkan dalam seperangkat indikator.
            Selain kelima komponen tersebut, aspek sikap juga dirumuskan sebagai hasil belajar yang dapat diamati berdasarkan apa yang dilakukan siswa selama menjalani proses pembelajaran. Perumusan ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi pengguna kurikulum ini untuk dapat mengeksplisitkan harapan-harapannya terhadap siswa yang pada gilirannya akan membuat pelajaran bahasa Inggris menyenangkan.
2. Model Bahasa
      Selain model kompetensi, sebuah model bahasa yang memandang bahasa sebagai komunikasi atau sebagai sistem semiotik sosial (Halliday 1978) juga digunakan dalam kurikulum ini. Menurut pandangan ini, ketika seseorang berpikir tentang bahasa, minimal ada tiga aspek penting yang harus diperhitungkan, yakni konteks, teks, dan sistem bahasa.
Hubungan konteks, teks dapat digambarkan sebagai berikut :
CULTURE
Genre
(Purpose)
                         SITUATION
                           Who is involved?
                         (Tenor)
                                                 Subject matter                              Channel
      (Field)                                       (Mode)

                        REGISTER

TEXT
 





                        Gambar 2 : The Model of language (Derewianka, 1990)

a.      Konteks
           Bahasa terjadi dan hidup dalam konteks yang dapat berupa apa saja yang mempengaruhi, menentukan dan terkait dengan pilihan-pilihan bahasa yang dibuat seseorang ketika menciptakan dan menafsirkan teks.
Dalam konteks apapun, orang menggunakan bahasa untuk melakukan tiga fungsi utama:

1)      Fungsi gagasan (ideational function), yakni fungsi bahasa untuk mengemukakan atau mengkonstruksi gagasan atau informasi.

2)      Fungsi interpersonal (interpersonal function), yakni fungsi bahasa untuk berinteraksi dengan sesama manusia yang mengungkapkan tindak tutur yang dilakukan, sikap, perasaan, ds

3)       Fungsi tekstual (textual function), yakni fungsi yang mengatur bagaimana teks atau bahasa yang diciptakan ditata sehingga tercapai kohesi dan koherensinya, sehingga mudah dipahami orang yang mendengar atau membaca

            Implikasi pedagogisnya adalah bahwa sebuah pengembangan program bahasa sewajarnya mengarahkan siswa untuk mampu mengungkapkan nuansa-nuansa makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual. Dalam kurikulum ini, nuansa makna tercermin dalam rumusan kompetensi dasar tiap ketrampilan berbahasa dan indikator-indikatornya. Makna gagasan, misalnya, akan dominan mewarnai bahasa tulis, makna interpersonal akan dominan mewarnai bahasa lisan, dan makna tekstual mewarnai kedua ‘modes’ bahasa tersebut dalam hal penataan informasi yang terkandung di dalamnya.

Dalam model ini terdapat dua macam konteks: konteks budaya (context of culture) dan konteks situasi (context of situation). Sebuah konteks budaya ‘melahirkan’ banyak macam teks yang dikenal dan diterima oleh anggota masyarakatnya sebab susunan dan bahasa yang digunakan menunjang tujuan komunikatif teks tersebut. Misalnya, orang mengenal dan menggunakan teks ‘resep masakan’ sebagaimana yang ditemukan di buku-buku resep. Maka ketika orang mendengar kata ‘resep’ ia akan membayangkan susunan teks dan bahasa yang lazim digunakan dalam budayanya. Begitu juga jika ia mendengar kata ‘cerita pendek’ yang berbeda dari resep. Jenis teks ini disebut genre. Singkatnya, sebuah konteks budaya melahirkan banyak genre.
Ketika seseorang mempelajari bahasa asing, ia terlibat dalam penciptaan dan penafsiran berbagai jenis teks yang lahir dari budaya bahasa asing tersebut yang tidak selalu sama dengan jenis teks yang lahir dalam budaya yang dimilikinya. Oleh karenanya, jenis-jenis teks yang diwarnai oleh berbagai tujuan komunikatif, penataan bagian-bagian teks, dan fitur-fitur linguistik tertentu selayaknya menjadi perhatian setiap program pendidikan bahasa. Ini dimaksudkan agar siswa bukan hanya menggunakan kalimat bahasa Inggris, melainkan juga menata teksnya dengan cara yang lazim digunakan oleh penutur aslinya. Konsep genre ini mewarnai jenis teks yang disarankan oleh kurikulum ini.
Konteks situasi juga mendapatkan perhatian dalam kurikulum ini. Terdapat tiga faktor konteks situasi yang mempengaruhi pilihan bahasa seseorang: topik yang dibicarakan (field), hubungan interpersonal antara pengguna bahasa (tenor) dan jalur komunikasi (lisan atau tulis) yang digunakan (mode). Ketiga faktor ini menentukan apakah seseorang memilih berbahasa formal/informal, akrab/tidak akrab dsb. Kurikulum ini juga diwarnai oleh konsep tersebut agar siswa mampu berkomunikasi sesuai dengan konteks yang dihadapinya.
b.  Teks
            Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bias berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis.
3. Pembelajaran Jenis-Jenis Teks( Genres)
      Guru adalah profesi yang memerlukan para pelaku yang profesional. Profesional dalam hal ini guru dituntut untuk mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, menganalisa dan menindaklanjuti apa yang sudah diperoleh dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.                                           
      Kurikulum 2004  merupakan kurikulum yang menekankan pada ketercapaian kompetensi yang harus dicapai pada setiap tahapan pembelajaran itu dilaksanakan. Kompetensi yang termuat di dalamnya tidak hanya pencapaian ranah kognitif saja tetapi juga ranah afektif maupun psikomotor. Untuk itu dalam setiap pembelajaran guru harus mampu untuk mengakses ketiga ranah tersebut. Untuk dapat mengakses hal itu maka seorang guru harus mempersiapkan suatu paket pembelajaran yang akan dilaksanakan pada suatu jenjang, kelas, siswa, satuan waktu, kompetensi yang akan dicapai pada suatu mata pelajaran, materi pembelajaran tertentu yang semua itu harus dapat menilai ketiga ranah penilaian tersebut.
      Pembelajaran  Jenis Teks Genre merupakan  pembelajaran yang diharapkan dapat untuk mencapai Kompetensi seperti apa yang dituangkan dalam Kurikulum 2004. Pembelajaran jenis-jenis teks   dapat memperoleh pencapaian ranah kognitif, sekaligus terintegrasi untuk mendapatkan ketrampilan berbahasa (ranah psikomotor) dan termuat pula pesan sikap, moral dan tingkah laku (ranah afektif) dari isi bacaan yang disajikan selama proses pembelajaran.
      Yang dimaksud dengan Genre’yaitu jenis-jenis teks. Kita mengenal istilah ini dari Kurikulum 2004. Ada 12 jenis teks yang dijelaskan dalam kurikulum 2004 tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
- Recount                       - Report                                               -  Discussion   
- Explanation                  - Analytical Exposition                       -Hortatory
-  Exposition                   - New Item                                          - Anecdote                   - Narrative                  - Procedure                                              -Description                - Review
               Namun untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)  kelas VII, VIII dan IX kompetensi yang harus dicapai hanya 6 jenis teks yaitu :
Kelas VII  (SMP kelas 1)           :  Descriptive, Recount dan Narrative 
Kelas VIII (SMP kelas 2)          :  Deskriptive, Recount, Narrative, dan                                                                Anecdote
Kelas IX   (SMP kelas 3)           :  Descriptive, Recount, Narrative, Procedur dan                                                  Report
4. Model Pembelajaran
The Figure 3 shows that the classroom programming is based four stages in a         Teaching-Learning Cycle (adapted from Callaghan and Rothery, 1998) Which are aimed at providing support for learners as they move from spoken to written texts. These stages are identified involving the selection and sequencing of classroom tasks and activities and are related the starting points of topic or type of text. The four steps in the Teaching –Learning Cycle are:
                        Step One          : Building the context or field of the topic or text-type
                        Step Two         : Modeling the genre under focus
                        Step Three       : Joint Construction of the genre
                        Step Four        : Independent Construction of the genre
                        Gambar 3 : The Teaching Learning Cycle. Source: Burns and Joyce: 1991                                                 (Adapted from Collaghan and Rothery 1988)

         Model pembelajarannya   menggunakan siklus lisan dan/atau siklus tulis dan/atau kedua siklus yang dintegrasikan pada setiap pembelajaran teks. Sedangkan masing-masing siklus secara umum dapat dikatakan melalui 4 tahapan pembelajaran yaitu :
1. Aktivitas I kita kenal dengan Building Knowledge of the Field ( BKoF).
2. Aktivitas II kita kenal dengan Modeling of theText ( MoT ).
3. Aktivitas III kita kenal dengan Joint Construction of theText ( JCoT ).
4. Aktivitas IV kita kenal dengan Independent Construction of theText (ICoT).
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :
1.      Building Knowledge of the Field ( BKoF).
      Langkah ini merupakan langkah awal pada suatu pembelajaran teks. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini antara lain adalah sebagai berikut:
a)      Menciptakan suatu konteks untuk menuju pada jenis teks yang akan diberikan pada   pembelajaran yang direncanakan.
b)      Membiasakan siswa berbagi pengalaman.
c)      Mengenalkan kosa kata yang akan digunakan pada pembelajaran teks yang direncanakan. Untuk membatasinya disini guru untuk menentukan tema apa yang akan digunakan. Fungsi tema disini bukanlah merupakan materi pokok melainkan hanya sebagai pembatas bahasan agar tidak terlalu meluas. Dan jenis teks tertentulah yang harus dikuasai oleh siswa. Jadi tema hanyalah merupakan alat sebagai pendukung pada jenis teks tertentu.
d)     Tata bahasa yang akan muncul dalam teks tersebut perlu untuk dibahas dalam tahapan ini.
e)      Mengenalkan juga wacana interpersonal maupun transaksional sehari hari sehingga siklus lisan pada setiap tahapan akan lebih mengena pada sasaran.
f)       Mengenalkan fitur-fitur bahasa yang akan digunakan dalam pembelajaran jenis teks tertentu.
g)      Guru dapat dengan membawa benda asli maupun realia, menonton video (video untuk pembelajaran), dan media pembelajaran lain.
2.   Modeling of the Text. (MoT)
Tahapan ini adalah pemodelan sehingga  langkah ini digunakan untuk mengenalkan, memahami, menganalisa jenis-jenis teks yang sedang atau akan diberikan dalam proses pembelajaran. Untuk itu perlu beberapa jenis teks yang memiliki fungsi sosial, stuktur generic, dan fitur-fitur kebahasaan yang sama atau sepadan. Dengan beberapa jenis teks yang disediakan guru dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan kongkrit sehingga setelah tahapan Modeling of the Text tersebut dilalui siswa diharapkan sudah mempunyai bekal antara lain; siswa dapat menyebutkan fungsi sosial dari teks yang sedang dipelajarai; siswa dapat mengetahui stuktur generic dari suatu genis teks yang sedang dibahas; siswa dapat memahami informasi yang ada dalam teks baik informasi yang tersirat maupun informasi yang tersurat tentang isi bacaan maupun tentang seputar pengetahuan tentang jenis teks yang sedang dipelajari. Dari beberapa jenis teks yang disediakan guru perlu memberikan teks tersebut misalnya; teks untuk mengembangkan kemampuan reading comphehension; teks untuk mengenalkan karakteristik dari suatu jenis tertentu; teks untuk mengenalkan fungsi sosial dan fitur-fitur kebahasaan yang terkait; dan hal-hal lain yang perlu untuk dikembangkan dalam rangka untuk mencapai kompetensi siswa dalam pembelajaran teks tersebut. Modeling juga dilakukan dalam bentuk lisan pada siklus lisan dan diberikan dalam bentuk tulis pada siklus tulis.
      3.  Joint Constructions of the Text (JCoT)
Tahapan ketiga ini merupakan tahapan dimana anak difasilitasi untuk kerja kelompok. Dengan instruksi yang jelas dan bisa dimengerti oleh siswa . Guru membantu proses diskusi; pemecahan masalah dan mengatur agar proses dalam tahapan tersebut merupakan langkah untuk mengetahui apakah siswa sudah tahu tentang pembelajaran teks yang sudah dilalui pada tahp pertama dan kedua. Keberhasilan tahap ini bisa diamati melalui presentasi, demontrasi, atau produk teks yang mereka hasilkan secara berkelompok dan itu merupakan hasil bersama siswa dan hasil ini bisa dalam bentuk lisan untuk siklus lisan dan tertulis untuk siklus tulis. Seandainya dalam tahapan ini guru  belum berhasil memberikan pembelajaran teks ini dan guru belum yakin kalau siswa sudah memiliki kompetensi secara mandiri sebaiknya guru jangan terburu-buru untuk melanjutkan pada tahap berikutnya. Dan guru diperkenankan untuk mengulang, kembali pada tahap sebelumnya dengan penekanan pada hal-hal yang belum dikuasai siswa. Sehingga dalam tahap yang keempat ini diharapkan siswa benar-benar sudah memperoleh kompetensi dari pembelajaran teks tersebut.
      4.   Independent Constructions of the Text (ICoT)
Tahap ke empat adalah merupakan tahap untuk mengetahui siswa kita sudah mendapatkan kompetensi atau belum. Dan penilaian yang sesungguhnya adalah pada tahap ini karena target kita adalah terkuasainya kompetensi pada setiap individu dalam pembelajaran yang diberikan. Penilaian proses merupakan retorika untuk mengetahui dalam tahapan-tahapan untuk mencapai kompetensi individual pada hasil pembelajaran secara mandiri ini. Jadi kompetensi 75 % dalam pembelajaran teks, jika siswa mampu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan/atau monolog pendek pada pembelajaran teks tertentu. Siswa dikatakan memiliki kompetensi minimal jika dalam pembelajaran teks siswa tahu, memahami, dan menghasilkan teks baik secara lisan maupun tertulis dengan memenuhi aturan-aturan karakteristik pada suatu jenis teks tertentu secara minimal. Jadi bagi siswa yang sudah memenuhi kompetensi minimal mereka sudah berhak untuk mendapatkan nilai 75 sebagai nilai bahwa mereka telah mendapatkan kompetensi minimalnya dari pembelajaran teks. Dan selebihnya nilai akan bertambah ke atas sampai dengan 100 dan sebaliknya akan berkurang sampai dengan nilai 0 (nol). Jadi siswa yang lulus  kompetensi adalah siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas pada setiap Kompetensi Dasar (KD). Bukan banyaknya materi yang menjadikan target tetapi seberapa mampu kompetensi yang harus dikuasai siswa. Karena bagi anak yang sudah benar-benar mendapatkan kompetensi siswa itu akan mengembangkan diri sebanyak dan semampu ilmu yang mereka sudah kuasai. Guru dapat berperan sebagai motivator dalam tindak lanjut dari kompetensi yang sudah dimiliki siswa. Sebagai contoh: Seorang siswa yang sudah memiliki kompetensi baik lisan maupun tertulis dia akan dapat mengembangkan kemampuan dirinya untuk yang lebih luas bahkan tak terbatas. Siswa A sudah memiliki kompetensi dalam pembelajaran deskriptif tentu siswa tersebut akan mampu untuk mendeskripsikan dia sendiri, ayah, ibu, adik, kakak, tetangga, teman sekolahnya dan lain-lain karena dia sudah memiliki kompetensi bagaimanana mendeskripsikan orang.  Siswa B dapat mengembangkan kompetensinya dengan mendeskripsikan tempat yang dia tahu dan pernah ia kunjungi misalnya: sekolahnya, laboratorium sekolahnya, perpustakaan sekolahnya, rumahnya, bangunan-bangunan yang dia ketahui dan bahkan tempat wisata yang pernah dia kunjungi. Siswa C dapat mengembangkan kompetensinya dengan mendiskripsikan benda-benda yang ia miliki, benda yang ia senangi dan tidak senangi, bahkan dia mampu untuk mendiskripsikan benda baru yang dilihatnya dan lain-lain. Para siswa yang kreatif kita dorong untuk dapat mengembangkan diri untuk mengembangkan kompetensi yang mereka miliki. Dengan harapan bahwa hasil pembelajaran dapat membekali siswa untuk memiliki ketrampilan hidup dalam kehidupan mereka (life skill).




BAB II
LAPORAN KEGIATAN

A. Penyusunan Program
            Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini saya susun berdasarkan hasil pelaksanaan program pembelajaran tahun pelajaran 2004/2005 dalam rangka implementasi pelaksanaan kurikulum 2004.       
            Program pembelajaran yang saya susun adalah program pembelajaran teks untuk kelas 7a SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2004/2005. SMP Negeri 2 Gombong beralamatkan jalan Kartini no. 2 Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Kelas 7a adalah kelas dimana saya mencoba untuk mengimplementasikan pelaksanaan kurikulum 2004. Kelas ini memiliki 40 siswa yang terdiri 24 siswa putrid dan 16 siswa putra. SMP Negeri 2 Gombong adalah salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN). Untuk itu segala program yang disusun disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah tersebut. Untuk itu saya sampaikan table kegiatan sebagai berikut:

NO
TAHAP
KEGIATAN
WAKTU
1.
PERENCANAAN
(Planning)
-  Mempelajari Kurikulum 2004
-  Mengembangkan Silabus
-  Menganalisis Kalender Pendidikan
-  Menyusun Program Tahunan
-  Menyusun Program Semester
-  Menyusun Rencana Pembelajaran
-  Menyiapkan bahan ajar.
-  Menyiapkan alat evaluasi.
-  Menyiapkan Blangko-blangko penilaian proses maupun hasil.
-  Menyiapkan blangko-blangko lain yang mendukung.
-  Penyiapan media pembelajaran yang akan digunakan.
Juni-Juli 2004
2.
PELAKSANAAN
(Acting)
-Menyajikan Program Pembelajaran
-Melakukan penilaian baik proses maupun hasil.
-Menganalisis hasil penilaian
-Mengadakan tindak lanjut (baik dalam bentuk pengayaan bagi yang sudah mencapai KD minimal maupun program remedial proses dan atau penilaian bagi siswa yang belum lulus KD minimal.
Semester 1
(Juli 2004-Januari 2005)


Semester 2
(Januari – Juni 2005)

3.
LAPORAN
(Reporting)
-Penulisan  Karya Tulis
-Diskusi
-Verifikasi
-Pembendelan
-Pengesahan
-Pengiriman
Juli- September 2005

Laporan saya sampaikan untuk tiga jenis pembelajaran teks yaitu:
1. Pembelajaran I
            Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran teks deskriptif. Waktu yang diperlukan untuk proses pembelajaran16 jam pelajaran, untuk penilaian 4 jam pelajaran, untuk tindak lanjut 4 jam pelajaran dan untuk cadangan 2 jam pelajaran. Pelaksanaannya pada bulan November –Desember 2004 pada semester 1 tahun pelajaran 2004/2005.

2. Pembelajaran II
            Pembelajaran II yang dimaksud adalah pembelajaran teks recount. Waktu yang diperlukan untuk proses pembelajaran16 jam pelajaran, untuk penilaian 4 jam pelajaran, untuk tindak lanjut 2 jam pelajaran dan untuk cadangan 2 jam pelajaran. Pembelajaran ini dilaksanakan pada awal semester 2 sampai dengan tengah semester (Februari- April 2005).
3. Pembelajaran III
            Pembelajaran III yang dimaksud adalah pembelajaran teks naratif. Waktu yang diperlukan untuk proses pembelajaran16 jam pelajaran, untuk penilaian 4 jam pelajaran, untuk tindak lanjut 2 jam pelajaran dan untuk cadangan 2 jam pelajaran.
Pembelajaran teks tersebut adalah pembelajaran yang paling sulit untuk disampaiakan karena itu guru harus pandai untuk memnciptakan model pembelajaran yang efektif sehingga proses pembelajaran dapat berhasil mencapai kompetensi yang dikehendaki.
Pembelajaran teks tersebut dilaksanakan bulan April-Juni 2005.

B. Penyajian
            Adapaun penjajianya saya sesuaikan dengan jenis teks yang akan disampaikan.
1. Pembelajaran I
a. Jenis Teks          : Deskriptif
b. Metode pembelajaran
                  Menggunakan 2 siklus dan masing-masing siklus mengalami 4 tahapan. Yang dimaksud dengan 2 siklus yaitu siklus lisan yang meliputi kegiatan listening dan speaking dan siklus tulis yang meliputi kegiatan listening, speaking, reading dan writing. Sedangkan yang dimaksud 4 tahapan adalah BKoF, MoT, JCoT dan ICoT. Tentang keterangan langkah-langkah ini sudah dijelaskan di Bab I.

 c. Kegiatan yang dilakukan.
            1) Siklus lisan ( 4 jam pelajaran)
                  Dalam silkus lisan pembelajaran teks deskriptif kegiatan pembelajaran akan dilihat pada masing-masing tahapan pembelajaran.
            BKoF : - Pemberian model teks-teks deskriptif yang diberikan oleh saya                       dengan mengunakan konteks situasi dan kondisi yang paling                  dekat dengan diri siswa misalnya: deskripsi kelas 7a, deskripsi                      salah satu siswa kelas 7a, deskripsi SMP Negeri 2 Gombong,                   deskripsi tas siswa dan deskripsi benda, orang, atau tempat                          yang siswa sudah kenal.
                          - Penyampaian wacana-wacana interpersonal maupun                                       transaksional yang sesuai.
                          - Pembahasan kosa-kata- kosa-kata yang digunakan dalam teks                        deskriptif.
                          - Penjelasan lisan tentang fitur-fitur kebahasaan muncul (present                      tense, adjective, noun group dan sebagainya).
                          -  Kegiatan yang muncul misalnya: Tanya jawab, inquiri,                                  memorizing, listen and do, listen and repeat, dan kegiatan lain                      dengan sangat meminimalkan kegiatan tulis menulis.
            MoT   : - Pemberian model kembali dengan tujuan siswa agar lebih kenal                      melalui apa yang mereka dengar. Kegiatan ini dilakukan                            berulang-ulang sampai siswa kita amati sudah memiliki                            tentang teks deskriptif.
            JCoT   : - Pembentukan kelompok
                             - diskusi kelompok
                             - membuat teks secara kelompok
                              - mempresentasikan secara kelompok atau bisa juga                             perwakilan.  
            ICoT      : - Penyampaian deskripsi orang, benda dan atau tempat secara                            sederhana.
            2) Siklus Tulis ( 12 jam pelajaran)
            BKoF        : - Diberikan gambar situasi kelas , perpustakaan, laboratorium                          dan sebagainya                 
                                 - Identifikasi gambar.
                                      - Penjelasan retorika membuat teks deskriptif
                   MoT         : - Diberikan teks deskriptif.
                                     - Menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan                                               informasi dari teks.
                                     - Menganalisa retirika teks deskriptif dan bertanya jawab                                             sekitar retorika pembuatan teks deskriptif.
                JCoT            : - Membuat grup
                                     - Membuat teks bersama-sama( misalnya: salah satu siswa                                           memunculkan ide untuk mediskripsikan salah satu                                            temannya dengan diawali  kalimat identifikasi dan                                                   dilanjutkan oleh teman lainya. “My new fiend is Mariana.                                        She is twelve years old. She …, etc.
                                     - Mediskusikan hasil teks bersama dengan teman satu                                                   kelompok, antar kelompok atau dengan saya.
                                       - Guru sebagai fasilitator senantiasa berjalan mendekati setiap kelompok untuk mengetahui sejauh mana kerja kelompok itu. Dan dalam hal ini saya  langsung memberi koreksi pembetulan jika ada kesalahan dan selanjutnya setiap anggota kelompok untuk membuat pessis aeperti yang sudah dikoreksi. Dan hasil kelompok dipresentasikan serta dipajangkan pada papan display.
                ICoT            : - Dari pengamatan dan beberapakali revisi saya lanjutkan                                            pada tahapan kerja mandiri karena siswa saya anggap sudah                                     mampu untuk memproduk teks deskriptif sendiri..
                                     - Hasil mandiri siswa merupakan end product yang                                                      menunjukan suatu pencapaian kompetensi siswa baik lisan                               maupun tulis.
                                     - Penilaian kompetensi yang sesungguhnya adalah pada end-                                       product tersebut.
                                     - Penilaian hasil paling tepat dilakukan setelah siswa melalui                                       siklus lisan maupun tulis dan mereka sudah mampu untuk                               memproduct teks tersebut baik lisan maupun tulis.
                                     - Hasil siswa dikumpulkan dalam portofoliosiswa atau bisa                                         juga untuk di pajangkan.
2. Pembelajaran II
a. Jenis Teks          : Recount
b. Metode pembelajaran
                  Menggunakan 2 siklus dan masing-masing siklus mengalami 4 tahapan. Yang dimaksud dengan 2 siklus yaitu siklus lisan yang meliputi kegiatan listening dan speaking dan siklus tulis yang meliputi kegiatan listening, speaking, reading dan writing. Sedangkan yang dimaksud 4 tahapan adalah BKoF, MoT, JCoT dan ICoT. Tentang keterangan langkah-langkah ini sudah dijelaskan di Bab I.
 c. Kegiatan yang dilakukan.
            1) Siklus lisan ( 4 jam pelajaran)
                  Dalam silkus lisan pembelajaran teks deskriptif kegiatan pembelajaran akan dilihat pada masing-masing tahapan pembelajaran.
            BKoF  : - Pemberian model teks-teks recount yang diberikan oleh saya                         dengan mengunakan konteks situasi dan kondisi yang paling                  dekat dengan diri siswa dengan menceriterakan pengalaman                      saya diwaktu lampau atau juga pengalaman siswa yang saya                   etahui.
                          - Penyampaian wacana-wacana interpersonal maupun                                       transaksional yang sesuai.
                          - Pembahasan kosa-kata- kosa-kata yang digunakan dalam teks                        recount                      
                                       - Penjelasan lisan tentang fitur-fitur kebahasaan muncul (past                                     tense, verb II, adverb of place, adverb of time,etc)
                                     - Penjelasan retorika pembuatan teks recount
                                     -  Kegiatan yang muncul misalnya: Tanya jawab, inquiri,                                              memorizing, listen and do, listen and repeat, dan kegiatan                                 lain dengan sangat meminimalkan kegiatan tulis menulis.
            MoT   : - Pemberian model kembali dengan tujuan siswa agar lebih kenal                      melalui apa yang mereka dengar. Kegiatan ini dilakukan                            berulang-ulang sampai siswa kita amati sudah memiliki                            tentang teks recount.
            JCoT   : - Pembentukan kelompok
                           - diskusi kelompok
                           - membuat teks secara kelompok
                           - mempresentasikan secara kelompok atau bisa juga                                         perwakilan.     
            ICoT    : - Penyampaian cerita pengalaman siswa diwaktu lampau.
            2) Siklus Tulis ( 12 jam pelajaran)
            BKoF        : - Diberikan gambar yang beralur cerita.                   
                                 - Identifikasi gambar dan prediksi vocabulary yang mungkin                           muncul
                               - Bertanya jawab  tentang pola kalimat past tense.
                               - Pemberian penjelasan dalam bentuk tulis termasuk perubahan kata kerja I ke bentuk II , adverb of  time dan sbagainya
                                      - Penjelasan retorika membuat teks recount
                   MoT         : - Diberikan teks recount dalam bentuk tulis.
                                     - Menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan                                               informasi dari teks.
                                     - Menganalisa retirika teks recount dan bertanya jawab                                                 sekitar retorika pembuatan teks recount.
                JCoT            : - Membuat grup
                                     - Membuat teks bersama-sama( misalnya: salah satu siswa                                           memunculkan ide pengalaman bersama yang dialamai                                                   diwaktu yang lampau dalam bentuk kalimat orientasi” Last                                         week we went to Benteng Van Der Wijck together. We                                          went there by bicycle. We …,etc}.
                                     - Mediskusikan hasil teks bersama dengan teman satu                                                   kelompok, antar kelompok atau dengan saya.
                                       - Guru sebagai fasilitator senantiasa berjalan mendekati setiap kelompok untuk mengetahui sejauh mana kerja kelompok itu. Dan dalam hal ini saya  langsung memberi koreksi pembetulan jika ada kesalahan dan selanjutnya setiap anggota kelompok untuk membuat pessis aeperti yang sudah dikoreksi. Dan hasil kelompok dipresentasikan serta dipajangkan pada papan display.
                ICoT            : - Dari pengamatan dan beberapakali revisi saya lanjutkan                                            pada tahapan kerja mandiri karena siswa saya anggap sudah                                     mampu untuk memproduk teks recount sendiri..
                                     - Hasil mandiri siswa merupakan end product yang                                                      menunjukan suatu pencapaian kompetensi siswa baik lisan                               maupun tulis.
                                     - Penilaian kompetensi yang sesungguhnya adalah pada end-                                       product tersebut.
                                     - Penilaian hasil paling tepat dilakukan setelah siswa melalui                                       siklus lisan maupun tulis dan mereka sudah mampu untuk                               memproduct teks tersebut baik lisan maupun tulis.
                                     - Hasil siswa dikumpulkan dalam portofoliosiswa atau bisa                                         juga untuk di pajangkan.


3. Pembelajaran III
a. Jenis Teks          : Naratif
b. Metode pembelajaran
                  Menggunakan 2 siklus dan masing-masing siklus mengalami 4 tahapan. Yang dimaksud dengan 2 siklus yaitu siklus lisan yang meliputi kegiatan listening dan speaking dan siklus tulis yang meliputi kegiatan listening, speaking, reading dan writing. Sedangkan yang dimaksud 4 tahapan adalah BKoF, MoT, JCoT dan ICoT. Khusus untuk pembelajaran III saya menggunakan Integrated genre learning untuk efektifitas proses
 c. Kegiatan yang dilakukan.
            1) Siklus lisan ( 4 jam pelajaran)
                  Dalam silkus lisan pembelajaran teks naratif kegiatan pembelajaran akan dilihat pada masing-masing tahapan pembelajaran. Namun karena pembelajaran teks naratif merupakan pembelajaran yang paling sulit untuk disampaikan maka pembelajaran III merupakan pembelajaran yang memerlukan persiapan dan optimalisasi kemampuan, baik kemampuan saya untuk memberikan model (bercerita secara lisan) maupun sarana multimedia untuk membantu proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan untuk pencapaian kompetensi dari proses pembelajaran teks naratif. Karena keterbatasan saya, dalam pemberian model naratif saya putarkan suatu film ceritera melalui (VCD player + TV out) atau menggunakan (Komputer multimedia + LCD). Dalam pembelajaran ini saya kemas dalam pembelajaran Integrated Narrative Genre Learning. Integrated yang dimaksud disini adalah siklus lisan saya laksanakan sampai dengan tahap modeling. Dan siklus lisan ini saya anggap merupakan bagian dari siklus lisan yang dilaksanakan pada tahap berikutnya. Disini efektifitas pembelajaran dapat dicapai. Keaktifan dan kreatifits siswa bisa digali dan kesenangan dapat siswa dapatkan.
            BKoF  : - Pemberian model teks-teks narratif yang berupa dongeng-                             dongeng yang siswa sudah kenal baik langsung oleh saya                                   maupun dengan film-film cerita.                                                            - Penyampaian wacana-wacana interpersonal maupun                                transaksional yang sesuai.
                          - Pembahasan kosa-kata- kosa-kata yang digunakan dalam teks                        naratif 
                          - Penggalian pesan moral dan nilai-nilai baik dan buruk dalam              suatu cerita dan dilanjutkan pada pembimbingan untuk                             berpihak pada kebaikan.             
                                - Penjelasan lisan tentang fitur-fitur kebahasaan muncul (past                                       tense,past continuous tense, ungkapan langsung, verb II,                                               adverb of place, adverb of time, etc ).
                                  - Penjelasan retorika pembuatan teks recount
                                  -  Kegiatan yang muncul misalnya: Tanya jawab, inquiri,                                              memorizing, listen and do, listen and repeat, dan kegiatan                              lain dengan sangat meminimalkan kegiatan tulis menulis.
            MoT   : - Pemberian model kembali dengan tujuan siswa agar lebih kenal                      melalui apa yang mereka dengar. Kegiatan ini dilakukan                            berulang-ulang sampai siswa kita amati sudah memiliki                            pemahaman teks naratif.
           
            2) Siklus Tulis ( 12 jam pelajaran)
            BKoF        : - Diberikan gambar cerita.                
                                 - Identifikasi gambar dan prediksi vocabulary yang mungkin                           muncul.
                               - Bertanya jawab  tentang pola kalimat Past Tense, Past                                   Continuous Tense, ungkapan langsung, dan fitur-fitur                                         kebahasaan lainya.
                               - Pemberian penjelasan retorika pembuatan teks naratif.        
                   MoT         : - Diberikan teks naratif dalam bentuk tulis.
                                     - Menjawab pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan                                               informasi dari teks.
                                     - Menganalisa retorika teks naratif dan bertanya jawab                                                 sekitar retorika pembuatan teks naratif.

                JCoT            : - Pembentukan grup
                                     - Membuat teks bersama-sama( misalnya: salah satu siswa                                           memunculkan ide cerita dalam bentuk kalimat orientasi”                                             Once upon time there was a beautiful girl who lived happily                                      in tiny village. She ....”
                                     - Kalimat selanjutnya diselesaikan bergilir sampai menjadi                                           teks naratif dengan minimal ada bagian orientasi, komplikasi                                   dan resolusi.                
                                     - Mediskusikan hasil teks bersama dengan teman satu                                                   kelompok, antar kelompok atau dengan Fasilitator.
                                       - Guru sebagai fasilitator berjalan mendekati setiap kelompok untuk mengetahui sejauh mana kerja kelompok itu. Dan dalam hal ini saya  langsung memberi koreksi pembetulan jika ada kesalahan dan selanjutnya setiap anggota kelompok untuk membuat teks persis seperti yang sudah dikoreksi. Dan hasil kelompok dipresentasikan serta dipajangkan pada papan display.
                ICoT            : - Dari pengamatan dan beberapakali revisi saya lanjutkan                                            pada tahapan kerja mandiri karena siswa saya anggap sudah                                     mampu untuk memproduk teks naratif sendiri..
                                     - Hasil mandiri siswa merupakan end product yang                                                      menunjukan suatu pencapaian kompetensi siswa baik lisan                               maupun tulis.
                                     - Penilaian kompetensi yang sesungguhnya adalah pada end-                                       product tersebut.
                                     - Penilaian hasil paling tepat dilakukan setelah siswa melalui                                       siklus lisan maupun tulis dan mereka sudah mampu untuk                               memproduct teks tersebut baik lisan maupun tulis.
                                     - Hasil siswa dikumpulkan dalam portofoliosiswa atau bisa                                         juga untuk di pajangkan.

C. Penilaian Hasil Proses Pembelajaran.
            Penilaian yang dapat saya laporkan antara lain:
  1. Penilaian Tindak Bahasa ( Actional Competence) yang meliputi: mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Yang didalamnya sudah mencakup Kompetensi Sosiokultural, Kompetensi Sikap dan Kompetensi Strategy.
      Laporan berupa nilai-nilai pencapaian Kompetensi Dasar.
  1. Penilaian Sikap ( keberpihakan pada sifat baik atau buruk maupun sikap siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris. Penilaian berupa pengamatan yang dituangkan dalam tabel hasil pengamatan dan lembar penilaian siswa sendiri dalam proses pembelajaran.                                      
BAB III
LAPORAN HASIL
A. Hasil Kegiatan
            Data yang dilaporkan adalah data nilai rekapitulasi dari suatu tahap pembelajaran di kelas 7a SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2004/2005 sebagai berikut:
1. Pembelajaran I ( Pembelajaran Teks Deskriptif)
 Data Penilaian Tindak Bahasa ( Actional Competence)
NO
KOMPETENSI DASAR
N. RATA-RATA KELAS
%PENCAPAIAN KOMP. DASAR
1.
2.
3.
4.
Mendengar
Berbicara
Membaca
Menulis
82
80
85
77
82
80
85
77

2. Pembelajaran II ( Pembelajaran Teks Recount)
Data Penilaian Tindak Bahasa ( Actional Competence)
NO
KOMPETENSI DASAR
N. RATA-RATA KELAS
%PENCAPAIAN KOMP. DASAR
1.
2.
3.
4.
Mendengar
Berbicara
Membaca
Menulis
82,08
80,43
79,35
78,20
82,08
80,43
79,35
78,20
3. Pembelajaran III ( Pembelaran Teks Naratif)
a. Data Penilaian Tindak Bahasa ( Actional Competence)
NO
KOMPETENSI DASAR
N. RATA-RATA KELAS
%PENCAPAIAN KOMP. DASAR
1.
2.
3.
4.
Mendengar
Berbicara
Membaca
Menulis
83
83
82
79
83
83
82
79

b. Data Penilaian Sikap 1 ( Nilai Moral)
No
Siklus
Jumlah Siswa
Pemilihan nilai moral
Total%
bad
good
1.
2.
Lisan
Tulis
40
40
0
0
40
40
100%
100%

c. Data Penilaian Sikap Terhadap Bahasa Inggris (Keaktifan Siswa)           
No
Jumlah siswa
Waktu
Jenis Kegiatan
Jumlah talli
Jumlah talli
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 1
Siklus 2
1.
2.
3.
4.

40
40
40
40
4 jam pel.
12
Jam pel.
Questioning
Answering
Expressing
Practicing
72
64
26
20
102
96
58
56
174
160
84
76
TOTAL
182
312
494

d. Data Rasa Senang Siswa
No
Media
Total
Tingkat Kesenangan
Total %
Kurang/
tidak
Agak
senang
Senang
Senang
sekali
1.

2.

3.

4.
Tanpa media

OHP

VCD player+TV out
Multi-media Computer
40

40

40

40
13
(32,5%
27
(67,5%)
9
(22,5%)


31
(77,5%)
34
(85%)




6
(15%)
40
(100%)
100%

100%

100%

100%

B. Pembahasan         
            Bardasarkan data-data yang ada menunjukkan bahwa:
  1. Pencapaian kompetennsi secara klasikal dapat dicapai karena setiap Kompetensi Dasar (KD) pada setiap pembelajaran mencapai rata-rata kelas > 75 (Data A. 1, 2, dan 3).
  2. Namun demikian secara individual guru harus melakukan program perbaikan proses maupun perbaikan nilai. ( Data lampiran nilai dan program tindak lanjut)
  3. Data A.3b. menunjukkan bahwa melalui pengamatan tak seorangpun menunjukkan jari memilih karakter/sifat yang jelek seperti yang dicontohkan dalam peran-peran dalam suatu teks naratif tetapi sebaliknya 100% siswa memilih sifat-sifat baik.
  4. Data A.3c. menunjukkan bahwa keaktifan siswa dapat saya bangkitkan dengan menggunakan blangko penilaian siswa sendiri dalam proses pembelajaran. Dan hasilnya semua siswa dapat menunjukkan peran aktifnya baik dalam bentuk bertanya, menjawab, presentasi maupun demontrasi.
  5. Data A.3d. menunjukkan bahwa pembelajaran yang saya lakukan benar-benar dapat menyenangkan siswa. Dengan menggunakan berbagai media pembelajaran proses pembelajaran yang menyenangkan dapat diciptakan. Dengan rasa senang akan berdampak positif terhadap keberhasilan dalam pencapaian kompetensi. Setelah saya menggunakan Komputer multi media +LCD dalam pembelajaran semua siswa merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
            Berdasarkan langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dan pembahasan pada bagian sebelumnya maka dapatlah disimpulkan penelitian tindakan ini. Ada beberapa tindakan yang berhasil dan  ada pula yang kurang berhasil. Berikut ini disampaikan beberapa tindakan yang berhasil.
  1. Pembelajaran Teks adalah salah satu proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi siswa sesuai dengan apa yang diharapkan dalam kurikulum 2004.
  2. Bahan ajar yang sesuai dengan kondisi dan situasi anak adalah merupakan bahan ajar yang paling baik dan tugas guru adalah memilih bahan ajar yang cocok atau membuatnya sendiri sesuai dengan silabus  yang guru kembangkan.
  3. Pengorganisasian kelas yang sangat bervariatif sangat diperlukan untuk berhasilnya suatu pembelajaran.
  4. Pengulangan-pengulanan dan kesabaran guru perlu ditingkatkan agar pelayanan dalam proses pembelajaran dapat dilakukan secara optimal.
  5. Pemimbingan pada siswa dalam proses pembelajaran harus selalu dilakukan baik secara individual maupun klasikal sehingga hasil yang diharapkan dalam proses pembelajaran dapat dicapai secara optimal.
  6. Penggunaan Blangko Penilaian Siswa Sendiri dalam proses pembelajaran siswa sangat dapat membantu mengaktifkan siswa tanpa guru meminta-minta atau menyuruh-menyuruh siswa aktif. Hal ini dapat membangkitkan keberanian siswa, percaya diri siswa dan meningkatkan kompetisi siswa dengan teman-temannya.
  7. Penjelasan yang lebih jelas, lebih fokus dan rinci akan mengurangi kesalahan siswa dalam memproduk suatu teks. Hal ini sangat menguntungkan bagi guru karena semakin kecil kesalahan semakin mudah untuk mengoreksi dan menunjukkan bahwa kompetensi sudah dimilki oleh siswa dalam akhir dari proses pembelajaran.
  8. Pemotivasian kepada siswa sangat dibutuhkan siswa. Lebih-lebih siswa SMP sebelum masuk sekolah dijenjang SMP siswa sudah memiliki motivasi untuk belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh sehingga pemupukan  sangat dibutuhkan.

      Tindakan yang kurang berhasil adalah pejelasan tentang retorika terutama untuk sebagian kecil siswa. Dalam hal ini fitur-fitur kabahasaan perlu ada langkah-langkah khusus untuk program penelitian tindakan selanjutnya.
      Ada beberapa perubahan positif dalam pembelajaran sebagai akibat penelitian ini yaitu:
  1. Guru semakin meningkat profesionalismenya .
  2. Siswa lebih aktif dan senang dalam pembelajaran.
  3. Siswa lebih jelas dalam menerima materi pembelajaran.
  4. Keefektifitasan dapat dilaksanakan dalam pembelajaran.
  5. Keberanian , rasa percaya diri, dan sikap kompetisi meningkat.
  6. Guru peneliti meningkat rasa percaya diri dan termotivasi untuk melakukan penelitian tindakan dengan permasalahan yang berbeda.
  7. Guru peneliti merasa terpuaskan dengan perubahan sikap, tingkah laku ke arah yang positif.
     
      Keberhasilan sejumlah upaya tindakan dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa Pembelajaran jenis-jenis teks telah mampu mencapai kompetensi siswa kelas 7a SMP Negeri 2 Gombong tahun pelajaran 2004/2005.

B. Saran-Saran
            Berdasarkan simpulan dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang ditujukan kepada: Siswa, Guru Bahasa Inggris, Guru-Guru lain, Kepala Sekolah dan Peneliti lain.

1. Kepada siswa
            Siswa seharusnya meningkatkan kompetensinya antara lain kompetensi tindak bahasa (actional competence) terdiri mendengar (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis(writing) dan kompetensi-kompetensi yang lain.
            Siswa seharusnya selalu melatih diri dengan kompetensi yang sudah mereka miliki dengan demikian akhirnya menjadi suatu kebiasaan dan siap untuk digunakan kapanpun dan dimanapun.
           
2. Kepada Guru Bahasa Inggris
            Guru bahasa Inggris hendaknya selalu meningkatkan pengetahuannya apalagi dengan adanya kurikulum 2004. Ada perubahan konsep yang mendasar dari kurikulum 2004 dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya untuk itu guru harus segera menyesuaikan dan harus meningkatkan kompetensi dirinya terlebih dahulu karena tanpa guru yang tahu maksud dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa serta bagaimana metode pembelajarannya, guru tidak akan mencapai  tujuan pembelajaran secara optimal sesuai dengan yang direncanakan.
            Profesionalisme guru harus selalu ditingkatkan agar para guru dapat mengimbangi kemajuan zaman, syukurlah kalau guru dapat melakukan prediksi kebutuhan pembelajaran dimasa datang.

3. Kepada Guru-guru lain
            Guru-guru mata pelajaran yang lain hendaknya dapat mengemas pembelajarannya sehingga fungsi sebagai pengajar sekaligus mendidik dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan pencapaian kompetensi.

4. Kepada Kepala Sekolah
            Kepala sekolah hendaknya memberi kemudahan dan memfasilitasi apa apa yang dibutuhkan dalam proses penelitian tindakan maupun sarana serta pengadaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran tersebut.
            Kepala sekolah hendaknya membantu guru untuk mengadakan inovasi dalam pembelajaran serta meningkatkan profesionalisme guru yang menjadi bawahannya.

5. Kepada Peneliti lain
            Penelitian tindakan ini untuk mengetahui upaya-upaya meningkatkan hasil belajar dan budi pekerti siswa melalui pembelajaran teks (genre). Masih banyak masalahmasalah yang berkaitan dengan upaya meningkatkan hasil belajar dan budipekerti siswa yang belum terpecahkan. Oleh karena itu banyak kesempatan bagi peneliti lain untuk memecahkan masalah-masalah tersebut demi kemajuan pembelajaran bahasa Inggris khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Alter, J.B. , Prof. , M.A., Curriculum English SMP for Indonesia Book 2. Hong Kong : Time Educational Co LTD, 1982.
Andreas Priyono, Drs. , Dipl,Art,M.Sc.Ed. dan Drs. H. Djunaedi. Petunjuk Praktis Classroom Based Action Reseach. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng, 2001.
Mark Anderson and Kathy Anderson, Text Types in English, Malaysia, 2003.
MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Kebumen, English Book 1 (English Competence Based through Genre)       for the Seventh Year, Kebumen , 2004.
MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Kebumen, Pengembangan Silabus Bahasa Inggris, Depdikbud, Kebumen, 2005.
---------, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 2003.
Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan MTs. Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas, 2003.
Departemen Pendidikan Nasional,Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama , Pendekatan Kontekstual, 2002.
Djawanto PS,S.E.,Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Skripsi. Yogyakata : Liberty Yogyakarta ,2000.
Helena I.R. Agustin, Dra., M.A., PhD., Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris, Jakarta : Dirjendikdasmen, 2004.
Hornby, A.S., Oxford Advenced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford : Oxford University Press,1974.
Jenny Hammond, et al.,English for Social Purposes. Sydney,Australia:Macquarie University,1992.
John M. Echols and Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia dan Kamus Indonesia Inggris. Jakarta : Pt Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Parnwell, E.C. , Oxford English Picture Dictionary. Jakarta : PT Pustaka Ilmu, 1993.
Tim Instruktur Propinsi Jawa Tengah . Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan  dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Semarang : Proyek Perluasan SLTP Propinsi Jawa Tengah, 1995.
.





                       
           
           



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar