Rabu, 09 November 2011

PENERAPAN THE NEAREST NEIGHBORHOOD MEDIA MELALUI METODE BANGMOGI UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MENULIS DESCRIPTIVE TEXT SISWA KELAS 7A SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 4 GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN


PENERAPAN THE NEAREST NEIGHBORHOOD MEDIA
MELALUI METODE BANGMOGI  UNTUK
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN
HASIL BELAJAR MENULIS DESCRIPTIVE TEXT
SISWA KELAS 7A SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 4 GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN












 








OLEH:
BAMBANG PURNOMO
NIM 09082031


MATA KULIAH : PENELITIAN KUALITATIF
DOSEN : Prof. Dr. Samsi Haryanto, M.Pd.
PROGRAM : PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI: PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA (UST)
YOGYAKARTA

Yogyakarta, 2011
Kepada:
Yth. Kepala SMP Negeri 4 Gombong
Kabupaten Kebumen
Di Gombong


Dengan hormat,
Dengan ini  saya, Guru bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, mohon diijinkan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas pada:
            Kelas                           : 7a
            Semester                      : 2
            Tahun Pelajaran           : 2010/2011
            Sekolah                       : SMP Negeri 4 Gombong
Demikian permohonan ijin disampaikan dengan harapan dapat dikabulkan. Atas ijin dan kebijaksanaannya, saya ucapkan terima kasih.


                                                            Gombong, 6 Desember 2010
                                                            Hormat saya (peneliti)





                                                            Bambang Purnomo







KATA PENGANTAR


            Saya (peneliti) memaanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyusun proporsal penelitian tindakan kelas ini.
            Proporsal Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul ‘Penerapan The Nearest Neighborhood Media melalui Metode BangMoGI untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Menulis Descriptive Text Siswa Kelas 7a Sekolah Menegah Pertama Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen adalah upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran, disamping itu untuk meningkatkan profesionalisme yang pada akhirnya merupakan langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pencapaian hasil pembelajaran.
            Peneliti menyadari bahwa  penyusunan proporsal ini masih belum sepenuhnya sempurna untuk itu, peneliti menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang sudi kiranya memberikan masukan demi terlaksanya rencana penelitian tindakan kelas ini dengan baik dan lancar.
            Akhirnya peneliti berharap semoga proporsal ini dapat terlaksana sesuai dengan yang direncanakan. Ada lebih dan kurangnya peneliti mohon maaf yang setulus-tulusnya.


                                                            Gombong, Januari 2010
                                                            Peneliti,




                                                            Bambang Purnomo
                                                            NIM  09082031




                                                            DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………        i
SURAT PERMOHONAN IJIN MENELITI …………………………       ii
KATA PENGANTAR           …………………………………………..      iii
DAFTAR ISI              …………………………………………………..      iv

BAB I             PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah         …………………………………..      1
  1. Identifikasi Masalah   ..................................................................      2
  2. Pembatasan Masalah   ..................................................................      4
  3. Rumusan Masalah       …………………………………………..      4
  4. Tujuan Penelitian        …………………………………………..      5
  5. Manfaat Penelitian                  …………………………………..      5
BAB II                       LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
A.    Landasan Teori        …………………………………………..      8
B.     Penelitian Yang Relevan                  …………………………..      25
C.     Kerangka Berpikir    …………………………………………..      26
D.    Hipotesis Tindakan  …………………………………………..      28
BAB III          METODOLOGI PENELITIAN
  1. Setting Penelitian                    …………………………………..      29
  2. Subyek Penelitian       …………………………………………..      30
  3. Sumber Data   …………………………………………………..      31
  4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data     ..................................  31
  5. Validasi Data  ..............................................................................      32
  6. Analisis Data   ..............................................................................      32
  7. Indikator Kinerja        ..................................................................      32
  8. Prosedur Penelitian     ..................................................................      37
DAFTAR PUSTAKA                        ..................................................................      40
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Writing adalah salah satu dari empat kompetensi yang seharusnya dikuasai oleh siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Kenyataan yang ada bahwa banyak siswa yang belum memiliki kompetensi menulis tersebut. Kompetensi menulis merupakan kompetensi yang memerlukan pengetahuan yang komprehesif karena para siswa sebelum menulis suatu teks mereka harus mengetahui karakteristik dari sebuah teks tersebut agar hasil teks yang dihasilkan dapat berterima oleh dunia international.
     Writing descriptive text merupakan  kompetensi penting bagi siswa Sekolah Menengah Pertama karena writing descriptive text merupakan salah satu Kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Inggris yang harus dukuasai oleh siswa Sekolah Menegah Pertama / Madrasah Tsanawiyah.
     Untuk mengetahui kondisi awal peneliti melakukan  pre-test activitivity (test sebelum pembelajaran menulis  teks deskriptif dilaksanakan yang hasilnya merupakan Kondisi Awal (N0)) penelitian tindakan kelas.
 Pengetahuan tentang karakteristik dari teks deskriptif bahasa Inggris para siswa harus tahu antara lain: tujuan sosial, struktur umum dan fitur-fitur kebahasaan yang muncul dalam suatu jenis teks naratif bahasa Inggris.
Dengan mengetahui karakteristik dari teks deskriptif bahasa Inggris seperti tersebut diatas diharapkan para siswa dapat memiliki kompetensi untuk berkomunikasi secara tulis dengan baik, benar dan berterima.
     Dengan keadaan yang demikian kompetensi writing descriptive text siswa menjadi hal yang sangat penting karena kompetensi tersebut merupakan salah satu Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah.
     Sebagai salah satu alternatif upaya meningkatkan kompetensi writing descriptive text siswa adalah dengan menggunakan lingkungan terdekat (the nearest neighbourhood) melalui metode BangMoGI untuk meningkatkan keaktifan dan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif bahasa Inggris.
B. Identifikasi Masalah
      Masalah-masalah yang dapat peneliti identifikasi dintaranya aadalah sebagai berikut:
1.      Mengapa pembelajaran menulis teks bahasa Inggris siswa pada umumnya rendah?
2.      Bagaimana meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks bahasa Inggris dengan baik, benar dan berterima?
3.      Upaya apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis bahasa Inggris dengan baik, benar dan berterima?
4.      Apakah media lingkungan terdekat siswa dapat meningkatkan hasil pembelajaran dengan baik, benar dan berterima?
5.      Metode pembelajaran apa yang sesuai untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks bahasa Inggris?
6.      Apakah metode pembelajaran yang bervariatif dapat meningkatkan perolehan hasil belajar siswa?
7.      Apakah penggunaan pembelajaran kontekstual/Cotextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan perolehan hasil belajar siswa?
8.      Bagaimana cara untuk membantu mengaktifkan siswa?
9.      Apakah keaktifan siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
10.  Dengan media apa agar aktifitas siswa  dapat ditingkatkan?
11.  Apakah kreatifitas siswa dapat meningkatkan  perolehan hasil belajar siswa.
12.  Apakah motivasi siswa dapat terbangun dengan metode BangMoGI?
13.  Apakah kedisiplinan siswa dapat meningkatkan perolehan hasil belajar siswa.
14.  Apakah tingkat kecerdasan siswa dapat meningkatkan hasil belajar?
15.  Bagaimanakah membangkitkan  rasa senang siswa?
C. Pembatasan Masalah
      Dari identifikasi masalah yang ada, peneliti membatasi pada masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana mengupayakan agar hasil pembelajaran menulis teks deskriptif dapat meningkat?
2.      Media apa yang sesuai untuk digunakan untuk pembelajaran menulis teks deskriptif?
3.      Metode pembelajaran apa yang sebaiknya digunakan untuk meningkatkan keaktifan?
D. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang ada, maka secara spesifik masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Bagaimana meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif?
b.      Apakah metode BangMoGI dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran untuk mengaktifkan dan meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks deskripif ?
c.       Apakah the nearest neighbourhood media  dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran untuk mengaktifkan dan meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks deskripif ?
d.      Apakah metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media  dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran dan media untuk mengaktifkan siswa ?
e.       Apakah metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media  dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran dan media untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks deskripif ?
      Dari masalah-masalah yang ada seperti tersebut diatas dapat diintegrasikan sehingga merupakan suatu upaya pemecahan masalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif sehingga masalah tersebut peneliti rumuskan ” Apakah melalui metode BangMoGI dengan the nearest neighbourhood media  dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil pembelajaran menulis teks deskripif ?

E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian tindakan kelas (classroom action reserach) ini dilaksanakan dalam rangka mengupayakan agar keaktifan siswa dan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif  dapat meningkat.
2. Tujuan Khusus
      Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan  memiliki tujuan khusus untuk meningkatkan keaktifan siswa dan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif melalui metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan memiliki manfaat baik teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis dan manfaat praktis peneliti jelaskan sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
      a. Penelitian tindakan kelas ini memiliki manfaat untuk mendapatkan teori baru tentang upaya meningkatkan keaktifan siswa melalui metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media.
      b. Penelitian tindakan kelas ini memiliki manfaat untuk mendapatkan teori baru tentang upaya meningkatkan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif melalui metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media.
      c. Penelitian tindakan kelas ini memiliki manfaat untuk mendapatkan teori baru tentang upaya meningkatkan keaktifan siswa dan hasil pembelajaran menulis teks deskriptif melalui metode BangMoGI dengan menggunakan the nearest neighbourhood media.
2. Manfaat Praktis
    Manfaat praktis tersebut sekurang-kurangnya memiliki 3 manfaat yang peneliti uraikan sebagai berikut:
a. Bagi Guru
            1) Untuk meningkatkan proses pembelajaran.
            2) Untuk meningkatkan profesionalisme.
b. Bagi Siswa
            1)  Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di sekolah.
            2)  Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
3) Untuk meningkatkan kompetensi menulis teks naratif bahasa Inggris siswa.
c. Bagi Sekolah
1).Untuk memberikan informasi faktual tentang keberhasilan pembelajaran.
            2)  Untuk memberikan masukan pada sekolah dalam menyusun program
      kegiatan pada tahun pelajaran berikutnya.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori
     Bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
     Untuk mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum ini.
     Terdapat beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.
1. Kompetensi
     Kurikulum 2004, yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  menyebutkan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsinten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
2. Model Kompetensi
     Sejauh ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
     Salah satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi berbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :
     




           Sociocultural
          Competence



     Discourse Competence












 




                                                                                                                                     Linguistic                               Actional
                                                                                                                                  Competence                         Competence


       Strategic
     Competence

            Gambar 1: Model Kompetensi Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.)
     Kompetensi utama yang dituju adalah kompetensi wacana (Discourse Competence) yang didukung oleh kompetensi linguistik (Linguistic Competence), Kompetensi sosiokultural (Sociocultural Competence) dan Kompetensi Tindak Tutur (Actional Competence). Kompetensi writing ada di dalam Actional Competence.

3. Hasil Belajar
            Dalam kurikulum tingkat satuan pelajaran dinyatakan bahwa hasil belajar terdiri dari 2 yaitu: hasil belajar berdasarkan penilaian hasil dan penilaian berdasarkan proses. Sehingga penilaian hasil dapat dilakukan dengan tes tertulis sedangkan, penilain proses dapat dilakukan dengan cara pengamatan, dokumentasi foto maupun movie, kuesioner, angket dan cara lain yang dapat memberikan gambaran tentang perose yang terjadi baik dari segi aktivitas siswa, managemen kelas, metode/model/teknik pembelajaran itu berlangsung.
            Menurut caranya dibagi menjadi 2 cara yaitu: dengan cara tes dan non-tes.
Dengan tes itu dilakukan untuk memperoleh hasil pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan pada setiap KD atau beberapa KD, dalam hal ini dikenal dengan ulangan harian, ulangan blok, tes formatif dan tes sumatif, ulangan tengah semester, ulangan semester dan ulangan kenaikan kelas, evaluasi tahap akhir dan atau ujian sekolah maupun ujian nasional. Dari data yang diperoleh dapat berupa data nilai kuantitatif maupun kualitatif. Data nilai kuantitatif semua penilaian yang dilakukan dengan satuan angka misalnya: nilai 0 – 10 atau nilai 0 – 100. Sedangkan data nilai kualitatif dapat berupa penilaian non-angka/data verbal misalnya: amat baik, baik, cukup, kurang, dan kurang sekali atau misalnya sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
            Untuk mengetahui hasil belajar dapat dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis dikelompokan dalam tes yang sifatnya subyektif dan tes yang sifatnya obyektif. Tes subyektif biasanya tes yang berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes untuk mengetahui perolehan hasil belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-cirinya pertanyannya didahului dengan kata-kata seperti; uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Tes obyektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif karena hasil tes dapat dilakukan oleh pihak lain yang tidak harus oleh pengajarnya atau yang membidangi materi yang diteskan. Macamnya adalah seperti; tes benar-salah (true-false), Tes pilihan ganda (Multiple choise test), Menjodohkan (matching test) dan Tes isian tertutup (Completion test). Macam-macam tes diatas biasanya untuk mengukur hasil belajar pada ranah kognitif, sedangkan ranah afektif tidak semudah ranah kognitifuntuk melakukan pengukuran. Pengukuran ranah afektif dalam hal ini misalnya sikap tidak dapat diukur sewaktu-waktu ( dalam arti pengukuran secara formal) karena perubahan tingkah laku tidak dapat berubah sewktu-waktu. Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama termasuk pengembangan minat, penghargaan, serta nilai-nilai. Untuk itu perangkat pengukuran yang digunakan dapat mengunakan catatan-catatan pengamaten, kuesioner atau cara lain yang memungkin dapat dilakukan dan paling cocok dengan kondisi dari yang dinilai atau diukur.
            Ranah yang lain adalah ranah psikomotor. Pengukuran ranah ini untuk mengetahui terhadap hasil-hasil belajaryang berupa penampilan atau ketrampilan. Untuk mengukur hal ini dapat digunakan rubrik penilaian atau pengukuran dengan instrumen menurut skala Likert dengan skor dari kecil ke angka yang lebih besar jika memerlukan data kuantitatif atau data kualitatif dari paling rendah ke paling tinggi, atau dari sangat jelek ke sangat baik dan atau sebaliknnya.
            Hasil belajar adalah sesuatu pencapaian dari suatu kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar dapat diketahui dengan dua cara yaitu; dengan cara pengukuran (kegiatan menentukan kuantitas suatu obyek) dan dengan cara penilaian (kegiatan menentukan kualitas suatu obyek). Karena keduannya ada perbedaan yang prisipiil, kedua kegiatan dapat dikatakan ’dua’ atau dwi, Tetapi kedua kegiatan itu saling berhubungan maka kegiatan itu kadang disebut dengan sebutan’dwitunggal’.Dari pembahasan pengertian pengukuran dan penialain sifat suatu obyek seperti telah disebutkan diatas, bagaimanapun kegiatan tersebut harus dapat benar-benar mewakili sifat suatu obyek. Dengan kata lain skor atau nilai prestasi belajar dapat mewakili prestasi belajar yang sesunggguhnya.
            Kegiatan mengukur sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuantitas sifat suatu obyek melalui aturan-aturan tertentu sehingga kuantitas yang diperoleh benar-benar mewakili sifat suatu obyek yang dimaksud. Kuantitas yang diperoleh dari suatu pengukuran sifat suatu obyek adalah skor, misalnya: 60, 57, 68, 89,75 59,76,75,75,90 dan sebagainya. Kuatitas pengukuran sifat suatu obyek dibedakan menjadi dua yaitu; kuantitas kontinu dan kuantitas niminal. Yang dimaksud skor kontinu adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya mengalami perubahan secara berangsur-angsur, misalnya dari 60 menjadi 60,5 atau menjadi 59,5 dan seterusnya.
Adapun yang dimaksud dengan kuantitas nominal atau deskrit adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya tidak dapat berubah-ubah dari 15 menjadi 15,5 siswa atau 14,5 siswa dan seterusnya. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dalam pengukuran  hasil belajar hanya mengenal kuantitas kontinu. Kuantitas kontinu diatur dalam dua skala yaitu; skala interval dan skala ordinal. Skala interval suatu skala yang tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya sama, sedangkan skala ordinal adalah skala yang tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya tidak sama. Suatu skala tidak mengenal titik nol mutlak maksudnya adanya suatu kuantitas dari sifat suatu obyek dalam skala tersebut tidak terukur oleh suatu alat pengukur, maka diberi angka nol. Tetapi bukan berarti tidak ada kuantitas sama sekali.
            Kegiatan menilai sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuanlitas sifat suatu obyek. Kagiatan tersebut tidak lepas dari skor-skor sifat suatu obyek. Agar skor-skor itu bermakna maka perlu dibandingkan dengan suatu acuan-acuan yang relevan, yang sesuai dengan sifat suatu obyek, misalnya prestasi belajar siswa dalam penguasaan mata pelajaran tertentu. Kegiatan membandingkan harus dilakukan secara obyektif sehingga hasil perbandingan yang berupa makna atau kualitas benar-benar mewakili kualitas hasil belajar yang sesungguhnya. Misalnya; kualifikasinya amat baik, baik, cukup, kurang atau meragukan, amat kurang, atau gagal. 
            Kualitas atau nilai sifat suatu obyek akan ada apabila kuantitas dari sifat suatu obyek tersebut. Demikian pula, kuantitas suatu obyek tidak akan berarti jika kuantitas itu tidak diubah menjadi kualitas.

4. Keaktifan
            Keaktifan berasal dari kata dasar aktif mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga dari kata sifat menjadi kata benda yaitu proses kegiatan aktif. Aktif dimaksud bukan saja aktif jasmani saja dalam hal ini mencakup aktif otak dan perasaan. Sehingga keaktifan tersebut meliputi aktif jasmani, rohani, dan daya pikir manusia. Dengan kata lain, manusia dikatakan aktif jika satu atau lebih dari indera kita berfungsi untuk merespon dari stimulus yang ada, oleh karena itu keaktifan tidak hanya dirtikan aktif karena adanya gerakan badan, kepindahan badan seseorang tetapi orang dapat dikatakan aktif jika fungsi indera seseorang mampu merespon stimulus yang ada sehingga dapat mengaktifkan fungsi otak yang dimiliki individu tersebut. Jadi seseorng kelihatannya diam secara fisik tetapi dapat dikatakan aktif karena mereka sedang melakukan kegiatan mendengar dan berfikir. Dalam hal ini yang aktif bukan fisik secara keseluruhan tetapi fungsi otak yang sedang berfungsi dan tingkat keaktifan otak manusia tidak tidak sama antara individu yang satu dengan lainnya. Pada usia anak-anak (12 – kebawah) sering kali yang lebih dominan adalah keaktifan fisik tetapi setelah melewati usia anak banyak sekali keaktifan yang tadinya fisik bergeser ke-keaktifan non fisik. Karena kebutuhan dari fungsi otak dalam berfikir semakin meningkat.
            Konfusius lebih dari 2000 tahun silam telah menyatakan:
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya lihat, saya ingat,
Yang saya kerjakan, saya pahami.
Tiga pernyataan diatas memberikan isyarat bahwa keaktifan dalam belajar adalah perlu. Dengan kata lain belajar aktif sangat diperlukan dalam proses pembelajaran setiap individu. Dan kata bijak itu dimodifikasi dan dikembangkan oleh Melvin L Siberman dengan sebutan Paham Belajar Aktif.
Yang saya dengar, saya lupa.
Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat.
Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau didiskusikan dengan orang lain, saya mulai memahami.
Dari yang dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya dapatkan pengetahuan dan ketrampilan.
Yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai. 
            Dari pernyataan-pernyataan diatas sangatlah jelas tingkat keaktifan manusia dalam belajar akan mempengaruhi perolehan hasil belajar yang didapat. Semakin aktif semakin banyak yang diperoleh dalam kegiatan belajar.
5. Teks
     Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bisa berdampak sangat serius bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis. Oleh karena itu, target kegiatan writing dalam konteks situasi dan kondisi yang beragam akan membantu siswa dalam menghasilkan teks bentuk tulis.
6. The Nearest Neighbourhood Media
     The Nearest Neighbourhood Media yang dimaksud adalah media pembelajaran menggunakan lingkungan terdekat siswa. Misalnya: teman-teman sekelasnya, benda-benda yang mereka miliki, benda-benda yang ada didekatnya (meja, kursi, tas sekolah, kelas, dsb) dan lingkungan tempat kereka biasa tinggal (sekolahnya, rumahnya, tempat bermainnya, dll).
7. Jenis Teks (Genre)
     Yang dimaksud dengan Genre yaitu jenis-jenis teks. Kita mengenal istilah ini dari Kurikulum 2004 yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ada 12 jenis teks yang dijelaskan dalam kurikulum tersebut antara lain: Recount, Report, Discussion, Explanation, Analytical Exposition, Hortatory Exposition, New Item, Anecdote, Narrative, Procedure, Descriptive dan Review. Namun untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)  kelas VII, VIII dan IX kompetensi yang harus dicapai hanya 6 jenis teks yaitu Descriptive, Recount, Narrative, Anecdote, Procedure dan Report.

8. Teks Deskriptif
     Teks deskriptif adalah salah satu jenis teks (genre) bahasa Inggris yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
Descriptive text characteristics

Social function

To describe a particular person, place or thing

Generic structure

Identification             : Identifies phenomenon to be described
Description     : describes parts, qualities, characteristics

Significant lexicogrammatical features

·         Focus on specific participant
·         Use of   attributive and identifying processes
·         Frequent use of ephitets and classifiers in normal groups
·         Use of simple present tense

 

















9. Metode BangMoGI
     Metode BangMoGI adalah nama langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning Approach) yang peneliti berikan dengan tujuan untuk mempermudah mengingat untuk dilakukan sehingga dengan menyebutkan satu kata guru akan mengetahui tahap-tahap pembelajaran yang harus dilalui. Metode ini merupakan suatu langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL).
Ada empat tahapan dalam langkah-langkahnya yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving)


Mo (Model/Modeling)


G (Grup/Grouping)


I (Individual/Independent)

                        Gambar 2: Diagram  langkah-langkah metode BangMoGI

 a.  Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving)
                 Bang (Membangun/Mengembangkan/Building/Improving) suatu tahapan dimana guru membangun/mengembangkan pengetahuan atau piranti atau hal-hal yang berhubungan dengan materi/bahan yang akan disampaikan/dipelajari /didiskusikan pada tahap pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini dapat berupa deskipsi, ilustrasi, inquiry, questioning  ataupun hal lain yang berhubungan dengan dunia nyata yang dapat mendukung untuk pembelajaran selanjutnya. Jenis teks yang akan dibelajarkan misalnya, narrative text maka semua pembelajaran juga peneliti arahkan untuk bagaimana siswa memahami tujuan sosial, memahami stuktur umum dan memahami fitur-fitur kebahasaan dari teks narrative text tersebut.

b. Mo (Model/Modeling)
                 Mo (Model/Modeling) suatu tahapan pemberian satu atau beberapa model          dari materi yang telah diprogramkan. Kegiatan yang bisa dikembangkan misalnya: questioning, constructivism dan modeling. Contoh kegiatan yang peneliti lakukan antara lain; peneliti memberikan contoh-contoh teks melalui story telling, worksheet atau program power point yang ditayangkan dengan LCD; peneliti tanyakan isi informasi teks-teks tersebut baik informasi tersurat maupun tersirat; peneliti juga menjelaskan tentang bagaimana retorika sebuah teks itu disusun.
c. G (Grup/Grouping)
G (Grup/Grouping) adalah merupakan tahap melatih siswa untuk dapat bekerja secara kelompok. Kelompok dapat terdiri 4 siswa atau lebih tergantung situasi dan kondisi kelas dan materi yang akan dikerjakan. Kegiatan yang dapat dikembangkan misalnya: learning community, assessment, evaluation masih dalam grup. Adapun contoh aktivitasnya adalah sebagai berikut, mereka pertama-tama mendiskusikan cerita apa yang baru didengar, dibaca atau dilihat dan didengar serta didiskusikan dalam kelompok tersebut.


d. I (Individual/Independent)
            I (Individual/Independent) tahapan ini merupakan tahap untuk mengetahui pencapaian dari langkah-langkah sebelumnya. Target yang dituju adalah semua peserta didik tuntas. Sehingga prinsip-prinsip mastery learning ada didalamnya. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini dapat berupa evaluasi maupun reflection atau pengambilan nilai. Contoh kegiatannya adalah peneliti memerintahkan masing-masing siswa untuk memproduk sebuah teks naratif dikelas dan atau dirumah.
     Berikut peneliti berikan teori yang dikembangkan menjadi metode BangMoGI, Callaghan dan Rothery menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dilalukan melalui empat  tahapan pembelajaran seperti yang terlihat dalam gambar dibawah ini.
             The four steps in the Teaching –Learning Cycle are:
            Step One          : Building the context or field of the topic or text-type
            Step Two         : Modeling the genre under focus
            Step Three       : Joint Construction of the genre
            Step Four        : Independent Construction of the genre
           
            Gambar 3 : The Teaching Learning Cycle. Source: Burns and Joyce: 1991 (Adapted from Collaghan and Rothery 1988)

10. Contextual Teaching and Learning (CTL)
            Contextual Teaching and Learning Approach  (CTL) merupakan pendekatan pembelajaran dimana proses pembelajaran seoptimal mungkin mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks yang ada di dunia nyata sehingga siswa dapat menerapkan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran untuk bisa survival dalam hidup yang sebenarnya kelak. Dan bekal yang sudah mereka miliki merupakan modalitas untuk ketrampilan hidup (life skill).

Menurut Zahorik pengertiannya adalah sebagai berikut:
            “Knowledge is constructed by humans. Knowledge is not a set of facts, concept,      or laws waiting to be discovered. It is not something that exists independent of a    knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring                       meaning to their experience. Everything that we know, we have made”
            Zahorik :         Contextual Teaching-Learning (2003:3)

            Menurut Elaine B. Johnson ada tujuh strategi penting dalam berupaya melaksanakan pembelajaran dengan mengggunakan pendekatan pembelajaran kotekstual antara lain sebagai berikut: pengajaran berbasis masalah, menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian autentik dan mengejar standard tinggi. (Elaine B. Johnson, 2010:21-23)
            Disamping itu ada tujuh prinsip-prinsip CTL adalah sebagai berikut:
1.      Kontruktivisme (Constructivism)
2.      Belajar dengan melakukan (Inquiry)
3.      Bertanya (Questioning)
4.      Pemodelan (Modeling)
5.      Belajar Berkelompok (Learning Community)
6.      Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
7.      Refleksi (Reflection)
            Dengan didasari teori belajar kontruktivistik bahwa belajar adalah proses mengkontruksi sesuatu pada seorang individu yang sedang melkukan pembelajaran, bukan peoses transfer ilmu. Pembelajaran akan lebih bermakna jika daya pikir pembelajar dapat mencapai pada tingkat menkontruksi suatu yang mereka dapatkan.
            CTL adalah sebuah system yang tidak berdiri sendiri. CTL mengandung bagian-bagian yang salin terkait dan berhubungan. Dari bagian-bagian yang ada memiliki hal yang unik dan meberi dampak yang tersendiri. Untuk itu agar proses pembelajaran dapat lebih memberi makna bagian-bagian yang terpisah itu dapat saling terkait dan dapat member kontribusi masing-masing sehingga dapat membantu siswa dalam memahami makna dari pembelajaran termasuk materi-materi yang bersifat akademik.
Ada 8 komponen yang terkait dengan CTL antara lain sebagai berikut:
1.      Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna
2.      Melakukan pekerjaan yang berarti
3.      Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4.      Bekerjasama
5.      Berfikir kritis dan kreatif
6.      Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7.      Mencapai standar tinggi
8.      Menggunakan penilaian autentik
Menurut Johnson dalam (Elaine B. Johnson, 2010:19) bahwa hakekat CTL adalah makna, bermakna, dan dibermaknakan seperti yang tertera dalam kutipan sebagai berikut:
          ... an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with contect of their personal, social, and cultural circumtance. To achieve this aim, the system encompasses the following eight component: making meaningful connections, doing significant work, selt-regulated learning, collaborating, critical an creative thinking, nurturing the individual, reaching high standard, using authentic assessment.(Johnson,2002:25)








B. Penelitian Yang Relevan
     Adapun jenis penelitian yang relevan dalam hal ini adalah Penelitian Tindakan Kelas / PTK (Classroom Action Research / CAR) yang berjudul antara lain sebagai berikut:
  1. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Menulis Teks Narratif dengan Multimedia melalui Metode BangMoGI. Penelitian Tindakan Kelas. Bambang Purnomo. 2005
  2. Optimalisasi Pembelajaran Teks Report dengan Magic Whist melalui Metode BangMoGI. Penelitian Tindakan Kelas. Bambang Purnomo, 2006.
  3. Optimizing Learning Media to Create The Ejoyable English Learning Proccess. Penelitian Tindakan Kelas. Bambang Purnomo, 2005.
  4. Upaya Meningkatkan Hasil Ujian Nasional melalui The Small Group Guidancing Model. Penelitian Tindakan Sekolah. Bambang Purnomo. 2009.
                       
C. Kerangka Berfikir
     Berbicara tentang pencapaian hasil pembelajaran dapat dilihat dari berbagai hal yang mempengaruhi antara lain: in-put siswa, kecerdasan, ketekunan, motivasi siswa, motivasi guru dalam melaksanakan pembelajaran, kompetensi yang dimiliki guru khususnya kompetensi bahasa Inggris yang dimilikinya, kreatifitas guru dalam pembelajaran sehingga pembelajaran selalu mengalami inovasi sesuai dengan situasi kondisi yang ada dalam pembelajaranya, dan sarana prasarana agar pembelajaran dapat berlangsung secara optimal sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan aktif , kreatif, efektif dan menyenagkan.
     Kuriklulum 2004 yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menetapkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mendapat pembelajaran. Pemerintah melalui kurikulum hanya menetapkan kemampuan minimal yang harus dimiliki oleh pesrta didik yang dinyatakan lulus. Dengan demikian kreatifitas guru sangat diperlukan untuk meningkatkan pembelajarannya. Dengan proses pembelajaran yang semakin meningkat secara kwalitas maupun kwantitas diharapkan hasil pembelajaran akan semakin meningkat pula. Melalui pembelajaran teks (genre) guru dapat mengemas pembelajarannya dalam rangka untuk mencapai beberapa aspek . Aspek kognitif dan psikomotor dapat dinilai dari penilaian tindak bahasa (actional competence) sesuai dengan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum, antara lain kompetensi mendengar, kompetensi berbicara, kompetensi membaca dan kompetensi menulis. Disamping kompetensi-kompetensi tindak bahasa yang diukur guru seyogyanya mampu untuk meningkatkan pembelajarannya misalnya meningkatkan kompetensi sikap. Yang dalam pengukurannya bisa dilakukan dengan pengamatan, angket dan wawancara yang dituangkan dalam bentuk deskripsi hasil penilaian.
     Implementasi Kurikulum 2004 yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  dan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL) perlu diupayakan dalam rangka untuk menciptakan pembelajaran yang sebanyak aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Disamping situasi pembelajaran seperti tersebut diatas, pencapaian kompetensi merupakan prioritas utama dalam tujuan pembelajaran untuk itu perlu diupayakan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.
     Pemanfaatan the nearest neighborhood media sebagai media pembelajaran melalui langkah-langkah metode BangMoGI merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang diduga dapat mengoptimalkan proses pembelajaran, khususnya pembelajaran menulis teks descriptive. Penelitian ini direncanakan dilakukan selama tiga bulan tiga siklus penelitian. Siklus I pembelajaran menulis deskriptif orang, siklus II pembelajaran deskriptif benda dan siklus III pembelajaran menulis deskriptif orang.











Adapun kerangka berfikir dari tindakan yang peneliti akan lakukan seperti pada diagram kerangka berfikir pada gambar 4 bab II berikut di bawah ini.


Gambar 4: Diagram kerangka berfikir penggunaan the nearest neighborhood media melalui metode BangMoGI untuk meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar menulis teks deskriptif bahasa Inggris

             
D. Hipotesis Tindakan.

      Adapun hipotesis tindakan yang dapat peneliti tetapkan adalah penggunaan the nearest neighborhood media melalui metode  BangMoGI  dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar menulis teks deskriptif bahasa Inggris siswa kelas 7a Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
      Penelitian tindakan ini peneliti laksanakan pada semester 2 kelas 7a SMP Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen tahun pelajaran 2010/2011. Adapun waktu pelaksanaannya meliputi kegiatan awal, siklus 1, siklus 2, siklus 3 dan kegiatan akhir penelitian. Kegiatan awal dilaksanakan pada Desember 2010 –Januari 2011, tindakan dilakukan selama bulan Januari- Pebruari 2011 dan kegiatan akhir pada bulan Pebruari-Maret 2011.

2. Tempat Penelitian
            Penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen. Sekolah ini beralamatkan di jalan Yos Sudarso Timur nomor 44 Gombong yang kurang lebih 20 kilometer dari kota Kebumen ke arah barat. Telpon (0287)471245 Kode Pos 54416. Sekolah ini memiliki rombongan belajar sebanyak 24 rombel yang terdiri dari  8 rombel  kelas 7, 8 rombel kelas 8 dan 8 rombel kelas 9 kelas dengan masing-masing rombongan belajar sebanyak 32-36 oarang siswa, memiliki tenaga pendidik sebanyak 40 guru yang sudah berkualifikasi sarjana 36 orang, 4 orang guru sedang studi lanjut dan yang sudah bersertifikat profesional sebanyak 21 oarang guru, tenaga kependidikan 11 orang terdiri 5 orang staf administrasi dan 6 orang penjada sekolah dan memiliki 1 orang petugas laboratorium IPA dan 1 orang petugas perpustakaan, memiliki siswa sebanyak 820 siswa. Sekolah ini adalah sekolah  potensial untuk berkembang menjadi sekolah yang lebih baik lagi dari keadaan yang relatif daya dukungnya sangat berpotensi untuk berkembang.        



 





















Gambar 1: Foto dokumentasi SMP Negeri 4 Gombong tampak muka yang  
                    sebelah kanan dan kiri dari jalan masuk memiliki tempat
                    olahraga yang cukup memadai untuk kegiatan siswa    

B. Subjek Penelitian
      Sujek penelitian tindakan dilakukan pada siswa kelas 7a SMP Negeri 4 Gombong tahun pelajaran 2010/2011 karena siswa tersebut adalah siswa-siswa yang sangat erat hubungannya dengan permasalahan penelitian yang perlu untuk dilakukan tindakan disamping itu kebetulan kelas itu adalah salah satu kelas yang peneliti melakukan pembelajaran sebagai guru bahasa Inggris sekaligus kepala sekolah Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Gombong Kebupeten Kebumen.


C. Sumber Data
      Sumber data yang dapat peneliti himpun adalah data primer dari hasil-hasil nilai pre-test activity, pengamatan, penilaian proses, post-test activity, hasil diskusi, wawancara, dokumentasi, dan data-data lainnya yang mendukung penelitian tindakan kelas ini.
D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
      Teknik pengumpulan data melalui tes dan non-tes.  Tehnik tes antara lain:
Pre-test activity, test-test selama proses pembelajaransetiap siklus, post-test activity jenisnya esay tes. Data non tes antara lain: hasil pengamatan, hasil diskusi, hasil wawancara, hasil dokumentasi foto maupun movie kegiatan.
E. Validasi Data
      Untuk data tes divalidasi dengan kisi-kisi pembuatan soal esay sesuai satandard kompetensi dan kompetensi dasar dalam silabus bahasa Inggris kelas soal-soal Ujian Nasional yang sudah divalidasi olah 7 sekolah Menengah Pertama negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen Tahun pelajaran 2010/2011. Sedangkan data hasil non-tes mengunakan triangulasi.

F. Analisis Data
      Data-data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes tes setelah siklus 1, nilai tes tes setelah siklus 2 dan nilai tes setelah siklus 3. Sedangkan data-data kualitatif dilakukan triangulasi data.

G. Indikator Kinerja
      Adapun indikator keberhasilan tindakan yang dilakukan jika:
1.      Hasil belajar menulis teks deskriptif bahasa Inggris dari siklus ke siklus mengalami peningkatan dibanding  kondisi awal.
2.      Keaktifan siswa selama pembelajaran dari siklus ke siklus mengalami peningkatan.

H. Prosedur Penelitian
            Prosedur penelitian  tindakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar menulis teks deskriptif bahasa Inggris tahun pelajaran 2010/2011 kelas 7a siswa SMP Negeri 4 Gombong Kabupaten Kebumen dengan menggunakan the nearest neighbourhood media melalui metode BangMoGI akan dilakukan selama 3 bulan dengan  jadwal waktu seperti  dalam tabel 1 bab III di bawah ini sebagai berikut:
Tabel 1: Tabel jadwal kegiatan dan waktu penelitian tindakan kelas
NO
KEGIATAN
WAKTU
KETERANGAN
1
Awal
Des2010-Jan2011
Pre-Research
2
Siklus I
Januari 2011
Minggu II-III (action I)
3
Siklus II
Januari  2011
Minggu III-IV(action II)
4
Siklus III
Februari 2011
Minggu  I-II (action III)
5
Akhir
Feb. -Maret 2011
Post-Resarch and Reporting
     
Kegiatan awal dilakukan pada akhir bulan desember 2010 tahun pelajaran 2010/2011 dengan mempersiapkan perencanaan, perangkat dan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan penelitiaan tersebut. Menganalisa hasil pre-test learning (tes sebelum kegiatan pembelajaran menulis teks deskriptif dilaksanakan) selanjutnya hasil analisisnya peneliti jadikan sebagai kondisi awal dari penelitian tindakan kelas ini.
      Siklus I dilaksanakan selama bulan Januari 2010 minggu II-III, siklus II pada bulan Januari 2011 minggu III-IV dan siklus III pada bulan Februari 2011.  Setiap siklus penelitian tindakan kelas ini memiliki empat kegiatan yakni:
1.      Perencanaan (planning)
2.      Pelaksanaan tindakan (acting)
3.      Pengamatan (observing)
4.      Refleksi (reflecting).
      Kegiatan Akhir dilaksanakan pada bulan Februari s/d Maret 2011. Kegiatan yang dilakukan peneliti pada saat itu adalah mengumpulkan semua data, menganalisis data, mengolah data dan selanjutnya menuliskan penelitian tindakan kelas ini dalam laporan penelitian tindakan kelas.
DAFTAR PUSTAKA  
Ary Ginanjar Agustian, 2005. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Jakarta: Penerbit Arga.
Agustin, Helena I.R, Dra., M.A., PhD. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris. Jakarta : Dirjendikdasmen.
Andreas Priyono,dkk. 2001. Petunjuk Praktis Classroom Based Action Reseach. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng,
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP dan MTs. Jakarta : Puskur Balitbang Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan Kontekstual. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
DePorter,Bobbi,&Hernacki,Mike. 2005. Quantum Learning. Bandung: Mizan
Elaine B. Johson,2010. CTL   Contextual Teaching and Learning. Bandung. Penerbit: Kaifa.
Masidjo,1995, Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta.Penerbit: Kanisius.
Leonhardt, Mary. 2005. Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Mark Anderson and Kathy Anderson, Text Types in English, Malaysia, 2003.
Melvin L. Silbermen, 2010. Active Learning. Bandung. Penerbit: Nusamedia dan Penerbit: Nuansa.
MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Kebumen, English Book 1 (English Competence Based through Genre)       for the Seventh Year, Kebumen , 2004.
MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Kebumen, Pengembangan Silabus Bahasa Inggris, Depdikbud, Kebumen, 2005.
Mico Pardosi. 2004. Belajar Sendiri Internet. Surabaya. Penerbit: Indah.
Mulyadi, MP, 2009, Paparan Karya Tulis Ilmiah Guru, Widyaswara LPMP Jateng
Nasution,S. 2008. Metode Reearch. Jakarta. PT Bumi Aksara
Priyono, Andreas, Drs. , Dipl,Art,M.Sc.Ed. dan Drs. H. Djunaedi. 2001. Petunjuk Praktis Classroom Based Action Reseach. Semarang : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jateng.
Robert L. Slavin.2010. Cooperative Learning  Teori, Riset dan Praktik. Bandung. Penerbit: Nusa Media
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Sugiyono, 2007. Statistik untuk Penelitian. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Suharsimi Arikunto, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Suharsismi Arikunto,2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar