PENGARUH
PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS
DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI
DI KECAMATAN GOMBONG

S
OLEH:
BAMBANG
PURNOMO
NIM
09082031
MATA KULIAH : DESAIN DAN
ANALISIS EKSPERIMEN
DOSEN : Prof. Dr. RA Sri
Joetmini Mardanus ,M.Pd.
PROGRAM : PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI: PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA
TAMANSISWA (UST)
YOGYAKARTA
Yogyakarta, 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke
hadirat Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga dapat menyusun proporsal ini.
Proporsal ini berupa rencana pelaksanaan
penelitian ekperimen. Proporsal ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas mata kuliah Desain
dan Analisis Eksperimen program pasca sarjana, program studi Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan (PEP), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
Yogyakarta.
Penyusunan
proporsal ini tersusun atas bimbingan Prof. Dr. RA Sri Joetmini Mardanus ,M.Pd. dengan pendukung dari berbagai sumber antara lain: buku-buku
yang disarankan, buku-buku lain. dan materi-materi dari hasil unduhan di media
internet.
Penyusun proporsal menyadari
bahwa tersusunnya proporsal ini atas
bantuan berbagai pihak dan masih sangat sederhana dan perlu dilengkapi dan
disempurnakan, oleh karena itu pada kesempatan ini penyusun menyampaikan penghargaan
dan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu
dalam penulisan proporsal ini dan semoga semua amal baik mereka menjadikan
pahala dihadapan Allah Swt. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat diharapkan guna penyempurnaan.
Akhirnya penyusun proposal berharap semoga
proporsal ini barmanfaat dan dapat memenuhi tugas dalam menempuh mata kuliah Desain
dan Analisis Eksperimen.

Penyusun,
Bambang
Purnomo
NIM
09082031
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………… i
KATA PENGANTAR ………………………………………….. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah .................................................... 1
- Identifikasi Masalah ................................................................ 5
- Pambatasan Masalah ................................................................ 7
- Rumusan Masalah ................................................................ 8
- Tujuan Penelitian ................................................................. 9
- Manfaat Penelitian ................................................................. 10
BAB II KAJIAN
PUSTAKA
- Deskripsi Teoritis ………………………………………… 11
- Penelitian yang Relevan ………………………………… 24
- Kerangka Berfikir ………………………………………… 26
- Pengajuan Hipotesis ………………………………………… 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Jenis Penelitian …………………………………………. 29
- Rancangan Penelitian ………………………………………… 29
- Definisi Operasional Variabel Penelitian ………………… 31
- Populasi dan Sampel ……………………………………….. 31
- Instrumen Penelitian ……………………………………….. 32
- Teknik Pengumpulan Data ……………………………….. 38
- Teknik Analisis Data ………………………………………. 39
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………… 45
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I ………………………………………………… 46
Lampiran II ………………………………………………… 49
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan
pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan
untuk menghadapai tantangan sesuai
dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga
perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan. Oleh karena itu
proses dan mutu pembelajaran perlu ditingkatkan agar pembelajaran dapat
dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga anak
didik dapat menggembangkan potensi diri dan dapat memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kurikulum 2004, yang merupakan embrio dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) yang selanjutnya dikembangkan lagi menjadi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) mengamanatkan bahwa setiap lulusan harus telah
memiliki kompetensi yang diprasaratkan dalam standar kompetens maupun
kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam kurikulum tersebut. Model
kompetensi ini dirumuskan sebagai kompetensi berkomunikasi yang mempunyai
tujuan akhir pada pencapaian kompetensi wacana (discourse competence).
Kompetensi wacana
memprasaratkan bahwa peserta didik dalam menggunakan bahasa dalam komunikasi
harus selalu secara tepat mempertimbangkan konteks budaya dan konteks situasi.
Kompetensi wacana tidak mungkin tercapai tanpa adanya kompetensi kebahasaan
yang lain yang meliputi kompetensi tindak bahasa dan retorika (yang tercakup
dalam actional competence),
kompetensi linguistic (linguistic competence),
kompetensi sosiokultural (sociocultural
competence) dan kompetensi strategis (strategic
competence). Selain kelima kompetensi tersebut, kurikulum 2004, KBK, KTSP
juga melihat sikap sebagai hasil belajar. Oleh karena itu untuk mencapai hal
tersebut perlu proses pembelajaran yang berkwalitas. Misalnya kreatifitas dan
inovatif pembelajaran guru perlu ditingkatkan, hasil pembelajaran bahasa
Inggris masih perlu ditingkatkan baik
secara kwantitas maupun kwalitasnya, motivasi belajar dan kreatifitas siswa perlu
ditingkatkan, degradasi moral dalam masyarakat khususnya siswa-siswa usia Sekolah Menengah Pertama
Negeri kususnya dan usia remaja pada umumnya perlu dicegah dan ditangani dengan
arif dan bijaksana, pemilihan dan atau pembuatan bahan ajar yang sesuai dengan
kompetensi yang akan dicapai dan sekaligus dapat mengembangkan budaya nasional
dan mengangkat potensi yang dimiliki oleh daerah-daerah di Indonesia.
Keberhasilan atau
kegagalan suatu pendidikan pada dasarnya dapat dilihat dari perubahan sikap dan
tingkah laku atau dari prestasi hasil pembelajaran yang dicapai oleh orang yang
telah mendapat proses pembelajaran . Tetapi tidak semua kegiatan pendidikan selalu mendapatkan hasil yang
optimal, kadang-kala juga menemui kegagalan.
Mata
pelajaran bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata
pelajaran lain untuk itu agar dapat mengajar dengan baik, guru memerlukan
informasi tentang karakteristik mata pelajaran bahasa Inngris. Perbedaan ini
terletak pada fungsi bahasa sebagi alat komunikasi. Hal ini mengidikasikan
bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya belajar kosakata dan tatabahasa dalam
arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan
pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat
dikatakan menguasai bahasa Inggris jika dia belum dapat menggunakan bahasa
Inggris untuk keperluan komunikasi.
Kenyataan
siswa belajar bahasa Inggris selama empat jam pelajaran setiap minggu di Sekolah
Menengah Pertama Negeri, tetapi kemampuan berbahasa Inggris masih rendah. Ada
tiga masalah yang mengemuka dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia pada
umumnya dan di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen pada khususnya . Persoalan
pertama adalah masih rendahnya pencapaian hasil belajar bahasa Inggris siswa (real scholastic achievement). Indikator
kasarnya dapat dilihat dari hasil ujian nasional tahun pelajaran 2009/2010 masih
banyak anak yang tidak lulus.
Permasalahan
kedua adalah ketidakmampuan siswa dalam menggunakan ketrampilan berbahasa (language skill) yang mereka pelajari
dalam komunikasi berbahasa Inggris. Hal tersebut berdasarkan pengamatan dan
informasi gugu-guru bahasa Inggris di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.
Keadaan tersebut pada umumnya disebabkan pembelajaran bahasa Inggris hanya
mengacu pada soal-soal Ujian Nasional dalam hal ini hanya mencakup terutama
ketrampilan membaca pemahaman (Reading
comphrehension), sedangkan ketrampilan berbicara (speaking), mendengar (listening)
dan menulis (writing) terabaikan.
Kenyataan
lain yang terjadi di lapangan adalah belum optimalnya guru dalam memilih bahar
ajar, media pembelajaran dan metode pembelajaran sehingga pembelajaran tidak
dapat mencapai kompetensi sesuai apa yang diharapkan, selain itu dengan
perubahan kurikulum 2004, KBK, KTSP belum semua guru mengetahui dam memahami
isi dari apa yang dimaksud dalam kurikulum tersebut, maka dari itu profesionalisme guru harus
selalu ditingkatkan.
Ketidak
optimalan tersebut diatas dikarenakan pembelajaran selama ini dilakukan sacara
konvensional, misalanya; pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah tidak
bervariasi, ceramah tanpa menggunakan media, ceramah dengan hanya tanya jawab,
dan sebagainya. Sehingga pembelajaran belum mengoptimalkan alat perespon yang
dimiliki peserta didik secara optimal karena masing-masing memiliki gaya
belajar sendiri-sendiri. Ada yang bergaya belajar audio, yaitu peserta didik
akan optimal dengan metode caramah, gaya belajar visual, peserta didik akan
optimal dalam belajarnya jika disertai tayangan atau media yang bisa direspon
lewat alat indera pengihatannya dan ada juga peserta didik yang bergaya belajar
kinestetik, dalam hal ini peserta didik akan optimal jika pembelajaran
mengaktifkan fisik atao otot mereka untuk melakukan dan merespon stimulus yang
diberikan.
Gaya
belajar setiap individu biasanya memiliki gaya belajar tidak hanya satu tetapi
mungkin ada yang memiliki gaya belajar
dua atau tiga macam. Bagi peserta didik yang demikian biasanya akan
lebih mudah merespon stimulus yang disampaiakan oleh pendidik dibandingkan
pembelajar yang hanya memiliki hanya stu gaya belajar, dan mereka yang,
memiliki gaya belajar yang lebih dari satu mereka umumnya mudah menyesuaikan
terhadap stimulus yang ada.
Untuk
itu untuk mengoptimalkan motivasi belajar siswa perlu adanya pendekatan
pembelajaran yang sesuai sehingga dapat meningkatkanhasil belajar yang peserta
didik lakukan. Hasil belajar dalam hal ini meliputi dua hal yaitu: hasil proses
pembelajaran dan hasil pestasi belajar atau disebut hasil belajar saja.
Dari pengamatan yang peneliti lakukan bahwa
sebagian besar siswa belum optimal dalam memeperoleh hasil pembelajarannya. Hal
ini terjadi karena para pendidik belum menggunakan pendekatan pembelajaran yang
dapat mengaktifkan proses pembelajaran sehingga semua kompetensi yang harus
dimiliki peserta didik dapat dibelajarkan secara optimal. Salah satu pendekatan
pembelajaran yang diharapkan dapat menjawab masalah tersebut diatas adalah
pendekatan pembelajaran kontesktual (Contextual
Teaching and Learning Approach) yang selanjutnya disebut dengan pendekatan
kontekstual.
B. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang dapat peneliti identifikasi
dintaranya adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh metode pembelajaran yang bervariatif terhadap
perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen
2. Pengaruh penggunaan pembelajaran
kontekstual/Cotextual Teaching and
Learning terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama
Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
3. Pengaruh pembelajaran paikem terhadap
perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen
4. Pengaruh model pembelajaran integrated
terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen
5. Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap perolehan hasil belajar siswa Sekolah
Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
6. Pengaruh kreatifitas terhadap perolehan
hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong
Kabupaten Kebumen
7. Pengaruh motivasi siswa terhadap perolehan
hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong
Kabupaten Kebumen
8. Pengaruh kedisiplinan siswa terhadap
perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen
9. Pengaruh tingkat kecerdasan siswa terhadap
perolehan hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen
10. Pengaruh rasa senang siswa terhadap perolehan
hasil belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong
Kabupaten Kebumen
C. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan
dengan tujuan menghomogenkan data populasi, Dengan teknik random sampling yang digunakan untuk mendapatkan 30-40 responden tersebut minimal akan terkait
dengan empat hal kerena populasi tidak homogen. Pertama melilih sekolah yang
akan digunakan sampel, kerena ada 4 kategori sekolah tetapi masing-masing
jumlahnya tidak proporsional maka peneliti menggunakan disproporsional stratified random sampling. Dari teknik ini
peneliti akan menentukan dua kategori sekolah yang akan digunakan sebagai
sekolah sampel. Dalam hal ini diambil 1 sekolah RSSN dan 1 SSN. Kedua, karena wilayahnya mencakup sekabupaten
peneliti perlu melanjutkan teknik random sampling untuk efisiensi dengan
menggunakan cluster random sampling (area random sampling) yaitu untuk
menentukan wilayah yang memiliki SSN atau RSSN. Dengan teknik tersebut peneliti
mendapatkan Kecamatan Gombong sebagai tempat penelitian dan sekolah yang
digunakan untuk tempat penelitian dengan teknik random sampling yaitu Sekolah
Menengah Pertama Negeri 3 Gombong sebagai sekolah kontrol dan Sekolah Menegah
Pertama Negeri 2 Gombong sebagai sekolah ekperimen. Ketiga menentukan kelas
sampel, dengan teknik random sampling peneliti mendapatkan siswa kelas 9a
Sekolah Menegah Pertama Negeri 2 Gombong sebagai kelas ekperimen (untuk
pembelajaran pembelajaran
kontekstual ) dan siswa kelas
9b Sekolah Menengah Pertama Negeri 3
Gombong sebagai kelas kontrol (untuk
pembelajaran konvensional.
Dari
identifikasi masalah yang ada, penelitian dibatasi pada masalah sebagai
berikut:
1. Pengaruh penggunaan pembelajaran
kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen.
2. Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap
hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen.
3. Interaksi penggunaan pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa
terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi
masalah dan pembatasan masalah penelitian diatas, peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut:
a. Apakah ada pengaruh penggunaan pembelajaran
kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
b. Apakah ada pengaruh motivasi belajar siswa
terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan
Gombong Kabupaten Kebumen?
c. Apakah ada interaksi penggunaan pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris
siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
E. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Secara
umum peneltitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar.
2. Tujuan Khusus
Selain
tujuan umum penelitian ini juga memiliki tujuan khusus, adapun tujuan khusu dari penelitian ini adalah ebagai berikut:
Kegiatan
ini memiliki tujuan khusus antara lain sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran
kontekstual terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
b. Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar
siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama
Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
c. Untuk mengetahui interaksi penggunaan pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris
siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
Secara umum penelitian ini
untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran kontekstual dan motivasi
belajar siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
F. Manfaat Peneltitian
a. Bagi Pendidik
Memberikan informasi faktual tentang pengaruh
penggunaan pembelajaran kontekstual dan motivasi
belajar siswa terhadap hasil belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar
bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten
Kebumen.
b. Bagi lembaga/instansi.
Hasil penelitian
ekperimen tentang pengaruh
penggunaan pembelajaran kontekstual dan motivasi belajar siswa terhadap hasil
belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah
Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen sebagai bahan masukan dalam menyiapkan program-program
pengembangan peningkatan kualitas pendidikan
pada program tahun berikutnya.
d. Bagi Peneliti Lain
Semoga
hasil penelitian ekperimen tentang pengaruh penggunaan pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa
terhadap hasil belajar pada umumnya dan khususnya hasil belajar bahasa Inggris
siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen
dapat dikembangkan untuk penelitian pada mata pelajaran yang lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teoritis
Deskripsi teoritis yang
dibahas dalam penelitian ini adalah teori-teori yang berhubungan dengan
variabel-variabel yang akan diteliti antara lain adalah sebagai berikut:
1. Contextual Teaching and
Learning (Pembelajaran Kontekstual)
Contextual Teaching and Learning
Approach (pembelajaran
kontekstual approach) merupakan pendekatan pembelajaran
dimana proses pembelajaran seoptimal mungkin mengkaitkan materi pembelajaran
dengan konteks yang ada di dunia nyata sehingga siswa dapat menerapkan ilmu dan
pengalaman yang mereka dapatkan dari proses pembelajaran untuk bisa survival dalam hidup yang sebenarnya
kelak. Dan bekal yang sudah mereka miliki merupakan modalitas untuk ketrampilan
hidup (life skill). Menurut Zahorik
pengertiannya adalah sebagai berikut:
“Knowledge
is constructed by humans. Knowledge is not a set of facts, concept, or laws waiting to be discovered. It is
not something that exists independent of a knower.
Humans create or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their
experience. Everything that we know, we have made”
Zahorik
: Contextual Teaching-Learning (2003:3)
Menurut Elaine B. Johnson ada tujuh
strategi penting dalam berupaya melaksanakan pembelajaran dengan mengggunakan
pendekatan pembelajaran kotekstual antara lain sebagai berikut: pengajaran
berbasis masalah, menggunakan konteks yang beragam, mempertimbangkan
kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui
kolaborasi, menggunakan penilaian autentik dan mengejar standard tinggi.
(Elaine B. Johnson, 2010:21-23)
Disamping itu ada tujuh prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual adalah
sebagai berikut:
1.
Kontruktivisme (Constructivism)
Constructivsm
(Konstruktivisme) merupakan landasan filosofis pendekatan pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui koteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konnyong. Pengetahuan
bukan seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan member makna melalui
pengalaman nyata. (Depdiknas 2002:10-11)
2.
Menemukan (Inquiry)
Menemukan
merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual. Pengetahuan
dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. (Depdiknas 2002:
12) Lima siklus inkuiri adalah:
a.
Observasi (Observing)
b.
Bertanya (Quetioning)
c.
Mengajukan dugaan (Hipotesis)
d.
Pengumpulan data (Data gathering)
e.
Penyimpulan (Conclussion)
3.
Bertanya (Questioning)
4.
Pemodelan (Modeling)
5.
Belajar Berkelompok (Learning Community)
6.
Penilaian sebenarnya (Authentic
Assessment)
7.
Refleksi (Reflection)
Dengan didasari teori belajar
kontruktivistik bahwa belajar adalah proses mengkontruksi sesuatu pada seorang
individu yang sedang melkukan pembelajaran, bukan peoses transfer ilmu.
Pembelajaran akan lebih bermakna jika daya pikir pembelajar dapat mencapai pada
tingkat menkontruksi suatu yang mereka dapatkan.
Pembelajaran kontekstual adalah sebuah
system yang tidak berdiri sendiri. Pembelajaran kontekstual mengandung
bagian-bagian yang salin terkait dan berhubungan. Dari bagian-bagian yang ada
memiliki hal yang unik dan meberi dampak yang tersendiri. Untuk itu agar proses
pembelajaran dapat lebih memberi makna bagian-bagian yang terpisah itu dapat
saling terkait dan dapat member kontribusi masing-masing sehingga dapat
membantu siswa dalam memahami makna dari pembelajaran termasuk materi-materi
yang bersifat akademik.
Ada
8 komponen yang terkait dengan pembelajaran kontekstual antara lain sebagai
berikut:
1.
Membuat keterkaitan-keterkaitan yang
bermakna
2.
Melakukan pekerjaan yang berarti
3.
Melakukan pembelajaran yang diatur
sendiri
4.
Bekerjasama
5.
Berfikir kritis dan kreatif
6.
Membantu individu untuk tumbuh dan
berkembang
7.
Mencapai standar tinggi
8.
Menggunakan penilaian autentik
Menurut
Johnson dalam (Elaine B. Johnson,
2010:19) bahwa hakekat pembelajaran kontekstual adalah makna,
bermakna, dan dibermaknakan seperti yang tertera dalam kutipan sebagai berikut:
... an educational process that aims to help
students see meaning in the academic material they are studying by connecting
academic subjects with the context of their daily lives, that is, with contect
of their personal, social, and cultural circumtance. To achieve this aim, the
system encompasses the following eight component: making meaningful
connections, doing significant work, selt-regulated learning, collaborating,
critical an creative thinking, nurturing the individual, reaching high
standard, using authentic assessment.(Johnson,2002:25)
2.
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvesional yang dimaksud adalah
pembelajaran yang dilakukan dengan metode ceramah dengan tanya jawab tanpa
menggunakan media pembelajaran. Sehingga pembelajaran belum mengoptimalkan
semua kelompok pembelajar dengan gaya audio, visual maupun kinestetik sehingga
pembelajaran sangat didominasi oleh peran guru.
3.
Hasil Belajar
Dalam
kurikulum tingkat satuan pelajaran dinyatakan bahwa hasil belajar terdiri dari
2 yaitu: hasil belajar berdasarkan penilaian hasil dan penilaian berdasarkan
proses. Sehingga penilaian hasil dapat dilakukan dengan tes tertulis sedangkan,
penilain proses dapat dilakukan dengan cara pengamatan, dokumentasi foto maupun
movie, kuesioner, angket dan cara lain yang dapat memberikan gambaran tentang
perose yang terjadi baik dari segi aktivitas siswa, managemen kelas,
metode/model/teknik pembelajaran itu berlangsung.
Menurut
caranya dibagi menjadi 2 cara yaitu: dengan cara tes dan non-tes.
Dengan tes itu dilakukan untuk memperoleh hasil
pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan pada setiap KD atau beberapa KD, dalam
hal ini dikenal dengan ulangan harian, ulangan blok, tes formatif dan tes
sumatif, ulangan tengah semester, ulangan semester dan ulangan kenaikan kelas,
evaluasi tahap akhir dan atau ujian sekolah maupun ujian nasional.
Dari data
yang diperoleh dapat berupa data nilai kuantitatif maupun kualitatif.
Data nilai kuantitatif semua penilaian yang dilakukan
dengan satuan angka misalnya: nilai 0 – 10 atau nilai 0 – 100. Sedangkan data
nilai kualitatif dapat berupa penilaian non-angka/data verbal misalnya: amat
baik, baik, cukup, kurang, dan kurang sekali atau misalnya sangat tinggi,
tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
Untuk
mengetahui hasil belajar dapat dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis
dikelompokan dalam tes yang sifatnya subyektif dan tes yang sifatnya obyektif.
Tes subyektif biasanya tes yang berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah
sejenis tes untuk mengetahui perolehan hasil belajar yang memerlukan jawaban
yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-cirinya pertanyannya
didahului dengan kata-kata seperti; uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana,
bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. Tes obyektif adalah tes yang dalam
pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif karena hasil tes dapat dilakukan
oleh pihak lain yang tidak harus oleh pengajarnya atau yang membidangi materi
yang diteskan. Macamnya adalah seperti; tes benar-salah (true-false), Tes
pilihan ganda (Multiple choise test), Menjodohkan (matching test) dan Tes isian
tertutup (Completion test). Macam-macam tes diatas biasanya untuk mengukur
hasil belajar pada ranah kognitif, sedangkan ranah afektif tidak semudah ranah
kognitifuntuk melakukan pengukuran. Pengukuran ranah afektif dalam hal ini
misalnya sikap tidak dapat diukur sewaktu-waktu ( dalam arti pengukuran secara
formal) karena perubahan tingkah laku tidak dapat berubah sewktu-waktu.
Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama termasuk
pengembangan minat, penghargaan, serta nilai-nilai. Untuk itu perangkat
pengukuran yang digunakan dapat mengunakan catatan-catatan pengamaten,
kuesioner atau cara lain yang memungkin dapat dilakukan dan paling cocok dengan
kondisi dari yang dinilai atau diukur.
Ranah yang
lain adalah ranah psikomotor. Pengukuran ranah ini untuk mengetahui terhadap
hasil-hasil belajaryang berupa penampilan atau ketrampilan. Untuk mengukur hal
ini dapat digunakan rubrik penilaian atau pengukuran dengan instrumen menurut
skala Likert dengan skor dari kecil ke angka yang lebih besar jika memerlukan
data kuantitatif atau data kualitatif dari paling rendah ke paling tinggi, atau
dari sangat jelek ke sangat baik dan atau sebaliknnya.
Hasil
belajar adalah sesuatu pencapaian dari suatu kegiatan belajar. Pencapaian hasil
belajar dapat diketahui dengan dua cara yaitu; dengan cara pengukuran (kegiatan
menentukan kuantitas suatu obyek) dan dengan cara penilaian (kegiatan
menentukan kualitas suatu obyek). Karena keduannya ada perbedaan yang
prisipiil, kedua kegiatan dapat dikatakan ’dua’ atau dwi, Tetapi kedua kegiatan
itu saling berhubungan maka kegiatan itu kadang disebut dengan
sebutan’dwitunggal’.Dari pembahasan pengertian pengukuran dan penialain sifat
suatu obyek seperti telah disebutkan diatas, bagaimanapun kegiatan tersebut
harus dapat benar-benar mewakili sifat suatu obyek. Dengan kata lain skor atau
nilai prestasi belajar dapat mewakili prestasi belajar yang sesunggguhnya.
Kegiatan mengukur
sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuantitas sifat suatu obyek
melalui aturan-aturan tertentu sehingga kuantitas yang diperoleh benar-benar
mewakili sifat suatu obyek yang dimaksud. Kuantitas yang diperoleh dari suatu
pengukuran sifat suatu obyek adalah skor, misalnya: 60, 57, 68, 89,75
59,76,75,75,90 dan sebagainya. Kuatitas pengukuran sifat suatu obyek dibedakan
menjadi dua yaitu; kuantitas kontinu dan kuantitas niminal. Yang dimaksud skor
kontinu adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya mengalami perubahan secara
berangsur-angsur, misalnya dari 60 menjadi 60,5 atau menjadi 59,5 dan
seterusnya.
Adapun yang dimaksud dengan kuantitas nominal atau
deskrit adalah suatu kuantitas yang unit-unitnya tidak dapat berubah-ubah dari
15 menjadi 15,5 siswa atau 14,5 siswa dan seterusnya. Oleh karena itu dalam
dunia pendidikan dalam pengukuran hasil
belajar hanya mengenal kuantitas kontinu. Kuantitas kontinu diatur dalam dua
skala yaitu; skala interval dan skala ordinal. Skala interval suatu skala yang
tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya sama, sedangkan skala ordinal adalah
skala yang tidak mengenal titik nol mutlak dan intervalnya tidak sama. Suatu
skala tidak mengenal titik nol mutlak maksudnya adanya suatu kuantitas dari
sifat suatu obyek dalam skala tersebut tidak terukur oleh suatu alat pengukur,
maka diberi angka nol. Tetapi bukan berarti tidak ada kuantitas sama sekali.
Kegiatan
menilai sifat suatu obyek adalah suatu kegiatan menentukan kuanlitas sifat
suatu obyek. Kagiatan tersebut tidak lepas dari skor-skor sifat suatu obyek.
Agar skor-skor itu bermakna maka perlu dibandingkan dengan suatu acuan-acuan
yang relevan, yang sesuai dengan sifat suatu obyek, misalnya prestasi belajar
siswa dalam penguasaan mata pelajaran tertentu. Kegiatan membandingkan harus
dilakukan secara obyektif sehingga hasil perbandingan yang berupa makna atau
kualitas benar-benar mewakili kualitas hasil belajar yang sesungguhnya.
Misalnya; kualifikasinya amat baik, baik, cukup, kurang atau meragukan, amat
kurang, atau gagal.
Kualitas
atau nilai sifat suatu obyek akan ada apabila kuantitas dari sifat suatu obyek
tersebut. Demikian pula, kuantitas suatu obyek tidak akan berarti jika
kuantitas itu tidak diubah menjadi kualitas.
4.
Motivasi belajar
Belajar Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi
sebagai suatu proses internal (dari dalam diri seseorang ) yang mengaktifkan,
membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam rentang waktu tertentu (Baron,
1992:Schunk,1990 dalam Nur, 2003:2). Motivasi belajar siswa merupakan faktor
utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini banyak
ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan
pembelajaranyang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan (Djamarah S.B, dkk,
1995:70). Motivasi belajar ada dua macam yaitu motivasi yang datang dari dalam
diri anak, disebut motivasi intrinsik, dan motivasi yang diakibatkan dari luar,
disebut motivasi ekstrinsik (Djamarah S.B, 1997:223). Nasution (1995:73)
mengatakan motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa motivasi adalah
menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.
Graham & Golan, (1991) menyatakan bahwa motivasi
penting dalam menentukan seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan
pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada
mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses
kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu
akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik
Peneliti dapat menyimpulkan bahwa motivasi belajar
adalah proses internal yang merupakan salah satu factor utama yang menentukan
tingkat keberhasilan belajar siswa. Pentingnya peranan motivasi dalam proses
pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk
tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik
diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu
guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka
kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran. Peran motivasi
dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai
bahan bakar untuk menggerakkan mesin, motivasi belajar yang memadai akan
mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi
motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan
usaha belajar siswa.
5.
Hasil Belajar Bahasa Inggris
Bahasa
memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional
siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua
bidang studi. Mengingat
fungsi bahasa yang bukan hanya sebagai suatu bidang kajian, sebuah kurikulum
bahasa untuk sekolah menengah sewajarnya mempersiapkan siswa untuk mencapai
kompetensi yang membuat siswa mampu merefleksi pengalamannya sendiri dan
pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan dan perasaan, dan memahami beragam
nuansa makna. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan
budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam
masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggung
jawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan
kemampuan-kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Untuk
mencapai kompetensi berbahasa tersebut di atas, kurikulum ini berangkat dari
seperangkat rasional teoritis dan praktis yang mendasari semua keputusan
perumusan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dalam kurikulum
ini.
Terdapat
beberapa landasan teoritis yang berimplikasi praktis dan mendukung penyusunan
kurikulum ini. Teori tersebut diadopsi sebagai kerangka berpikir sistematis
dalam mengambil keputusan dalam berbagai perumusan. Landasan kerangka berpikir
tersebut meliputi model kompetensi bahasa, model bahasa, tingkat literasi yang
diharapkan dicapai oleh lulusan, dan perbedaan hakikat bahasa lisan dan tulis.
a. Kompetensi
Kurikulum
2004, yang dikembangkan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan
selanjutnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menyebutkan bahwa kompetensi merupakan
pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara
konsinten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti
memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan
sesuatu. Sehingga pada mata pelajaran bahasa Inggris kompetensi dasar yang
dikuasi adalah kompetensi mendengar (listening),
kompetensi berbicara (speaking),
kompetensi membaca (reading) dan
kompetensi menulis (writing). Keempat
kompetensi dasar tersebut menjadi satu kompetensi berbahasa Inggris.
b. Model Kompetensi
Sejauh
ini terdapat sejumlah model kompetensi yang berhubungan dengan bidang bahasa
yang melihat kompetensi berbahasa dari berbagai perspektif. Dalam kurikulum ini
model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah model yang dimotivasi oleh
pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa yang telah berkembang atau berevolusi
sejak model Canale dan Swain kurang lebih sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Salah
satu model terkini yang ada di dalam literatur pendidikan bahasa adalah yang
dikemukakan oleh Celce-Murcia, Dornyei dan Thurrell (1995) yang kompatibel
dengan pandangan teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar
seperangkat aturan. Implikasinya adalah bahwa model kompetensi berbahasa yang
dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa
untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa. Model ini dirumuskan
sebagai Communicative Competence atau Kompetensi Komunikatif (KK) yang
direpresentasikan dalam Celce-Murcia et al. (1995:10) sebagai berikut :



Sociocultural



Discourse Competence
![]() |
![]() |
||||
![]() |
Linguistic
Actional
Competence
Competence
Strategic
Competence
Gambar 1: Model Kompetensi
Komunikatif (dari Celce-Murcia et al.)
Kompetensi utama yang dituju adalah kompetensi wacana (Discourse
Competence) yang didukung oleh kompetensi linguistik (Linguistic
Competence), Kompetensi sosiokultural (Sociocultural Competence) dan
Kompetensi Tindak Tutur (Actional Competence). Kompetensi writing
ada di dalam Actional Competence.
c. Teks
Pada dasarnya, kegiatan komunikasi verbal
adalah proses penciptaan teks, baik lisan maupun tertulis, yang terjadi karena
orang menafsirkan dan menanggapi teks dalam sebuah wacana. Maka teks adalah
produk dari konteks situasi dan konteks budaya. Misalnya, ketika seseorang
berbahasa Inggris, ia tidak hanya harus menggunakan kosa kata bahasa Inggris
melainkan juga menggunakan tata bahasanya agar ia dipahami oleh penutur
aslinya. Sering ada anggapan bahwa berbahasa secara komunikatif tidak perlu
terlalu memperhatikan tata bahasa. Akan tetapi, sering kurang disadari bahwa
kalalaian bertata bahasa menimbulkan banyak miskomunikasi yang barangkali tidak
berdampak serius dalam percakapan santai, tetapi bisa berdampak sangat serius
bahkan berakibat fatal dalam konteks formal atau akademis. Oleh karena itu,
target kegiatan writing dalam konteks
situasi dan kondisi yang beragam akan membantu siswa dalam menghasilkan teks
bentuk tulis.
d. Jenis Teks (Genre)
Yang dimaksud dengan Genre yaitu jenis-jenis teks. Kita mengenal istilah ini dari Kurikulum
2004 yang dikembangkan
menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan selanjutnya menjadi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ada 12 jenis teks yang dijelaskan dalam kurikulum tersebut antara lain: Recount,
Report, Discussion,
Explanation, Analytical Exposition, Hortatory Exposition, New Item, Anecdote, Narrative, Procedure, Descriptive dan Review. Namun untuk jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP) kelas VII, VIII
dan IX kompetensi yang harus dicapai hanya 6 jenis teks yaitu Descriptive, Recount, Narrative, Anecdote,
Procedure dan Report.
B. Penelitian yang Relevan
Adapun
penelitian yang relevan terhadap penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut dibawah ini:
- Penelitian oleh Ahmad Sopyan yang berjudul Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran terhadap Hasil Belajar Siswa SMP yang menyimpulkan bahwa: (1) Teknik pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar IPA di SLTP N 9 Tasikmalaya pada penelitian ini, mempengaruhi hasil belajar yang berupa penguasaan keterampilan proses. Penerapan teknik pembelajaran kreatif-divergen memberikan hasil belajar IPA lebih tinggi, dibandingkan dengan penerapan teknik pembelajaran aktif-konvergen. (2) Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar IPA berupa keterampilan proses. (3) Hasil analisis data menunjukkan bahwa, bagi siswa berpenalaran operasi formal, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar IPA yang sama dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen. (4) Bagi siswa Bagi siswa berpenalaran operasi konkrit, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar yang lebih baik daripada teknik pembelajaran aktif.
(http://wijayalabs.wordpress.com/2008/01/10/penelitian-kuantitatif/
diakses tanggal 8 Juni 2010)
- Penelitian tesis oleh Martiyono program pasca sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2009 yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) terhadap Kepribadian Siswa SMP Kelas VII di Kabupaten Kebumen Ditijau dari Kecerdasan Emosional dan Spiritual menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual terhadap hasil belajar mata pelajaran PKn aspek kepribadian siswa SMP Kelas VII di Kabupaten Kebumen.
- Penelitian tesis Sri Sumaryati di Program Pascasarjana UNS tahun 2008 dengan judul Pengaruh Model Quantum Learning terhadap Prestasi Belajar Mata Kuliah Dasar-Dasar Akuntansi dengan Memperhatikan Motivasi Berprestasi dan Kecerdasan Emosional, yang menyimpulkan bahwa interaksi model pembelajaran, motivasi berprestasi dan kecerdasan emosi dapat mempengaruhi secara signifikan prestasi belajar mata kuliah Dasar-Dasar Akutansi.
C. Kerangka Berfikir
Adapun kerangka berfikir
yang ada adalah seperti terlihat pada diagram 1 pada Bab II dibawah ini:
![]() |
Gambar 1: Diagram
kerangka berfikir dengan tiga variabel
1.
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual terhadap Hasil Belajar
Bahasa Inggris Siswa
Penggunaan
Pendekatan Pembelajaran kontekstual/ Contextual
Teaching and Learning Approach (Pembelajaran Kontekstual Approach) yang selanjutnya disebut pembelajaran kontekstual saja adalah merupakan variable bebas (X2), variabel stimulus, prediktor,
antecedent (independent variable)
atau variabel yang mempengaruhi sehingga variabel ini yang menyebabkan adanya
perubahan. Pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar bahasa
Inggris siswa karena dalam pembelajaran memiliki prinsip-prinsip yang meliputi
metode contructivism, inquiry,
questioning, modeling, learning community, authentic assessment dan reflecting. Constructivsm (Konstruktivisme)
dalam pendekatan pembelajaran
kontekstual dapat membangun pengetahuan manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui koteks yang terbatas (sempit) dan
tidak sekonyong-konnyong. Pengetahuan bukan seperangkat fakta-fakta, konsep,
atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan demikian
peningkatan terhadap hasil belajar dapat ditingkatkan. Karena metode inquiry
dalam pembelajaran kontekstual yang menemukan merupakan bagian inti dari
kegiatan pembelajaran maka pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri. Dengan demikian metode inquiry dengan pendekatan kontekstual
tersebut dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris.
Pembelajaran
konvensional adalah merupakan variabel kontrol yang akan dibandingkan dengan pembelajaran kontekstual sebagai variabel bebas. Dalam hal ini
pembelajaran konvensional hanya mengunakan metode ceramah, tanya jawab dan
penugasan. Dalam interaksi pembelajarannya sangat terpusat pada guru (teacher’s centered oriented), sehingga
belum bisa mengoptimalkan pembelajara, belum bisa mengkatifkan siswa dan belum
dapat pula mengotimalkan hasil pembelaharan khususnya hasil belajar bahasa
Inggris
2. Pengaruh motivasi belajar terhadap Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa
Peran
motivasi dalam proses pembelajaran dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk
menggerakkan mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku
aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru
dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan siswa dalam proses belajar.
Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh
pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada
siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam
maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan
suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan
dengan upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
3.
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Bahasa Inggris
Siswa
Penggunaan pembelajaran
kontekstual yang didukung oleh tujuh prinsip pembelajaran kontekstual akan
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dengan motivasi belajar yang
diciptakan itu, akan mengoptimalkan proses
pembelajaran, dengan pembelajaran yang optimal akan meningkatkan hasil belajar
khususnya bahasa Inggris. Hasil Belajar
Bahasa Inggris adalah variabel terikat (Y), variabel output, kriteria,
konsekuen (dependent variable) atau
variabel yang dipengaruhi. Variabel ini mencakup hasil pembelajaran bahasa Inggris
yang mencakup hasil pembelajaran membaca (reading),menulis
(writing), berbicara (speaking) dan mendengar (listening).
D. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir diatas
dapat ditetapkan hipotesis sebagai berikut:
1. Ada pengaruh yang signifikan penggunaan pembelajaran
kontekstual dibandingkan metode
konvensional terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
2. Ada pengaruh yang signifikan motivasi
belajar siswa yang tinggi terhadap hasil belajar bahasa Inggris siswa Sekolah
Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
3. Ada interaksi yang signifikan penggunaan pembelajaran
kontekstual dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar bahasa Inggris
siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen?
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah
penelitian kuantitatif dalam bentuk penelitian eksperimen. Penelitian
eksperimen adalah ”penelitian yang variabel akan diteliti (variabel terikat)
kehadirannya sengaja ditimbulkan dengan memanipulasi menggunakan
perlakuan” (Purwanto, 2008: 180).
B. Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitiannya
dapat digambarkan dalam diagram 1 pada bab III di bawah ini:


Gambar 1: Diagram
desain penelitian
Dari
gambar 1 pada bab III di atas rancangan penelitian melibatkan dua variabel
bebas dan satu variabel terikat
Rencana penelitian dilaksanakan pada
semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 selama bulan Januari sampai dengan bulan
Juni 2011. Kegiatan meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan ekperimen, dan
pasca eksperimen. Waktu dan kegiatan secara terperinci seperti pada tabel 1
pada bab III di bawah ini:
Tabel 1
NO
|
KEGIATAN
|
TAHUN 2011
|
KET
|
|||||
Jn
|
Fb
|
Mr
|
Ap
|
Me
|
Ju
|
|||
1
|
Persiapan
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Observasi awal di lokasi penelitian
|
Y
|
|
|
|
|
|
|
|
b. Penyusunan proporsal penelitian
|
Y
|
Y
|
Y
|
|
|
|
|
|
c. Penyusunan RPP
|
|
Y
|
Y
|
|
|
|
|
|
d. Penyusunan instrumen penelitian
|
|
Y
|
Y
|
|
|
|
|
|
e. Ijin penelitian
|
|
|
Y
|
|
|
|
|
|
f. Uji coba instrumen penelitian
|
|
|
Y
|
|
|
|
|
|
g. Analisis validitas dan reliaabilitas
instrumen
|
|
|
Y
|
|
|
|
|
|
2
|
Pelaksanaan Eksperimen
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Pre-tes
|
|
|
|
Y
|
|
|
|
|
b. Kegiatan eksperimen pada kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol dengan berpedoman pada RPP
|
|
|
|
Y
|
Y
|
|
|
|
c. Post-tes
|
|
|
|
|
Y
|
|
|
|
3
|
Pasca Eksperimen
|
|
|
|
|
|
|
|
a. Analisis data penelitian
|
|
|
|
|
|
Y
|
|
|
b. Penulisan laporan penelitian
|
|
|
|
|
|
Y
|
|
C. Definisi Operasional Variabel
Penelitian
Definisi
Operasional Variabel Penelitian melibatkan tiga variabel penelitian yaitu:
1. Variabel pertama penelitian ini sebagai
variabel terikat adalah hasil belajar bahasa Inggris. Hasil belajar bahasa
Inggris merupakan data ordinal dari rekapitulasi hasil pre-tes dan post-tes.
2. Variabel kedua penelitian ini adalah penggunaan
pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai variabel
bebas. Penggunaan pembelajaran kontekstual yang diimplementasikan pada kelas 9
SMP merupakan model pembelajaran yang dimanipulasi. Rancangan pembelajaran
tersusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3. Variabel ketiga penelitian ini adalah motivasi
belajar yang mempengaruhi hasil belajar bahasa Inggris hal ini dapat dilihat
dari interaksi dari pembelajaran kontekstual yang dimplementasikan dalam
pembelajaran bahasa Inggris. Pedoman motivasi belajar siswa tinggi dan rendah
dapat dilihat dari pedoman skoring dari angket motivasi belajar yang berupa
data ordinal.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah subyek dalam penelitian atau individu
yang mempunyai sifat yang sama (Suharsimi Arikunto,2004:99). Sedangkan menurut
Sugiyono (2010: 117) populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas daan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri di
Kecamatan Gombong dengan ketegori Sekolah Standar Nasional (SSN). Sekolah
tersebut adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Gombong, Sekolah Menengah
Pertama Negeri 2 Gombong dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2010: 118) bahwa sampel adalah bagian
dari jumlah dan karekteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel penelitian
ini diperoleh dengan teknik cluster
random sampling dengan beberapa tahapan. Jumlah sekolah dalam populasi
sebanyak tiga sekolah standard nasional
yang homogen terdiri dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Gombong,
Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Gombong dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 3
Gombong.
Dengan teknik cluster
random sampling pada tahap pertama diperoleh dua
sekolah yaitu Sekolah
Menengah Pertama Negeri 2 Gombong dan Sekolah Menegah Pertama Negeri 3 Gombong.
Kedua, secara random diperoleh kelas sampel, yaitu siswa kelas 9a Sekolah
Menegah Pertama Negeri 2 Gombong dan siswa kelas 9a Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong.
Selanjutnya, secara random ditetapkan siswa kelas 9a Sekolah Menegah Pertama
Negeri 2 Gombong sebagai kelas ekperimen dan siswa kelas 9a Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Gombong
sebagai kelas kontrol.
E. Instrumen Penelitian
Berdasarkan variabel-variabel yang diteliti , maka peneliti menyusun dua instrumen
berupa angket dan soal tes. Penyusunan instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data dikembangkan
berdasarkan kajian teori mengenai motivasi belajar, model pembelajaran penggunaan
pembelajaran kontekstual tersusun
dalam rencana pembelajaran dan
hasil belajar bahasa Ingris siswa dengan soal tes. Instrumen soal tes terdapat pada
lampiran I sedangkan, instrumen angket motivasi terdapat pada lampiran II.
1. Instrumen Tes Hasil Belajar Bahasa Inggris
Uji coba instrumen tes hasil belajar bahasa Inggris di
lakukan oleh peneliti setelah instrument jadi dan selanjutnya instrumen akan di
kembangkan dalam penelitian eksperimen ini dengan dua macam cara, yaitu : ( 1 )
instrumen penelitian yang mana berupa tes kemampuan berbicara, dan (2)
instrument penelitian yang berupa tes penguasaan tata bahasa.
Tes kemampuan berbicara dalam penelitian eksperimen ini
adalah berbentuk tes praktik, dimana guru harus menugasi siswa untuk berbicara
di muka kelas dengan topik atapun tema tertentu yang sudah ditetapkan oleh
guru. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa aspek yang dinilai yang merupakan indikator dari ketrampilan
berbicara siswa meliputi (1) kesesuaian ide/gagasan dengan isi yang disampaikan
(Appropriateness), (2). Kelancaran (Fluency), (3). Gaya pengucapan (Diction),
(4). Ketepatan berekspresi (Expression), (5). Ketepatan struktur kalimat yang
dipakai (Grammar), dan (6). Ketepatan pilihan kata (Vocabulary).
Sedangkan untuk mengetahui penguasaan tata bahasa dari
siswa tes penguasaan tata bahasa merupakan instrument untuk dapat menjaring
data siswa tentang penguasaan tata bahasa (grammar). Adapun aspek-aspek yang
akan diukur meliputi kemampuan pemahaman dan dan penggunaan dari kata benda
(noun), kata ganti (pronoun), kata kerja (verb), kata depan (preposition), kata
penghubung (conjunction), kala kini (simple present tense) dan kala lampau
(simple past tense). Kisi-kisi dan soal dapat dilihat pada lampiran I.
Adapun uji coba instrumen peneliti melaksanakannya pada
siswa-siswi SMP Negeri 4 Gombong kelas 9a. jumlah total siswa yang dipergunakan
untuk uji coba instrumen sebanyak 40 siswa.
2. Uji Coba Alat Tes
Samsi Haryanto (2003:41) mengatakan bahwa masalah
validitas adalah mempersoalkan adanya ketepatan dari suatu alat ukur yang
kemudian dipakai untuk mengukur suatu aspek yang ingin diukur.
Adapun instrument yang dipergunakan dalam penelitian
eksperimen ini adalah butir-butir soal tes dari kompetensi mata pelajaran
bahasa Inggris. Maka uji validitas yang digunakan adalah validitas isi dan
validitas butir soal.
a. Validitas Isi
Validitas isi dilakukan untuk
mengukur jangkauan materi yang akan diteskan agar dapar mengukur apa yang
seharusnya diukur. Dalam hal ini penyusunan soal berdasarkan kisi-kisi soal
yang sesuai.
b. Analisis Butir Soal
Analisis butir soal untuk mengetahui
tingkat kesukaran dan daya beda alat tes yang akan digunakan. Hal ini dapat
dilakukan dengan program iteman atau program anates
c. Validitas Butir Soal
Sedangkan untuk menguji validitas
butir soal, maka skor-skor yang ada pada setiap butir yang dimaksud akan
dikorelasikan dengan skor total. Skor butir soal dipandang sebagai nilai X dan
skor total dipandang sebagai Y. Adapun uji yang digunakan ole peneliti adalah Korelasi
Product Moment dari Pearson yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (1998:72)
dengan rumus, yaitu:
rxy = 

Keterangan :
rxy:Korelasi Product Moment
N:Banyanknya Siswa
x: Skor Butir Soal
y: Skor Total
∑xy: Jumlah (x) (y)
Jika
rxy hitung lebih besar dari rxy tabel maka item dinyatakan valid dan juga
sebaliknya. Hasil analisis validitas butir soal tes penguasaan tata bahasa
menunjukkan bahwa dari 30 butir soal terdapat 28 butir soal dalam klasifikasi valid,
karena nilai r hitung > r total dimana
r tabel = 0,312. Terdapat 2 butir soal dalam klasifikasi tidak
valid , karena nilai r hitung
< r total . Dari 28 butir soal tes penguasaan tata bahasa yang
dinyatakan valid, setelah dikonsultasikan dengan validitas isi (dikonsultasikan
dengan kisi-kisi soal) maka hanya 25 butir soal yang dijadikan instrument
penelitian penguasaan tata bahasa siswa
Dari
hasil uji instrument praktik berbicara ( berbagi/sharing ) hasil analisis
validitas butir soal menunjukkan bahwa dari 6 butir soal praktik, sebanyak 6
butir soal dalam klasifikasi valid,
karena nilai r hitung > r tabel dimana r tabel
= 0,312 (perhitungan selengkapnya pada lampiran 15).
d. Uji Reliabilitas Tes
Dalam
penelitian ini akan digunakan rumus Spearman-Brown
(Rumus
Belah Dua)
rxy = 

rII = 

Keterangan:
rxy = Reliabilitas Belahan
rII = Reliabilitas Instrumen
(Suharsimi Arikunto,
2006:109)
Dari
hasil analisis reliabilitas instrument, didapatkan nilai reliabilitas (rII)=0,926.
Setelah dikomultasikan dengan tabel interprestasi reliabilitas instrument maka
instrument penguasaan tata bahasa (grammar) siswa masih klasifikasi
reliabilitasnya tinggi.
Sedangkan
hasil analisis reliabilitas instrument pratik berbicara (berbagi/sharing)
menggunakan rumus alpha, didapatkan nilai reliabilitas (rII)=0,9991.
Setelah dikonsultasikan dengan tabel interprestasi reliabilitas instrument maka
instrument pratik berbicara (berbagi/sharing) masuk klasifikasi reliabilitasnya
tinggi.
3. Instrumen Motivasi Belajar
Dalam penyusunan instrumen motivasi belajar siswa terdiri
dari 46 butir pertanyaan dengan model skala likert. Pernyataan dalam angkat
tersebut terdiri dari butir – butir pernyataan positif dan negatif.
Tabel kisi – kisi Instrumen Motivasi Belajar Siswa
Variabel
|
Indikator
|
Item
+
|
Item
-
|
Jumlah
|
1.
Ketekunan dalam belajar
2.
Ulet dalam menghadapi kesulitan
3.
Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar
4.
Berprestasi dalam belajar
5.
Mandiri dalam belajar
|
· Kehadiran
dalam sekolah
· Mengikuti PBM
di kelas
· Belajar di
rumah
· Sikap terhadap
kesulitan
· Usaha
mengatasi kesulitan
· Kebiasaan
dalam mengikuti pelajaran
· Semangat dalam
mengikuti PBM
· Keinginan
untuk berprestasi
· Kualifikasi
hasil
· Penyelesaian
tugas/PR
· Menggunakan
kesempatan di luar jam pelajaran
|
1, 3, 5
6, 8
10, 12, 14
16, 18, 20
22
24, 26
28, 30
32, 33
35, 37
39, 41
43, 45
|
2, 4
7,9
11, 13, 15
17, 19, 21
23
25, 27
29, 31
34
36, 38
40, 42
44, 46
|
5
4
6
6
2
4
4
3
4
4
4
|
JUMLAH
|
46
|
Instrumen
adalah alat pengumpul data dimana sebelum digunakan untuk
mengumpulkan data, instrumen peru diuji cobakan terlebih dahulu agar kesalahan
dapat dihindarkan. Tujuan uji coba instrumen adalah untuk mengidentifikasikan
soal – soal yang lemah atau cacat atau jawaban pengecoh yang kurang berfungsi
(Sumadi Suryabrata,2004:35).
Uji coba
dilakukan dilakukan secara langsung pada siswa dan sekolah yang homogen dengan
keadaan siswa yang akan diteliti.
4. Uji Coba Instrumen Motivasi Belajar Siswa.
a.
Pengujian
Validitas
Tujuan
diadakannya uji validitas adalah untuk mengetahui dan mengungkap data secara
tepat dan sesuai dengan apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitas butir
untuk menyeleksi butir-butir dalam instrumen sehingga diketahui bagian-bagian
yang harus direvisi, dihilangkan atau dipertahankan. Dalam hal ini rumus yang
digunakan untuk mengukur validitas butir adalah korelasi Product Moment dari
Pearson.
rxy =

Keterangan
:
N = Jumlah subyek
rxy = Koefisien korelasi antara
variabel x dan variabel y
∑X =
Jumlah skor butir x
∑Y =
Jumlah skor butir y
∑XY =
Jumlah hasil kali butir x dan y
∑X2 = Jumlah kuadrat butir x
∑Y2 = Jumlah kuadrat butir y
(∑X)2 = Hasil kuadrat dari jumlah skor butir x
(∑Y)2 =
Hasil kuadrat dari jumlah skor butir y
b.
Pengujian
Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur tingkat
keajegan dari instrumen atau untuk mengetahui konstanta dari instrumen yang
ada. Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus koefisian Alpha Cronbach yang
dikembangkan oleh Frederick G Brown (Sutrisno Hadi, 2003: 77).
Rii
=



Keterangan
:
Rii = Reliabilitas yang dicari
K = Jumlah Item
∑ab2 = Jumlah semua varians item
at2 =
Varians total
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini metode
yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu tes dan non tes. Tes digunakan untuk
mengumpulkan data hasil belajar bahasa Inggris siswa
sedangkan non tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai motivasi belajar
siswa. Untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran yang dipilih
digunakan lembar observasi. belajar sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar siswa.
G. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan
yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau untuk menguji hipotesis
yang dirumuskan dalam proposal. Adapun analisisnya antara lain sebagai berikut:
- Uji kesetaraan , Uji t antara kelas eksperimen dan kelas control dengan hasil pembelajaran sebelum adanya perlakuan.
- Uji persyaratan
a. Uji Normalitas dengan rumus Lifefors
Penelitian menggunakan uji normalitas
untuk menguji apakah data yang diperoleh dari penelitian eksperimen merupakan
data dalam distribusi normal atau tidak. Dalam penelitian disini uji normalitas
yang digunakan adalah Uji Lifefors pada taraf signifikansi (
) 0,05. Tentang hal yang di uji adalah hipotensi nol (Ho)
yang mana menyatakan bahwa sampel berasal dari populasi yang memiliki
distribusi normal. Sedangkan diperoleh Lo < Lt maka Ho diterima, dan seandainya Lo
> Lt maka
Ho ditolak.

b. Uji Homogenitas Varians dengan Rumus = SD
besar
SD kecil
Penelitian menggunakan Uji Homogenitas
untuk bisa menguji kesamaan varians antara dua kelompok yang dibandingkan. Kemudian untuk bisa
menguji apakah kelompok tersebut homogeny ataupun tidak, maka peneliti
melakukannya dengan teknik Analisis Varian Homogenitas Uji F. Rumus yang dipergunakan
dalam Uji F yaitu:
Fht =
atau Fht = 


(Sudjana, 1982:
242)
Adapun kriteria pengujian yang
dipergunakan adalah pada taraf signifikansi 5% yang memiliki arti bahwa data
bisa dikatakan homogeny jika Fhitung < Ftabel.
Kemudian setelah penelitian melakukan
pengujian prasyaratan hipotesis, maka dapat dilanjutkan dengan menganalisa data
untuk bisa mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran Think Pair and
Share dan Metode Konvensional (Ceramah bervariasi) terhadap prestasi belajar
bahasa Inggris ditinjau dari aktivitas pembelajaran menggunakan teknik analisis
varians (Anava).
- Uji hipotesis
Adapun
rancangan analisis anava dua jalur seperti pada tabel berikut di bawah ini:
Metode Pembelajaran
|
Motivasi Belajar
|
|
Tinggi (B1)
|
Rendah (B2)
|
|
Pemb. Kontekstual (A1)
|
A1 B1
|
A1 B2
|
Pemb. Konvensional (A2)
|
A2 B1
|
A2 B2
|
Keterangan:
- A1 B1 : Kelompok siswa dengan motivasi belajar tinggi diberi perlakuan pembelajaran kontekstual.
- A2 B1 : Kelompok siswa dengan motivasi belajar tinggi diberi perlakuan pembelajaran konvensional
- A1 B2 : Kelompok siswa dengan motivasi belajar rendah diberi perlakuan pembelajaran kontekstual
- A2 B2 : Kelompok siswa dengan motivasi belajar rendah diberi perlakuan pembelajaran konvensional
Adapun untuk menguji hipotesis
digunakan anava 2 jalur
Uji analisis hipotesis digunakan oleh
peneliti untuk dapat mengolah data dari hasil penelitian yang berupa angka,
sehingga bisa menghasilkan yang kemudian dapat memberikan jawaban atas rumusan
masalah yang diajukan dengan cara yang logis dan juga sistematis.
a. Uji Anava 2 Jalur
Penelitian menggunakan teknik analisis
varians (ANAVA) dua jalur pada taraf signifikansi
= 0,05 pada pengujian
hipotesis. Adapun Hipiseis Statistik yang diajukan oleh peneliti dalam
penelitian eksperimen ini adalah sebagai berikut:


H1 : µA1 ≠ µA2

H1 : µB1 ≠ µB2

H1 : A × B ≠ 0
Keterangan:
µA1 = Penggunaan Metode Pembelajaran Think
Pair and Share
µA2 = Penggunaan Metode Konvensional
(Ceramah bervariasi)
µB1 = Aktivitas Pembelajaran Tinggi
µB2 = Aktivitas Pembelajaran Rendah
A = Metode Pembelajaran
B = Aktivitas Pembelajaran
Analisis
Varian (ANAVA) 2 jalur dipergunakan untuk dapat menyelidiki dua pengaruh utama
yaitu perbedaan pembelajaran dengan metode pembelajaran Think Pair and Share
terhadap prestasi belajar bahasa Inggris dan kemampuan berbicara
(berbagi/sharing) bahasa.
Pengaruh
interaksi adalah pengaruh pembelajaran dengan menggunakan Metode Pembelajaran
Think Pair and Share dan aktivitas pembelajaran terhadap prestasi belajar
bahasa Inggris.
b. Uji Lanjut
Uji
lanjut dilakukan dengan Uji Scheffe
untuk bisa mengetahui kelompok mana yang lebih unggul secara signifikan. Uji
Scheffe digunakan oleh peneliti untuk bisa menguji perbedaan dua buah rata-rata
secara berpasangan (1 VS2, 1 VS3, dan 2 VS 3) dan juga perbedaan antara
kombinasi rata-rata yang kompleks (seperti (1+2)/2VS3) (Furqon,2008:213). Rumus
uji Scheffe yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:
t = 

Keterangan:
C = Nilai Kontras (perbandingan antara
rata-rata yang dibandingkan)
MSw = Rata-rata kuadrat dalam kelompok pada tabel
Anava
n = Jumlah Sampel
Nilai t yang diperoleh kemudian
dibandingkan dengan nilai kritis bagi uji Scheffe (ts) yang kemudian
ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
ts = 

(Furqon, 2008: 214)
Keterangan:
K =
Jumlah Kelompok dalam ANAVA

Dari hasil perbandingan yang ada nilai t dan ts maka,
terima Ho jika t > ts dan terima Ho jika t
< ts.
Untuk
membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan, maka setelah data dikumpulkan
dilakukan pengolahan data sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan kesimpulan
apakah hipotesis penelitian tersebut terbukti atau tidak. Untuk mencapai tujuan
tersebut maka peneliti menggunakan teknik analisis kovarian AB dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Mencari
jumlah kuadrat total (Jkt)
2.
Mencari jumlah kuadrat antar perlakuan A (JkA)
JkA =
JKR

3.
MencarijJumlah kuadrat antar B (JkB)
JkB =
JKR

4.
Mencari jumlah kuadrat antar AB (JkAB)
JkAB =
- JKR

5.
Mencari jumlah kuadrat antar subyek (JKs)
JkS =
JKR

6.
Mencari jumlah kuadrat antar residu (Jkres)
Jkres
= JkT – JkA
– JkB – JkAB - JkS
7.
Menghitung
derajat kebebasan (db)
Derajat
kebebasan residu (dbres)
dbres = dbt – dbA –
dbB – dbAB – dbS
8.
Menghitung
rata-rata kuadrat
RJkres =

9. Menghitung Rasio F
FS =

Berikut diberikan rangkuman
Anava dua jalur seperti pada tabel 1 pada bab III di bawah ini:
Sumber
|
Jk
|
db
|
Rk
|
Fe
|
Ft
|
Interpretasi
|
Antar A
|
|
|
|
|
|
Signifikan
|
Antar B
|
|
|
|
|
|
Signifikan
|
Interaksi (AxB)
|
|
|
|
|
|
Signifikan
|
Dalam (d)
|
|
|
|
|
|
Signifikan
|
Total
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono. 2010. Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi Paikem. Yogyakarta. Penerbit: Pustaka Pelajar
Ary,Donald, dkk. 2010. Introduction to Resarch in
Education. Surabaya. Usaha Nasional (Karya terjemahan Arif Furchan).
David W.Johnson, dkk. 2010. Collaborative
Learning Strategi Pembelajaran untuk Sukses Bersama. Bandung. Penerbit:
Nusa Media.
Depdiknas, 2002. Pendekatan Kontekstual (Cotextual Teaching and Learning)/
(Pembelajaran Kontekstual)
Elaine B. Johson,2010. Pembelajaran Kontekstual Contextual Teaching and Learning.
Bandung. Penerbit: Kaifa.
Masidjo,1995, Penilaian Pencapaian Hasil
Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta.Penerbit: Kanisius.
Melvin L. Silbermen, 2010. Active
Learning. Bandung. Penerbit: Nusamedia dan Penerbit: Nuansa.
Mico Pardosi. 2004. Belajar Sendiri Internet.
Surabaya. Penerbit: Indah.
Nasution,S. 2008. Metode Reearch. Jakarta.
PT Bumi Aksara
Robert L. Slavin.2010. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung.
Penerbit: Nusa Media
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung. Penerbit
Alfabeta.
Sugiyono, 2007. Statistik untuk Penelitian.
Bandung. Penerbit Alfabeta.
Suharsismi Arikunto,2009. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara.
Lampiran
I
a). Tes
Penguasaan Tata Bahasa
Pengumpulan
data tentang penguasaan tata bahasa digunakan teknik test, yang menggunakan
materi pelajaran adaptif yang mendukung dan
relevan dengan penelitian eksperimen tentang Bahasa Inggris.
Tes
menggunakan test objektif dengan empat alternatif jawaban, dengan jumlah soal sebanyak 30 item.
Setelah peneliti melakukan uji instrument pada sampel 40 siswa, ada beberapa
soal yang tidak valid, yaitu soal dengan no. 20 dan 25. Setelah konsultasikan
dengan validitas isi, maka dalam hal ini penelitian selanjutnya digunakanlah
instrument penguasaan tata bahasa dengan jumlah soal 25 item. Adapun kisi-kisi
test tata bahasa ditampilkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 1: Kisi-kisi soal Penguasaan Tata Bahasa Inggris
N0
|
Aspek
yang dinilai untuk kemampuan Tata Bahasa (Grammar)
|
Nomor
Item
|
Jumlah
butir soal
|
|
Kemampuan
Pemahaman dan Penggunaan
|
|
|
1.
|
Noun
(Kata Benda)
|
1,2
|
2
|
2.
|
Pronoun
(Kata Ganti)
|
3,4,5
|
3
|
3.
|
Verb
(Kata Kerja)
|
6,7,8
|
3
|
4.
|
Preposition
(Kata Depan)
|
9,10,11
|
3
|
5.
|
Conjunction
(Kata Penghubung)
|
12,13,14
|
3
|
6.
|
Simple
Present tense (Kala kini)
|
15,16,17,18,19,20
|
6
|
7.
|
Simple
Past tense (Kala lampau)
|
21,22,23,24,25
|
5
|
Jumlah
|
25
|
b). Test Kemampuan
Berbicara Bahasa Inggris
Dalam Pembelajaran Kontekstual siswa dituntut untuk
mempunyai kemampuan berpikir sekaligus berbagi ide/gagasan dalam bahasa
Inggris. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode test
performansi (tindakan). Tes performansi ini meliputi test berbicara sesuai
dengan unsur kalimat, pola kalimat dan jenis kalimat sesuai dengan tenses, Simple Present tense dan Simple Past tense.
Aspek yang akan dinilai oleh peneliti, yang merupakan indikator dari
ketrampilan berbagi ide/gagasan dengan kemampuan berbicara meliputi (1).
Kesesuaian ide dengan isi yang disampaikan (Appropriateness), (2). Kelancaran
(Fluency), (3). Gaya pengucapan (Diction), (4). Ketepatan berekspresi
(Expression), (5). Ketepatan struktur kalimat yang dipakai (Grammar), dan (6).
Ketepatan pilihan kata (Vocabulary). Secara lengkap kisi-kisi test ketrampilan
berbicara ini dapat dilihat pada lampiran 3, sedangkan tes atau instrument
ketrampilan berbicara adalah sebagai berikut.
Soal Tes Pratik Kemampuan berbicara (Speaking Ability )
Instruction
1. Describe your pet in front
of the class. If you don’t have one,
describe an animal you would like to have.
2. The Generic Structure are:
a.
Identification : identifies your pet/an animal to be described
b.
Description : describes parts, qualities, characteristics
3. About 3-5 minutes
4. Aspects for evaluation are:
a.
Appropriateness
b.
Fluency
c.
Diction
d.
Expression
e.
Grammar
f.
Vocabulary
Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran ketrampilan berbicara diarahkan dua
hal:
1. Penilaian produk (hasil)
diarahkan pada pengukuran ketrampilan siswa dalam mendeskripsikan binatang
kesayangan mereka.
2. Penilaian proses diarahkan pada
keaktifan siswa mengikuti pembelajaran.
Rubrik Penilaian
Mendeskripsikan Binatang Kesayangan
No.
|
Aspek yang Dinilai
|
Tingkat Skala
|
1
|
Kesesuaian ide dengan isi yang disampaikan (tidak sesuai sama
sekali --- sangat sesuai)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
2
|
Kelancaran (terbata-bata --- lancar sekali)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
3
|
Gaya pengucapan (kaku --- wajar)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
4
|
Ketepatan berekspresi (tidak tepat --- tepat sekali)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
5
|
Ketepatan struktur kalimat yang dipakai (tidak tepat --- tepat
sekali)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
6
|
Ketepatan pilihan kata (kosakata) yang digunakan (tidak tepat ---
tepat sekali)
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
|
Jumlah Skor
|
|
Catatan : Skor maksimal 60
c) Tes Kemampuan
Membaca Bahasa Inggris
1) Kisi kisi terlampir
2) Soal dan kunci terlampir
Petunjuk
penilaian:
a.
Jika menjawab benar diberikan skor 1
b.
Skor maksimal 50
c.
N
= (Jumlah skor benar yang diperoleh )
x 100
Jumlah skor maksimal
Lampiran II
KISI – KISI ANGKET
VARIABEL
|
INDIKATOR
|
ITEM +
|
ITEM -
|
JUMLAH
|
6.
Ketekunan dalam belajar
7.
Ulet dalam menghadapi kesulitan
8.
Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar
9.
Berprestasi dalam belajar
10.
Mandiri dalam belajar
|
· Kehadiran di
sekolah
· Mengikuti PBM
di kelas
· Belajar di
rumah
· Sikap terhadap
kesulitan
· Usaha
mengatasi kesulitan
· Kebiasaan
dalam mengikuti pelajaran
· Semangat dalam
mengikuti PBM
· Keinginan untuk
berprestasi
· Kualifikasi
hasil
· Penyelesaian
tugas/PR
· Menggunakan
kesempatan di luar jam pelajaran
|
1, 3, 5
6, 8
10, 12, 14
16, 18, 20
22
24, 26
28, 30
32, 33
35, 37
39, 41
43, 45
|
2, 4
7,9
11, 13, 15
17, 19, 21
23
25, 27
29, 31
34
36, 38
40, 42
44, 46
|
5
4
6
6
2
4
4
3
4
4
4
|
JUMLAH
|
46
|
Pedoman penskoran
Pengkategorian
didasarkan pada daerah kurva normal dibagi menjadi lima
kategori seperti
dikemukakan oleh Glass & Hopkins (1984: 67) yaitu:
(M + 1,5 SD) ke atas :
Sangat Tinggi
(M + 0,5 SD) s.d. < (M + 1,5 SD) :
Tinggi
(M – 0,5 SD) s.d. < (M + 0,5 SD) :
Cukup
(M – 1,5 SD) s.d. < (M - 0,5 SD) :
Rendah
Kurang dari (M – 1,5 SD) :
Sangat Rendah
Skor rerata ideal = skor maksimal + skor
minimal
2
Standard Deviasi (SD) = skor maksimal + skor minimal
6
·
Skor maksimal = 46 x 5 = 230
·
Skor minimal = 46 x 1 = 46
Jadi: Median =
(230 + 46) = 138
2
SD = (230 - 46)
= 31
6
NO
|
SKOR
|
KRITERIA
|
1
|
184,5 keatas
|
Sangat
tinggi
|
2
|
153,5 s.d.
< 184,5
|
Tinggi
|
3
|
122,5 s.d.
< 153,5
|
Cukup
|
4
|
91,5 s.d.
< 122,5
|
Rendah
|
5
|
Kurang dari 91,5
|
Sangat Rendah
|
ANGKET
MOTIVASI BELAJAR SISWA
PETUNJUK
PENGISIAN :
Pilihlah dan berilah tanda (√) pada kolom di sebelah kanan pernyataan sesuai dengan
sikap anda :
SS : Jika anda sangat setuju dengan
pernyataan tersebut
S : Jika anda setuju dengan pernyataan
tersebut
R : Jika
anda ragu-ragu
dengan pernyataan tersebut
TS : Jika anda tidak setuju dengan
pernyataan tersebut
STS : Jika anda sangat tidak setuju dengan
pernyataan tersebut
NO
|
PERNYATAAN
|
SS
|
S
|
R
|
TS
|
STS
|
1
|
Saya hadir di sekolah sebelum bel masuk berbunyi
|
|
|
|
|
|
2
|
Jika malas, saya tidak masuk sekolah
|
|
|
|
|
|
3
|
Saya merasa rugi jika tidak masuk sekolah
|
|
|
|
|
|
4
|
Jika guru sudah lebih dulu berada di sekolah, maka saya cenderung
memilih tidak masuk
|
|
|
|
|
|
5
|
Saya berusaha untuk selalu hadir di sekolah
|
|
|
|
|
|
6
|
Saya mengikuti pelajaran di sekolah sampai jam pelajaran selesai
|
|
|
|
|
|
7
|
Saya tidak mengikuti pelajaran , jika itu pelajaran yang tidak
saya sukai
|
|
|
|
|
|
8
|
Saya tetap mengikuti pelajaran siapapun guru yang mengajarnya
|
|
|
|
|
|
9
|
Saya keluar kelas pada saat pelajaran berlangsung
|
|
|
|
|
|
10
|
Saya belajar di rumah dengan jadwal belajar yang teratur
|
|
|
|
|
|
11
|
Saya baru belajar di rumah jika ada tugas atau ulangan saja
|
|
|
|
|
|
12
|
Untuk lebih memahami pelajaran, saya sempatkan belajar di rumah
|
|
|
|
|
|
13
|
Jika sudah tiba di rumah, saya malas untuk belajar.
|
|
|
|
|
|
14
|
Saya merasa perlu untuk belajar kembali di rumah.
|
|
|
|
|
|
15
|
Saya suka mengulur-ulur waktu belajar di rumah.
|
|
|
|
|
|
16
|
Saya merasa tertantang untuk mampu mengerjakan tugas yang sulit.
|
|
|
|
|
|
17
|
Saya akan mengabaikan pelajaran, jika pelajaran itu sulit untuk
dimengerti.
|
|
|
|
|
|
18
|
Saya tidak cepat putus asa ketika mengalami kesulitan dalam
belajar.
|
|
|
|
|
|
19
|
Saya cenderung malas untuk belajar, jika menghadapi kesulitan
dalam belajar.
|
|
|
|
|
|
20
|
Saya belajar sampai larut malam untuk menyelesaikan tugas sekolah
dengan baik.
|
|
|
|
|
|
21
|
Saya membiarkan saja kesulitan yang saya temukan dalam belajar.
|
|
|
|
|
|
22
|
Saya mengajak teman untuk berdiskusi jika menemukan kesulitan
dalam belajar.
|
|
|
|
|
|
23
|
Jika saya sudah mencoba dan tidak dapat menghadapi kesulitan, maka
saya tidak mau berusaha lagi.
|
|
|
|
|
|
24
|
Saya memperhatikan pelajaran yang diberikan guru dengan baik.
|
|
|
|
|
|
25
|
Saya ngobrol dengan teman sebangku, ketika guru sedang mengajar.
|
|
|
|
|
|
26
|
Saya menyimak penjelasan guru dari awal sampai akhir pelajaran.
|
|
|
|
|
|
27
|
Saya mengerjakan pekerjaan lain pada saat guru mengajar.
|
|
|
|
|
|
28
|
Saya bersemangat memperhatikan guru mengajar.
|
|
|
|
|
|
29
|
Saya merasa lelah mengikuti pelajaran di kelas
|
|
|
|
|
|
30
|
Saya selalu mencoba mengkonsentrasikan perhatian terhadap
pelajaran.
|
|
|
|
|
|
31
|
Saya kurang bersemangat mengikuti pelajaran, jika materi yang
disampaikan guru tidak saya pahami
|
|
|
|
|
|
32
|
Mencapai prestasi yang tinggi dalam belajar adalah keinginan saya.
|
|
|
|
|
|
33
|
Saya ingin berprestasi yang lebih baik dari sebelumnya.
|
|
|
|
|
|
34
|
Melihat kemampuan, saya tidak berkeinginan untuk berprestasi dalam
belajar.
|
|
|
|
|
|
35
|
Saya puas, jika hasil prestasi lebih baik dari sebelumnya.
|
|
|
|
|
|
36
|
Saya menerima seberapapun hasil prestasi dalam belajar.
|
|
|
|
|
|
37
|
Saya telah puas terhadap prestasi, jika nilainya tidak ada yang
merah.
|
|
|
|
|
|
38
|
Saya tidak ,mempunyai target dalam mencapai prestasi belajar.
|
|
|
|
|
|
39
|
Saya mengerjakan tugas dengan usaha sendiri.
|
|
|
|
|
|
40
|
Saya berusaha mengerjakan tugas dengan cara menyontek pekerjaan
teman.
|
|
|
|
|
|
41
|
Saya dapat mengerjakan tugas/PR tanpa bantuan orang lain.
|
|
|
|
|
|
42
|
Saya mengerjakan tugas dengan asal-asalan yang penting selesai.
|
|
|
|
|
|
43
|
Saya mengisi jam pelajaran kosong dengan mengerjakan tugas yang
belum selesai.
|
|
|
|
|
|
44
|
Saya merasa tidak perlu untuk belajar di luar jam pelajaran.
|
|
|
|
|
|
45
|
Jika ada pelajaran kosong, maka saya mempelajari kembali pelajaran
yang sebelumnya.
|
|
|
|
|
|
46
|
Saya merasa senang ngobrol di kantin, jika ada jam pelajaran
kosong.
|
|
|
|
|
|
Sangat menarik Bapak, namun banyak yang tidak terbaca rumusnya....
BalasHapus