Rabu, 09 November 2011

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2004 DAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING APPROACH (CTL) MELALUI METODE ‘BANGMOGI’


IMPLEMENTASI KURIKULUM 2004
 DAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING APPROACH  (CTL)
MELALUI METODE ‘BANGMOGI’
 
Oleh:
Bambang Purnomo

KATA PENGANTAR

            Rasa syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunia nikmat-Nya atas tersusunnya makalah dalam bidang pendidikan. Makalah ini disusun oleh karena suatu kebutuhan dalam rangka meningkatkan pencapaian proses pembelajaran yang diharapkan semakin bermutu dalam proses maupun hasil pembelajaran itu sendiri.
 Makalah ini menyajikan metode pembelajaran dalam rangka untuk implementasi Kurikulum 2004 dan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/ Contextual Teaching and Learning (CTL). Metode  tersebut diatas diberi nama metode ‘BangMoGI’. Metode ini dapat digunakan untuk semua mata pelajaran. Dalam pembelajaran bahasa metode ini memerlukan 2 siklus yaitu: siklus lisan dan siklus tulis. Sedangkan untuk pembelajaran non-bahasa metode ini tidak menggunakan siklus. Dan setiap siklus pembelajaran mengalami 4 langkah pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual masuk dalam tahapan-tahapan pembelajaran tersebut.
Saya menyadari masih ada beberapa hal yang perlu ditambahkan untuk memperbaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu saran-saran dan kritik sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini. Terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat. 
BAB I
PENDAHULUAN
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapai tantangan sesuai  dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Oleh karena itu proses dan mutu pembelajaran perlu ditingkatkan agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga anak didik dapat menggembangkan potensi diri dan dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
            Kurikulum 2004 mengamanatkan bahwa setiap lulusan harus telah memiliki kompetensi yang diprasaratkan dalam standar kompetensi maupun kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam kurikulum tersebut. Model kompetensi ini dirumuskan sebagai Kompetensi Berkomunikasi yang mempunyai tujuan akhir pada pencapaian kompetensi Wacana(discourse competence) Kompetensi wacana memprasaratkan bahwa peserta didik dalam menggunakan bahasa dalam komonikasi harus selalu secara tepat mempertimbangkang konteks budaya dan konteks situasi. Kompetensi wacana tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompetensi kebahasaan yang lain yang meliputi kompetensi tindak bahasa dan retorika (yang tercakup dalam actional competence), kompetensi linguistic (linguistic competence), kompetensi sosiokultural (sociocultural competence) dan kompetensi strategis (strategic competence) Selain kelima kompetensi tersebut, kurikulum 2004 juga melihat sikap sebagai hasil belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut perlu proses pembelajaran yang berkwalitas. Misalnya kreatifitas dan inovatif pembelajaran guru perlu ditingkatkan, hasil pembelajaran bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan  baik secara kwantitas
maupun kwalitasnya, keaktifan dan kreatifitas siswa perlu ditingkatkan, degradasi moral dalam masyarakat khususnya  siswa-siswa usia Sekolah Menengah Pertama kususnya dan usia remaja pada umumnya perlu dicegah dan ditangani dengan arif dan bijaksana, pemilihan dan atau pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan sekaligus dapat mengembangkan budaya nasional dan mengangkat potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia.
            Keberhasilan atau kegagalan suatu pendidikan pada dasarnya dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku atau dari prestasi hasil pembelajaran yang dicapai oleh orang yang telah mendapat proses pembelajaran . Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan selalu mendapatkan hasil yang optimal, kadang-kala juga menemui kegagalan.
            Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain untuk itu agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan informasi tentang karakteristik mata pelajaran Bahasa Inngris. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagi alat komunikasi. Hal ini mengidikasikan bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai Bahasa Inggris jika dia belum dapat menggunakan Bahasa Inggris   untuk keperluan komunikasi.
            Mengajar dan mendidik adalah merupakan dua hal yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dalam hal ini guru dan belajar bukan hal yang sederhana tetapi merupakan proses yang sangat komplek, sehingga banyak factor yang mempengaruhi terhadap proses maupun hasil dari pemebelajharan tersebut. “Learning a second language is long and complex undertaking. … Many variable are involved in the acquisition process” (Brown, 2000: 1).
            Dalam pembicaraan yang lebih rinci, pembelajaran bahasa kedua baik dalam proses maupun hasil dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Jokobovits, ada tiga faktor utama dalam pembelajaran bahasa asing yang perlu diperhatikan guru untuk menjadi guru efktif. Tiga faktor tersebut adalah faktor siswa, instruksional dan sosiokultural yang masing-masing dibagi menjadi beberapa sub. Faktor siswa mencakup kemampuan memahami instruksi, bakat, ketekunan, strategi belajar dan konsekuensinya. Faktor instruksional meliputi faktor kualitas instruksi, kesempatan belajar, efek transfer dan criteria evaluasi. Sosiokultural dibedakan   menjadi keajekan bahasa, komposisi linguistic, bikulturalisme dan konsekuensinya (Jakobovits, 1970: 104).
            Menurut Squires dkk, prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh dua hal yaitu pertama sikap siswa yang meliputi peran serta, cakupan dan kesuksesan. Kedua yaitu sikap guru yang meliputi perencanaan(planning), pengelolaan (management), dan pembelajaran(instruction) (Squires dkk, 1981 : 4).
            Untuk meningkatkan prestasi, kualitas pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting karena proses pembelajaran merupakan proses pendidikan yang mempengaruhi dan mensyaratkan input pendidikan ke dalam proses pendidikan yang pada akhirnya menghasilkan output yang baik. Hal yang sama diungkapkan oleh slamet PH, bahwa proses pembelajaran adalah proses pemberdayaan siswa yang mencakup perilaku gugu dan siswa dalam mengelola input pembelajaran yang meliputi tujuan, alat evaluasi, mater, pengajar, siswa, metode, media, waktu dan lingkungan yang pada akhirnya menghasilkan output berupa hasil belajar (peningkatan daya pikir,daya kalbu dan daya fisik) (Slamet, 2000: 326).
            Bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
            Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum ini.
            Terdapat beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.
A. Model Kompetensi
Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi erbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :
                                               
     




          Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence







 




                                                                                                                                     Linguistic                      Actional
                                                                                          Competence            Competence
Strategic
    Competence

            Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.
Representasi skematik di Gambar 1 menunjukkan bahwa kompetensi utama     yang dituju oleh pendidikan bahasa adalah Discourse Competence atau omunikasi Wacana (KW). Artinya, jika seseorang berkomunikasi baik secara isan maupun tertulis orang tersebut terlibat dalam suatu wacana. Yang dimaksud dengan wacana ialah sebuah peristiwa komunikasi yang dipengaruhi oleh topik yang dikomunikasikan, hubungan interpersonal pihak yang terlibat dalam komunikasi dan jalur komunikasi yang digunakan dalam satu konteks budaya. Makna apapun yang ia peroleh dan ia ciptakan dalam komunikasi selalu terkait dengan konteks budaya dan konteks situasi yang melingkupinya. Berpartisipasi dalam percakapan, membaca dan menulis secara otomatis mengaktifkan kompetensi wacana yang berarti menggunakan seperangkat atrategi atau prosedur untuk merealisasi nilai-nilai yang terdapat dalam unsur-unsur bahasa, isyarat-isyarat pragmatiknya dalam menafsirkan dan mengungkapkan makna (McCarthy dan Carter 2001:88).
Kompetensi wacana hanya dapat diperoleh jika siswa memperoleh kompetensi pendukungnya seperti Kompetensi Linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi Tindak Tutur untuk bahasa lisan atau Kompetensi Retorika untuk bahasa tulis (keduanya tercakup dalam Actional Competence), Kompetensi Sosiokultural (Sociocultural Competence), dan Kompetensi Strategis (Strategic Competence).
Implikasi pedagogisnya adalah bahwa perumusan kompetensi dan indikator-indikator bahasa Inggris perlu didasarkan kepada komponen-komponen tersebut di atas untuk menjamin bahwa kegiatan pendidikan yang dilakukan mengarah kepada tercapainya satu kompetensi utama, yakni kompetensi wacana. Oleh karenanya, indikator-indikator dalam kurikulum ini dirumuskan berdasarkan kelima komponen dalam model kompetensi ini. Selanjutnya dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran setiap indikator dijabarkan berdasarkan daftar sub-kompetensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang relevan.
Penting untuk dicatat bahwa seperangkat komponen kompetensi yang berupa daftar tersebut bukan representasi kompetensi wacana karena kompetensi wacana lebih mengacu kepada strategi atau prosedur untuk ‘memobilisasi’ seluruh declarative knowledge dalam konteks komunikasi nyata untuk menciptakan makna yang sesuai konteks komunikasinya. Kemampuan ini lazim disebut procedural knowledge. Ini berarti bahwa pengajaran bahasa tidak dapat dipecah-pecah per kelompok kompetensi (linguistic, actional, sociocultural, strategic, discourse) melainkan diarahkan kepada pemerolehan kompetensi wacana dengan melihat kepada kelompok kompetensi sebagai alat monitor yang membantu penyadaran akan adanya komponen tersebut yang dapat dijabarkan dalam seperangkat indikator.
Selain kelima komponen tersebut, aspek sikap juga dirumuskan sebagai hasil belajar yang dapat diamati berdasarkan apa yang dilakukan siswa selama menjalani proses pembelajaran. Perumusan ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi pengguna kurikulum ini untuk dapat mengeksplisitkan harapan-harapannya terhadap siswa yang pada gilirannya akan membuat pelajaran bahasa Inggris menyenangkan.

B. Model Bahasa
Selain model kompetensi, sebuah model bahasa yang memandang bahasa sebagai komunikasi atau sebagai sistem semiotik sosial (Halliday 1978) juga digunakan dalam kurikulum ini. Menurut pandangan ini, ketika seseorang berpikir tentang bahasa, minimal ada tiga aspek penting yang harus diperhitungkan, yakni konteks, teks, dan sistem bahasa.
Hubungan konteks, teks dapat digambarkan sebagai berikut :
CULTURE
Genre
(Purpose)
                         SITUATION
                           Who is involved?
                         (Tenor)
                                                 Subject matter                              Channel
      (Field)                                       (Mode)

                        REGISTER
TEXT
 





                        Gambar 2 : The Model of language (Derewianka, 1990)

1.      Konteks
           Bahasa terjadi dan hidup dalam konteks yang dapat berupa apa saja yang mempengaruhi, menentukan dan terkait dengan pilihan-pilihan bahasa yang dibuat seseorang ketika menciptakan dan menafsirkan teks.
Dalam konteks apapun, orang menggunakan bahasa untuk melakukan tiga fungsi utama:

a)       Fungsi gagasan (ideational function), yakni fungsi bahasa untuk mengemukakan atau mengkonstruksi gagasan atau informasi.

b)      Fungsi interpersonal (interpersonal function), yakni fungsi bahasa untuk berinteraksi dengan sesama manusia yang mengungkapkan tindak tutur yang dilakukan, sikap, perasaan, ds

c)        Fungsi tekstual (textual function), yakni fungsi yang mengatur bagaimana teks atau bahasa yang diciptakan ditata sehingga tercapai kohesi dan koherensinya, sehingga mudah dipahami orang yang mendengar atau membaca

Implikasi pedagogisnya adalah bahwa sebuah pengembangan program bahasa sewajarnya mengarahkan siswa untuk mampu mengungkapkan nuansa-nuansa makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual. Dalam kurikulum ini, nuansa makna tercermin dalam rumusan kompetensi dasar tiap ketrampilan berbahasa dan indikator-indikatornya. Makna gagasan, misalnya, akan dominan mewarnai bahasa tulis, makna interpersonal akan dominan mewarnai bahasa lisan, dan makna tekstual mewarnai kedua ‘modes’ bahasa tersebut dalam hal penataan informasi yang terkandung di dalamnya.

        Dalam model ini terdapat dua macam konteks: konteks budaya (context of culture) dan konteks situasi (context of situation). Sebuah konteks budaya ‘melahirkan’ banyak macam teks yang dikenal dan diterima oleh anggota masyarakatnya sebab susunan dan bahasa yang digunakan menunjang tujuan komunikatif teks tersebut. Misalnya, orang mengenal dan menggunakan teks ‘resep masakan’ sebagaimana yang ditemukan di buku-buku resep. Maka ketika orang mendengar kata ‘resep’ ia akan membayangkan susunan teks dan bahasa yang lazim digunakan dalam budayanya. Begitu juga jika ia mendengar kata ‘cerita pendek’ yang berbeda dari resep. Jenis teks ini disebut genre. Singkatnya, sebuah konteks budaya melahirkan banyak genre.
        Ketika seseorang mempelajari bahasa asing, ia terlibat dalam penciptaan dan penafsiran berbagai jenis teks yang lahir dari budaya bahasa asing tersebut yang tidak selalu sama dengan jenis teks yang lahir dalam budaya yang dimilikinya. Oleh karenanya, jenis-jenis teks yang diwarnai oleh berbagai tujuan komunikatif, penataan bagian-bagian teks, dan fitur-fitur linguistik tertentu selayaknya menjadi perhatian setiap program pendidikan bahasa. Ini dimaksudkan agar siswa bukan hanya menggunakan kalimat bahasa Inggris, melainkan juga menata teksnya dengan cara yang lazim digunakan oleh penutur aslinya. Konsep genre ini mewarnai jenis teks yang disarankan oleh kurikulum ini.
        Konteks situasi juga mendapatkan perhatian dalam kurikulum ini. Terdapat tiga faktor konteks situasi yang mempengaruhi pilihan bahasa seseorang: topik yang dibicarakan (field), hubungan interpersonal antara pengguna bahasa (tenor) dan jalur komunikasi (lisan atau tulis) yang digunakan (mode). Ketiga faktor ini menentukan apakah seseorang memilih berbahasa formal/informal, akrab/tidak akrab dsb. Kurikulum ini juga diwarnai oleh konsep tersebut agar siswa mampu berkomunikasi sesuai dengan konteks yang dihadapinya.
2.  Teks
        Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bias berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis.
B. Model Pembelajaran

The Figure 3 shows that the classroom programming is based four stages in a         Teaching-Learning Cycle (adapted from Callaghan and Rothery, 1998) Which are aimed at providing support for learners as they move from spoken to written texts. These stages are identified involving the selection and sequencing of classroom tasks and activities and are related the starting points of topic or type of text. The four steps in the Teaching –Learning Cycle are:
                        Step One          : Building the context or field of the topic or text-type
                        Step Two         : Modeling the genre under focus
                        Step Three       : Joint Construction of the genre
                        Step Four        : Independent Construction of the genre


 

































Gambar 3 : The Teaching Learning Cycle. Source: Burns and Joyce: 1991                                      (Adapted from Collaghan and Rothery 1988)

            Dikatakan bahwa model pembelajaran dilakukan dalam dua siklus pembelajaran yakni, siklus lisan dan suklus tulis dan masing-masing siklus mengalami empat tahapan pembelajaran.
BAB II
METODE ‘BANGMOGI’ UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA
        Metode BangMoGI ini merupakan alternatif lain model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran untuk mengimplemantasikan Kurikulum 2004 dan Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL approach). Adapun konsepnya adalah sebagai berikut:
CTL

KURIKULUM 2004

Flowchart: Alternate Process: ACTIONAL,
LINGUISTIC, SOCIO CULTURAL,
STRATEGIC AND ATTITUDE
COMPETENCIESGAINING COMPETENCIES




 

DISCOURSE COMPETENCE
      Diagram diatas memiliki konsep bahwa teori Pembelajaran Kontekstual yang sudah kita kenal perlu adanya wadah agar langkah pembelajaran dapat berjalan dengan lebih efektif dan sistematis sehingga hasil pembelajaran dapat optimal dan mencapai sasaran. Dengan demikian BangMoGI adalah salah satu metode untuk menempatkan prisip-prinsip pembelajaran kontekstual dalam alur yang sistematis.
Metode pembelajaran BangMoGI untuk pembelajaran bahasa memiliki 2 siklus pembelajaran yakni; siklus lisan dan siklus tulis. Pada masing-masing siklus memiliki 4 tahap pembelajaran. Empat tahap pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
A. Bang (Membangun/Building).
        Langkah ini merupakan langkah awal pada suatu pembelajaran teks. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini antara lain adalah sebagai berikut:
a)      Menciptakan suatu konteks untuk menuju pada jenis teks yang akan diberikan pada   pembelajaran yang direncanakan.
b)      Membiasakan siswa berbagi pengalaman.
c)      Mengenalkan kosa kata yang akan digunakan pada pembelajaran teks yang direncanakan. Untuk membatasinya disini guru untuk menentukan tema apa yang akan digunakan. Fungsi tema disini bukanlah merupakan materi pokok melainkan hanya sebagai pembatas bahasan agar tidak terlalu meluas. Dan jenis teks tertentulah yang harus dikuasai oleh siswa. Jadi tema hanyalah merupakan alat sebagai pendukung pada jenis teks tertentu.
d)     Tata bahasa yang akan muncul dalam teks tersebut perlu untuk dibahas dalam tahapan ini.
e)      Mengenalkan juga wacana interpersonal maupun transaksional sehari hari sehingga siklus lisan pada setiap tahapan akan lebih mengena pada sasaran.
f)       Mengenalkan fitur-fitur bahasa yang akan digunakan dalam pembelajaran jenis teks tertentu.
g)      Guru dapat dengan membawa benda asli maupun realia, menonton video (video untuk pembelajaran), dan media pembelajaran lain.
B. Mo (Model/Modeling)
        Tahapan ini adalah pemodelan sehingga  langkah ini digunakan untuk mengenalkan, memahami, menganalisa jenis-jenis teks yang sedang atau akan diberikan dalam proses pembelajaran. Untuk itu perlu beberapa jenis teks yang memiliki fungsi sosial, stuktur generic, dan fitur-fitur kebahasaan yang sama atau sepadan. Dengan beberapa jenis teks yang disediakan guru dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan kongkrit sehingga setelah tahapan Modeling of the Text tersebut dilalui siswa diharapkan sudah mempunyai bekal antara lain; siswa dapat menyebutkan fungsi sosial dari teks yang sedang dipelajarai; siswa dapat mengetahui stuktur generic dari suatu genis teks yang sedang dibahas; siswa dapat memahami informasi yang ada dalam teks baik informasi yang tersirat maupun informasi yang tersurat tentang isi bacaan maupun tentang seputar pengetahuan tentang jenis teks yang sedang dipelajari. Dari beberapa jenis teks yang disediakan guru perlu memberikan teks tersebut misalnya; teks untuk mengembangkan kemampuan reading comphehension; teks untuk mengenalkan karakteristik dari suatu jenis tertentu; teks untuk mengenalkan fungsi sosial dan fitur-fitur kebahasaan yang terkait; dan hal-hal lain yang perlu untuk dikembangkan dalam rangka untuk mencapai kompetensi siswa dalam pembelajaran teks tersebut. Modeling juga dilakukan dalam bentuk lisan pada siklus lisan dan diberikan dalam bentuk tulis pada siklus tulis.
C. G (Grup/Grouping)
        Tahapan ketiga ini merupakan tahapan dimana anak difasilitasi untuk kerja kelompok. Dengan instruksi yang jelas dan bisa dimengerti oleh siswa . Guru membantu proses diskusi; pemecahan masalah dan mengatur agar proses dalam tahapan tersebut merupakan langkah untuk mengetahui apakah siswa sudah tahu tentang pembelajaran teks yang sudah dilalui pada tahp pertama dan kedua. Keberhasilan tahap ini bisa diamati melalui presentasi, demontrasi, atau produk teks yang mereka hasilkan secara berkelompok dan itu merupakan hasil bersama siswa dan hasil ini bisa dalam bentuk lisan untuk siklus lisan dan tertulis untuk siklus tulis. Seandainya dalam tahapan ini guru  belum berhasil memberikan pembelajaran teks ini dan guru belum yakin kalau siswa sudah memiliki kompetensi secara mandiri sebaiknya guru jangan terburu-buru untuk melanjutkan pada tahap berikutnya. Dan guru diperkenankan untuk mengulang, kembali pada tahap sebelumnya dengan penekanan pada hal-hal yang belum dikuasai siswa. Sehingga dalam tahap yang keempat ini diharapkan siswa benar-benar sudah memperoleh kompetensi dari pembelajaran teks tersebut.

D. I (Individual/ Independent)
        Tahap ke empat adalah merupakan tahap untuk mengetahui siswa kita sudah mendapatkan kompetensi atau belum. Dan penilaian yang sesungguhnya adalah pada tahap ini karena target kita adalah terkuasainya kompetensi pada setiap individu dalam pembelajaran yang diberikan. Penilaian proses merupakan retorika untuk mengetahui dalam tahapan-tahapan untuk mencapai kompetensi individual pada hasil pembelajaran secara mandiri ini. Jadi kompetensi 75 % dalam pembelajaran teks, jika siswa mampu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan/atau monolog pendek pada pembelajaran teks tertentu. Siswa dikatakan memiliki kompetensi minimal jika dalam pembelajaran teks siswa tahu, memahami, dan menghasilkan teks baik secara lisan maupun tertulis dengan memenuhi aturan-aturan karakteristik pada suatu jenis teks tertentu secara minimal. Jadi bagi siswa yang sudah memenuhi kompetensi minimal mereka sudah berhak untuk mendapatkan nilai 75 sebagai nilai bahwa mereka telah mendapatkan kompetensi minimalnya dari pembelajaran teks. Dan selebihnya nilai akan bertambah ke atas sampai dengan 100 dan sebaliknya akan berkurang sampai dengan nilai 0 (nol). Jadi siswa yang lulus  kompetensi adalah siswa yang memperoleh nilai 75 ke atas pada setiap Kompetensi Dasar (KD). Bukan banyaknya materi yang menjadikan target tetapi seberapa mampu kompetensi yang harus dikuasai siswa. Karena bagi anak yang sudah benar-benar mendapatkan kompetensi siswa itu akan mengembangkan diri sebanyak dan semampu ilmu yang mereka sudah kuasai. Guru dapat berperan sebagai motivator dalam tindak lanjut dari kompetensi yang sudah dimiliki siswa. Sebagai contoh: Seorang siswa yang sudah memiliki kompetensi baik lisan maupun tertulis dia akan dapat mengembangkan kemampuan dirinya untuk yang lebih luas bahkan tak terbatas. Siswa A sudah memiliki kompetensi dalam pembelajaran deskriptif tentu siswa tersebut akan mampu untuk mendeskripsikan dia sendiri, ayah, ibu, adik, kakak, tetangga, teman sekolahnya dan lain-lain karena dia sudah memiliki kompetensi bagaimanana mendeskripsikan orang.  Siswa B dapat mengembangkan kompetensinya dengan mendeskripsikan tempat yang dia tahu dan pernah ia kunjungi misalnya: sekolahnya, laboratorium sekolahnya, perpustakaan sekolahnya, rumahnya, bangunan-bangunan yang dia ketahui dan bahkan tempat wisata yang pernah dia kunjungi. Siswa C dapat mengembangkan kompetensinya dengan mendiskripsikan benda-benda yang ia miliki, benda yang ia senangi dan tidak senangi, bahkan dia mampu untuk mendiskripsikan benda baru yang dilihatnya dan lain-lain. Para siswa yang kreatif kita dorong untuk dapat mengembangkan diri untuk mengembangkan kompetensi yang mereka miliki. Dengan harapan bahwa hasil pembelajaran dapat membekali siswa untuk memiliki ketrampilan hidup dalam kehidupan mereka (life skill).



BAB III
METODE ‘BANGMOGI’ UNTUK PEMBELAJARAN NON-BAHASA
        Konsepnya hampir sama dengan pembelajaran bahasa hanya saja mata pelajaran selain bahasa tidak memerlukan siklus lisan karena siklus lisan dan tulis dapat diintegrasikan sesuai dengan materi, situasi dan kondisi pembelajaran itu sendiri. Prinsip pembelajarannya mengalami empat tahapan. Adapun empat tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Bang (Membangun/Building)

Mo (Model/Modeling)

G (Grup/Grouping)

I (Individual/Independent)
  
A. Bang (Membangun/Building)
        Yaitu suatu tahapan dimana guru membangun pengetahuan atau piranti atau hal-hal yang berhubungan dengan materi/bahan yang akan disampaikan/dipelajari/didiskusikan pada tahap pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini dapat berupa deskipsi, ilustrasi, inquiry, questioning  ataupun hal lain yang berhubungan dengan dunia nyata yang dapat mendukung untuk pembelajaran selanjutnya.
B. Mo (Model/Modeling)
        Pemberian satu atau beberapa model dari materi yang telah diprogramkan. Kegiatan yang bisa dikembangkan  misalnya: questioning, constructivism dan modeling.
C. G (Grup/Grouping)
        Merupakan tahap melatih siswa untuk dapat bekerja secara kelompok. Kelompok dapat terdiri 4 siswa atau lebih tergantung situasi dan kondisi kelas dan materi yang akan dikerjakan. Kegiatan yang dapat dikembangkan misalnya: lerning community, assessment, evaluation masih dalam grup.
4. I (Individual/Independent)
        Tahapan ini merupakan tahap untuk mengetahui pencapaian dari langkah-langkah sebelumnya. Target yang dituju adalah semua peserta didik tuntas. Sehingga prinsip-prinsip mastery learning ada didalamnya. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini dapat berupa evaluasi maupun reflection atau pengambilan nilai end product.

BAB IV
METODE ’BANGMOGI’ DALAM LESSON PLAN
        Implementasi metode tersebut perlu dituangkan dalam langkah-langkah pembelajaran yang dituliskan dalam lesson plan maupun dalam unit lesson plan. Hal ini disesuaikan dengan situasi, kondisi dan materi yang akan dibelajarkan serta tersedianya waktu yang ada. Adapun contoh lesson plannya adalah sebagai berikut:
SIKLUS TULISA. Contoh 1: Unit Lesson Plan

UNIT LESSON PLAN

Subject                        : English
Year/semester  : III / 2
Theme             : Flora and Fauna
Kind of text    : Report
Time                : 8 x 45 minutes (one meeting)


A. Objective

            Students are able to write a short paragraph to report living things.

B. Learning Activities

Activities
Strategies
Time

1. Pre-activities
    a. Greeting and checking attendance
    b. Explaining the objective of the class today     and direct students to it.


Questioning

10
minutes
(each meeting)

2. Whilst-activities
    a. Bang (Membangun/Building)
        Built ss knowledge about what ss needs to    make run well the  next step for example:
        Give some pictures, some vocabularies in discussion, and lexicogrammatical fitures.
    b. Mo (Model/Modeling)
        Give some model of the report texts in written  
         Discuss not about the information of the texts    and but also  about social function and generic structure of the texts.
    c. G (Grup/ Grouping)
        Learning together to product the text.
  
    d. I (Individual/ Independent)
        The time to product the text his/her self.


Questioning
Inquiry
Class discussion


Modeling
Questioning
Class discussion


Constructivism
Learning community
Constructivism  Work individually
Evaluation



2 x 45
minutes



2 x 45
minutes



2 x 45
minutes


2 x 45
minutes

3. Post-activities
    Students and Teacher make a reflection of the learning   process today.


Reflection

10
minutes
(each meeting)

C. Learning Material

            Writing a report text.

D. Learning Media

            Magic Whist
E. Learning Resources
            * Models of the report texts prepared by teacher on the Magic Cards
            * Students’ worksheets.

F. Assessments
1. Procedure
            a. Process assessment is taken during the learning process.
            b. Product assessment is taken after the student finish writing.
2. Rubrics
                                                                        Gombong, …………..
Headmaster of                                                English Teacher,

SIKLUS TULISSIKLUS TULISB. Contoh 2: Lesson Plan


LESSON PLAN

Subject                        : English
Year/semester  : III / I
Theme             : Sport
Kind of text    : Procedure text
Time                : 2 x 45 minutes (one meeting)


A. Objective

            Students are able to write a short paragraph to report living things.

B. Learning Activities

Activities
Strategies
Time

1. Pre-activities
    a. Greeting and checking attendance
    b. Explaining the objective of the class today     and direct students to it.


Questioning

10
minutes

2. Whilst-activities
    a. Bang (Membangun/Building)
        Built ss knowledge about what ss needs to    make run well the  next step for example:
        Give some pictures, some vocabularies in discussion, and lexicogrammatical fitures.
    b. Mo (Model/Modeling)
        Give some model of the procedure texts in written  
         Discuss not about the information of the texts    and but also  about social function and generic structure of the texts.
    c. G (Grup/ Grouping)
        Learning together to product the text.
  
    d. I (Individual/ Independent)
        The time to product the text his/her self.


Questioning
Inquiry
Class discussion


Modeling
Questioning
Class discussion


Constructivism
Learning community
Constructivism individually



10
minutes



30
minutes



20
minutes

15
minutes


3. Post-activities
    Students and Teacher make a reflection of the learning   process today.


Reflection

10
minutes

C. Learning Material

            Writing a procedure text.

D. Learning Media

            Magic Whist

E. Learning Resources
            * Models of the procedure texts prepared by teacher on the Magic Cards
            * Students’ worksheets.

F. Assessments
1. Procedure
            a. Process assessment is taken during the learning process.
            b. Product assessment is taken after the student finish writing.
2. Rubrics

           

                                                            Gombong, …………..
Headmaster of                                                English Teacher,
SMP ….










BAB V
PENUTUP
            Model Pembelajaran perlu untuk diciptakan untuk mengimplementasikan kurikulum 2004 sekaligus dapat mengimplementasikan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/ Contextual Teaching and Learning (CTL). Metode BangMoGI dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah proses pembelajaran yang cocok untuk implementasi Kurikulum 2004 maupun implementasi Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/ Contextual Teaching and Learning (CTL) baik mata pelajaran maupun non bahasa.
            Langkah-langkah pembelajaran BangMoGI merupakan alternatif metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran yang berdampak pada hasil pembelajaran yang optimal.
            Dengan demikian bukan hanya mutu proses pembelajaran yang meningkat tetapi kwalitas dan profesionalisme guru secara bertahap juga meningkat.







DAFTAR PUSTAKA

Agustin Helena I.R, Dra., M.A., PhD. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Dirjendikdasmen.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999. Kurikulum 1994 dan Suplemennya. Jakarta : Depdikbud.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan MTs. Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan Kontekstual. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
DePorter,Bobbi,&Hernacki,Mike. 2005. Quantum Learning. Bandung: Mizan
Djawanto PS,S.E. 2000. Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan Skripsi. Yogyakata : Liberty Yogyakarta.
Priyono, Andreas, Drs. , Dipl,Art,M.Sc.Ed. dan Drs. H. Djunaedi. 2001. Petunjuk Praktis Classroom Based Action Reseach. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng.
Sofwan, Ahmad, Ph.D. 2005. Improving The Practice of Teaching English as A Foreign Langguage and Developing Teachers’ Professionalism. Makalah Simposium  Bahasa Inggris 2005  
           


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar